Skip to Content

Alitha Natriezia Putri: Branding Harus Mampu Membangun Persepsi Positif

July 27, 2026 by
Alitha Natriezia Putri: Branding Harus Mampu Membangun Persepsi Positif
Ajay
LOMBOK, NTB | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY – Alitha Natriezia Putri, S.E., tampil sebagai panelis dalam International Government Public Relations (IGPR) Summit 2026 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang diinisiasi oleh Ikatan Pranata Humas (Iprahumas) NTB, Selasa 28 Juli 2026. Dalam forum internasional tersebut, Alitha membawakan materi bertajuk "Penguatan Branding dan Reputasi Perguruan Tinggi melalui Strategic Public Relations di Era Digital."
Kehadiran Alitha dalam forum tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan pentingnya peran strategic public relations dalam membangun citra, reputasi, serta daya saing Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI).

IGPR Summit 2026 mempertemukan para praktisi humas pemerintah, akademisi, peneliti, dan pemangku kepentingan di bidang komunikasi publik dari berbagai daerah dan negara. Dalam kesempatan itu, Alitha menekankan bahwa reputasi perguruan tinggi tidak dibangun melalui publikasi sesaat, melainkan melalui strategi komunikasi yang berkelanjutan, terukur, dan berorientasi pada kepercayaan publik.

"Branding perguruan tinggi bukan sekadar memperkenalkan logo atau identitas visual, tetapi bagaimana institusi mampu membangun persepsi positif, menghadirkan nilai, serta menciptakan pengalaman yang berkesan bagi seluruh pemangku kepentingan," jelas Alitha.

Menurutnya, di era digital saat ini, humas perguruan tinggi tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyebar informasi, tetapi telah berkembang menjadi strategic partner yang berperan dalam mendukung pencapaian visi dan misi institusi.

Dalam pemaparannya, Alitha menjelaskan bahwa terdapat lima tahapan penting dalam membangun branding perguruan tinggi melalui strategic public relations, yaitu Awareness, Interest, Trust, Engagement, hingga Advocacy. Melalui tahapan tersebut, humas tidak hanya berupaya meningkatkan popularitas institusi, tetapi juga membangun loyalitas sehingga sivitas akademika, alumni, mahasiswa, dan masyarakat dapat menjadi duta yang secara sukarela mempromosikan kampus.

"Target akhir dari branding bukan hanya dikenal masyarakat, tetapi menciptakan kepercayaan dan melahirkan para advocate yang dengan bangga merekomendasikan kampus kepada orang lain," ungkapnya.

Alitha juga menyoroti tantangan komunikasi di era Artificial Intelligence (AI) dan Society 5.0 yang menuntut perguruan tinggi mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi.

Menurutnya, kecepatan penyebaran informasi harus diimbangi dengan kualitas konten yang kredibel, autentik, dan memiliki nilai edukatif. Karena itu, humas dituntut mampu memanfaatkan berbagai platform digital, mengoptimalkan storytelling, visual communication, serta pengelolaan media sosial berbasis data untuk memperkuat reputasi institusi.
"Di era digital, yang menang bukan hanya institusi yang paling sering berbicara, tetapi yang mampu membangun kepercayaan, menghadirkan cerita yang bermakna, dan menciptakan hubungan yang kuat dengan publik," ujarnya.

Selain itu, Alitha menegaskan bahwa reputasi perguruan tinggi dibangun melalui kolaborasi seluruh elemen kampus. Humas berperan sebagai orkestrator komunikasi yang menyinergikan prestasi dosen, mahasiswa, alumni, inovasi riset, hingga pengabdian kepada masyarakat menjadi narasi yang mampu meningkatkan citra institusi di tingkat nasional maupun internasional.

Forum internasional tersebut juga menjadi ruang strategis untuk memperluas jejaring antarlembaga sekaligus bertukar pengalaman mengenai praktik terbaik government public relations di era transformasi digital.

Di akhir pemaparannya, Alitha mendorong agar setiap perguruan tinggi terus memperkuat fungsi kehumasan melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi digital, pengembangan komunikasi berbasis data, serta kolaborasi yang lebih luas dengan media, pemerintah, industri, dan masyarakat.

"Branding dan reputasi perguruan tinggi merupakan investasi jangka panjang. Strategic public relations harus mampu menghadirkan komunikasi yang adaptif, membangun kepercayaan publik, memperkuat reputasi institusi, serta menjadikan perguruan tinggi tetap relevan dan kompetitif di era digital," pungkasnya.



Editor: Humas
Reporter: Alita
Fotografer: Alita
Alitha Natriezia Putri: Branding Harus Mampu Membangun Persepsi Positif
Ajay July 27, 2026
Share this post
Tags
Archive