KAMPUS I | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY – Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Kajian Gender Synergy bertajuk "Mengurai Bias, Membangun Inklusi di Seluruh Rumpun Keilmuan" di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Selasa, 28 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi sivitas akademika untuk memperkuat pemahaman mengenai kesetaraan gender, inklusi, serta pengarusutamaan gender di seluruh rumpun keilmuan.

Ketua PSGAD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Hj. Aprilia Mega Rosdiana, M.Si., mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari upaya membangun kampus yang inklusif. Menurut Mega, menciptakan lingkungan akademik yang ramah bagi semua tidak hanya berkaitan dengan penyediaan ruang yang inklusif, tetapi juga membutuhkan pemahaman yang komprehensif mengenai perspektif gender equality.
Mega menjelaskan bahwa melalui Kajian Gender Synergy, peserta diajak memahami konsep kesetaraan gender, organisasi yang responsif gender, hingga penerapan perspektif gender di berbagai disiplin ilmu. Selain itu, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai isu Gender, Social Inclusion, and Disability (GSID) sebagai bagian dari upaya mengintegrasikan nilai-nilai kesetaraan dan inklusi dalam pelaksanaan pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Mega, kegiatan tersebut bukanlah akhir dari proses pembelajaran, melainkan langkah awal untuk membangun ruang-ruang akademik yang lebih adil, inklusif, dan responsif terhadap berbagai persoalan gender. Ia berharap semangat belajar yang dibangun melalui kegiatan ini dapat terus berkembang menjadi gerakan bersama dalam mewujudkan budaya akademik yang berkeadilan.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Triyo Supriyatno, M.Ag., menegaskan bahwa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki komitmen untuk membangun lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan menghargai keberagaman. Menurut Triyo, perspektif gender menjadi salah satu pendekatan penting dalam memahami berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan kampus maupun pesantren.
Triyo menjelaskan bahwa berbagai kasus kekerasan dapat terjadi tanpa memandang latar belakang pelaku maupun korban. Oleh karena itu, seluruh elemen kampus perlu memiliki kepekaan psikologis serta kemampuan melakukan pendampingan agar mampu memberikan perlindungan dan penanganan yang tepat bagi mahasiswa maupun santri yang membutuhkan.

Lebih lanjut, Triyo menilai masih banyak korban yang belum berani menyampaikan pengalaman yang dialaminya karena berbagai faktor sosial maupun budaya. Kondisi tersebut menjadi tantangan bersama yang harus direspons melalui penguatan kapasitas dosen, musyrif, musyrifah, dan seluruh pendamping mahasiswa agar mampu menciptakan ruang yang aman, terbuka, dan mendukung proses pemulihan korban.
Melalui Kajian Gender Synergy, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat budaya akademik yang inklusif, berkeadilan, dan responsif gender. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam membangun kesadaran bersama serta melahirkan agen-agen perubahan yang mampu mengintegrasikan perspektif kesetaraan gender dan inklusi di seluruh rumpun keilmuan.