Skip ke Konten

Prof. Dr. H. Bisri Mustofa Dikukuhkan sebagai Guru Besar UIN Malang, Dorong Transformasi Pembelajaran Nahwu Berbasis Makna

23 September 2026 oleh
Prof. Dr. H. Bisri Mustofa Dikukuhkan sebagai Guru Besar UIN Malang, Dorong Transformasi Pembelajaran Nahwu Berbasis Makna
Faiqotul himmah
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali mengukuhkan Guru Besar dalam rangkaian kegiatan akademik yang digelar pada Rabu, 23 September 2026. Salah satu Guru Besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. H. Bisri Mustofa, M.A., yang menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Dari I‘rāb ke Makna: Menata Ulang Pembelajaran Nahwu untuk Pendidikan Bahasa Arab Abad ke-21.”

Dalam orasinya, Prof. Bisri menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Arab, khususnya ilmu nahwu, tidak seharusnya berhenti pada kemampuan menghafal kaidah dan menentukan kedudukan kata dalam sebuah kalimat. Menurutnya, nahwu perlu ditempatkan sebagai sarana untuk memahami bagaimana struktur bahasa membangun makna.

“Ilmu nahwu bukanlah tujuan akhir. Ia adalah jalan (wasīlah) menuju pemahaman Al-Qur’an, kedalaman berpikir, dan kematangan intelektual,” ungkap Prof. Bisri dalam orasi ilmiahnya.

Ia menjelaskan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi medium untuk membangun realitas, mencerminkan cara berpikir, sekaligus mengantarkan manusia pada pemahaman yang lebih mendalam. Dalam konteks bahasa Arab, struktur sintaksis dan i‘rāb memiliki peran penting karena makna sebuah kalimat tidak hanya ditentukan oleh kosakata, tetapi juga oleh hubungan gramatikal antarunsurnya.

Prof. Bisri kemudian mengajak sivitas akademika untuk melihat kembali pembelajaran nahwu yang selama ini cenderung berorientasi pada hafalan. Menurutnya, pembelajaran yang hanya menekankan pertanyaan seperti “apa fungsi i‘rāb?” atau “apa ‘āmil dalam kalimat?” berpotensi membuat mahasiswa memahami nahwu secara mekanis tanpa mampu menghubungkannya dengan konteks penggunaan bahasa.

Sebagai alternatif, ia menawarkan pendekatan yang dimulai dari pertanyaan “mengapa”, bukan hanya “bagaimana”. Mahasiswa tidak cukup mengetahui bahwa suatu kata berstatus raf‘, naṣb, atau jarr, tetapi juga perlu memahami alasan penggunaan bentuk tersebut serta implikasi maknanya.

Gagasan tersebut dicontohkan melalui kajian terhadap QS. Al-Baqarah ayat 201. Melalui ayat tersebut, pembelajaran nahwu dapat diarahkan untuk melihat hubungan antara struktur bahasa dan pesan yang disampaikan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mampu mengidentifikasi fungsi sintaksis, tetapi juga memahami nilai dan konteks yang terkandung di dalam struktur bahasa.
“Setiap harakat dalam Al-Qur’an bukanlah tanda mati, melainkan denyut makna yang hidup,” tegasnya.
Prof. Bisri menawarkan enam prinsip strategis untuk menata kembali pembelajaran nahwu di era pendidikan abad ke-21. Keenam prinsip tersebut meliputi pembelajaran yang dimulai dari pertanyaan “mengapa”, integrasi kitab klasik dengan pendekatan modern, latihan berjenjang dan autentik, paparan intensif terhadap input linguistik, penguatan peran dosen sebagai mediator makna, serta pembangunan mental pembelajar yang reflektif.

Menurutnya, kitab-kitab klasik seperti Al-Ājurrūmiyyah, Qaṭr al-Nadā, dan Jāmi‘ al-Durūs tetap memiliki posisi penting dalam pembelajaran bahasa Arab. Namun, warisan intelektual tersebut perlu dihadirkan dalam bentuk pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa masa kini.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk mendapatkan paparan bahasa Arab melalui berbagai sumber autentik, mulai dari Al-Qur’an, kitab turats, teks Arab kontemporer, hingga artikel akademik berbahasa Arab. Paparan tersebut dinilai dapat membantu mahasiswa membangun intuisi kebahasaan sekaligus memperkaya kosakata dan pemahaman terhadap konteks budaya.

Di tengah perkembangan teknologi dan hadirnya berbagai aplikasi pembelajaran bahasa, Prof. Bisri juga menekankan bahwa teknologi tidak seharusnya menggantikan posisi dosen. Teknologi dapat menjadi alat bantu, sementara dosen tetap memiliki peran penting sebagai fasilitator dialog, pembimbing refleksi, dan teladan dalam berpikir secara linguistik.

“Dosen bukan sekadar penyampai kaidah, tetapi mediator makna yang membantu mahasiswa menghubungkan struktur bahasa dengan konteks dan pemahaman,” jelasnya.

Pada bagian akhir orasinya, Prof. Bisri mengajak para pendidik bahasa Arab untuk membangun suasana pembelajaran yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki pemahamannya. Kesalahan dalam menentukan i‘rāb, menurutnya, tidak semestinya selalu dipandang sebagai kegagalan, tetapi dapat menjadi bagian dari proses berkembangnya cara berpikir mahasiswa.

Ia berharap gagasan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya revitalisasi pembelajaran bahasa Arab di perguruan tinggi, sehingga bahasa Arab tidak hanya dipelajari sebagai disiplin linguistik, tetapi juga menjadi sarana membentuk insan akademik yang fasih, kritis, reflektif, dan beradab.

Pengukuhan Guru Besar tersebut menjadi bagian dari komitmen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam memperkuat tradisi akademik dan kontribusi keilmuan sivitas akademika. Melalui pemikiran yang disampaikan dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. H. Bisri Mustofa, M.A. menegaskan pentingnya menghadirkan pembelajaran bahasa Arab yang mampu mempertemukan tradisi dan inovasi, struktur dan makna, serta ilmu dan nilai dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21.

di dalam Berita

Editor: Humas
Reporter: Faiq
Fotografer: Faiq
Prof. Dr. H. Bisri Mustofa Dikukuhkan sebagai Guru Besar UIN Malang, Dorong Transformasi Pembelajaran Nahwu Berbasis Makna
Faiqotul himmah 23 September 2026
Share post ini
Label
Arsip