MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Suasana haru menyelimuti prosesi Wisuda ke-94 Periode IV Tahun 2026 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bukan sekadar seremoni pelepasan lulusan, momen wisuda kali ini menjadi ruang bagi para wisudawan untuk kembali mengingat satu sosok yang berada di balik keberhasilan mereka: orang tua.
Di hadapan ratusan wisudawan dan ribuan orang tua serta wali yang hadir, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., meminta seluruh wisudawan untuk berdiri dan berbalik menghadap orang tua yang berada di barisan belakang. Minggu, 6 September 2026.
Rektor kemudian mengajak para wisudawan menundukkan kepala. Dalam suasana penuh khidmat itu, mereka diajak mendoakan kedua orang tua yang selama kurang lebih 22 tahun telah mendampingi, membesarkan, mendidik, sekaligus menjadi sumber kekuatan hingga anak-anak mereka berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana.
"Jangan pernah melupakan jasa orang tua. Mereka yang mengantarkan kalian sampai pada titik ini," pesan Rektor.
Pesan tersebut semakin terasa ketika Rektor kemudian memanggil salah satu wisudawan yang memiliki perjalanan hidup penuh inspirasi. Ia adalah Rizki Ramadhani Pratama, mahasiswa Fakultas Psikologi yang akrab disapa Kiki.
Kiki dikenal sebagai konten kreator yang aktif membagikan berbagai informasi seputar kehidupan dan aktivitas kampus. Bahkan sebelum menyandang gelar sarjana, ia telah mampu memiliki penghasilan dari aktivitasnya sebagai kreator konten.
Namun di balik pencapaiannya itu, tersimpan kisah perjuangan yang begitu dalam.
Di hadapan para wisudawan dan ribuan pasang mata orang tua wali, Kiki diminta Rektor untuk menceritakan sedikit perjalanan hidupnya.
Dengan suara penuh haru, Kiki mengisahkan pesan almarhumah ibunya yang hingga kini terus ia pegang. Ada dua hal yang ingin dituntaskannya, yakni menyelesaikan pendidikan sarjana dan mengajak sang ayah menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.
Kiki sebelumnya juga telah mengajak ibunya untuk menunaikan ibadah umrah. Namun takdir berkata lain. Sang ibu wafat di Tanah Suci ketika sedang menjalankan ibadah umrah bersama Kiki.
Kini, satu per satu pesan sang ibu berhasil ia tuntaskan.
Kiki berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya. Pada momen wisuda tersebut, ia juga hadir bersama sang ayah untuk melanjutkan perjuangan dan mewujudkan pesan ibunya.
Kisah tersebut sontak membuat suasana wisuda semakin emosional. Banyak wisudawan dan orang tua tampak larut dalam keharuan. Bagi sebagian orang, cerita Kiki menjadi pengingat bahwa di balik toga dan gelar akademik, terdapat doa, pengorbanan, dan perjuangan panjang orang tua.
Melihat perjuangan tersebut, Rektor UIN Malang secara spontan memberikan hadiah istimewa kepada Kiki berupa beasiswa kuliah S2 gratis di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Beasiswa tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan dan prestasi Kiki, sekaligus menjadi motivasi bagi seluruh wisudawan agar terus berjuang dan tidak pernah melupakan jasa orang tua.
"Bahagiakanlah orang tua kalian. Jangan menunggu sukses," tegas Rektor.
Menurutnya, kisah Kiki dapat menjadi contoh bahwa kesuksesan tidak harus menunggu seseorang menyelesaikan seluruh cita-citanya. Selama memiliki kesempatan, orang tua harus dibahagiakan dan dihormati.
"Contohlah Kiki. Sebelum wisuda, dia sudah memiliki penghasilan sebagai seorang content creator. Dia juga memberikan informasi seputar kampus dengan baik," ungkapnya.
Rektor menegaskan bahwa dirinya merasa bangga terhadap seluruh mahasiswa UIN Malang yang telah berjuang menyelesaikan pendidikan.
Ia berharap para lulusan tidak berhenti setelah menerima ijazah. Gelar sarjana harus menjadi awal perjalanan baru untuk memberikan manfaat yang lebih luas, membahagiakan keluarga, serta mengangkat derajat orang-orang yang selama ini telah mendukung perjuangan mereka.
"Saya bangga dengan semua mahasiswa saya. Semoga Allah memberikan jalan kemudahan kepada kalian untuk membawa keluarga menuju derajat yang lebih tinggi," tutur Rektor.
Wisuda pun bukan lagi sekadar tentang toga, ijazah, dan gelar akademik. Di balik setiap nama yang dipanggil ke panggung, ada cerita panjang tentang perjuangan keluarga.
Kiki telah mengingatkan semuanya: kesuksesan seorang anak bukan hanya miliknya sendiri. Di dalamnya ada doa orang tua yang tak pernah terlihat, tetapi selalu menyertai.