MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Rasa ragu tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti. Bagi Ummu Qathrun Najwa, mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab semester 5 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, keraguan justru menjadi bagian dari perjalanan hingga akhirnya meraih Juara 2 Resensi Buku dalam Qur'anic Essay Competition 2026.
Kompetisi tersebut merupakan kerja sama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Resalat Al-Salam Foundation Mesir. Kegiatan dilaksanakan secara daring pada 21–23 Agustus 2026 dan masa pengumpulan karya kemudian diperpanjang hingga 15 September 2026.
Dalam ajang tersebut terdapat dua kategori, yakni esai dengan 36 peserta dan resensi buku yang diikuti delapan peserta. Pada kategori resensi buku, peserta diminta memilih salah satu dari delapan kitab yang telah disediakan panitia. Seluruh kitab tersebut merupakan karya cendekiawan dan pemikir Arab, Syaikh Ali Muhammad Al-Shurafa' Al-Hammadi.
Ummu memilih salah satu kitab untuk kemudian dibuat resensinya dengan mengikuti ketentuan dan template yang diberikan panitia. Karya tersebut kemudian dikirimkan melalui Google Form.
Bagi Ummu, tantangan utama dalam kompetisi tersebut terletak pada bahasa yang digunakan. Kitab yang dibaca menggunakan bahasa Arab fusha, begitu pula dengan karya resensi yang harus ditulis menggunakan bahasa Arab fusha.
Menariknya, persiapan Ummu justru berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Ia mengaku hanya membutuhkan sekitar dua hingga tiga hari untuk mempelajari terlebih dahulu bagaimana cara membuat resensi buku. Bahkan, karya tersebut baru dikerjakannya pada malam terakhir sebelum batas waktu pengumpulan.
Keterlibatan Ummu dalam kompetisi tersebut juga tidak lepas dari rasa ragu. Ketika pertama kali melihat pamflet lomba, ia merasa tertarik, tetapi pada saat yang sama muncul kekhawatiran tidak mampu menyelesaikannya.
Keraguan itu kemudian sedikit demi sedikit teratasi setelah mendapat dorongan dari ustaznya untuk mencoba mengikuti kompetisi. Meski saat itu ia juga sedang mempersiapkan lomba lain, dukungan tersebut membuatnya memberanikan diri untuk mencoba.
“Saya awalnya masih ragu karena di waktu itu saya harus mempersiapkan lomba lain. Tapi saya merasa sungkan kepada ustaz saya kalau tidak mengikuti lomba ini. Akhirnya saya paksakan di malam terakhir pengumpulan karya dan berusaha sebisa saya sampai selesai di detik-detik akhir deadline,” ungkap Ummu.
Setelah karya selesai dan dikirimkan, Ummu baru mengetahui bahwa waktu pengumpulan ternyata diperpanjang hingga 15 September. Ia sempat merasa menyesal karena telah mengerjakan karya dengan terburu-buru pada malam terakhir.
Namun, ia memilih menerima hasil dari usaha yang telah dilakukan dan menyerahkannya kepada Allah. Baginya, mengikuti perlombaan bukan semata-mata tentang mengejar kemenangan, tetapi juga tentang keberanian mencoba dan mempercayakan hasil akhirnya kepada Allah.
“Lomba apa pun itu tergantung rezeki kita. Jadi saya pasrahkan kepada Allah atas hasilnya,” tuturnya.
Hasilnya, karya yang dikerjakan di tengah keraguan dan keterbatasan waktu tersebut justru membawa Ummu meraih Juara 2 Resensi Buku. Pencapaian itu menjadi pengalaman tersendiri baginya, terutama karena kompetisi tersebut menuntut kemampuan memahami kitab berbahasa Arab sekaligus menuangkan pemahamannya kembali dalam bahasa Arab fusha.
Perjalanan Ummu menunjukkan bahwa keberanian untuk mencoba terkadang hadir setelah seseorang melewati rasa tidak percaya diri. Dari pekerjaan yang diselesaikan di detik-detik terakhir, lahir sebuah pencapaian yang sebelumnya bahkan sempat diragukannya sendiri.