MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Menjadi juara dalam sebuah kompetisi bukan hanya tentang hasil akhir. Bagi Kharisma Nawa Fitrotul Islamiyah, St. Zita Hakimatul Huwaidah, dan Nadita Leli Anatasia, perjalanan menuju Juara 2 Lomba Esai Kewirausahaan Nasional menjadi pengalaman yang mempertemukan kerja keras, tantangan, dan proses belajar hal baru.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (UM) tersebut dilaksanakan secara daring. Pada cabang lomba esai kewirausahaan, kompetisi diikuti 36 tim. Dari jumlah tersebut, hanya enam tim yang berhasil melaju ke babak final.
Tim UIN Malang menjadi salah satu dari enam finalis tersebut. Setelah melewati babak penyisihan dengan berada di urutan keenam, mereka kembali berjuang pada babak final yang digelar pada 1 September 2026. Sehari setelahnya, hasil perlombaan diumumkan dan tim UIN Malang berhasil meraih Juara 2.
Di balik capaian tersebut, terdapat proses persiapan yang tidak sederhana. Tim harus berhadapan dengan peserta dari berbagai universitas ternama sehingga mereka merasa perlu mengoptimalkan setiap proses yang dilakukan.
“Tantangannya adalah melihat pesaing kita dari berbagai universitas ternama, sehingga kami harus mengoptimalkan setiap proses dan upaya yang dilakukan," ungkap mereka.
Tantangan lain datang dari topik esai yang mereka angkat. Tim memilih fokus pada aplikasi pembelajaran bahasa isyarat, sebuah bidang yang sebelumnya belum banyak mereka kenal. Untuk menyusun gagasan tersebut, mereka tidak hanya dituntut memahami konsep, tetapi juga mulai mempelajari bahasa isyarat yang bagi mereka merupakan pengalaman baru.
Proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam mempersiapkan karya. Selama persiapan, mereka berusaha mengembangkan gagasan sekaligus memperdalam pemahaman terhadap isu yang diangkat.
Di tengah kesibukan mempersiapkan lomba, ada satu kebiasaan yang mereka jaga. Setiap hari, mereka membaca Surah Al-Fatihah yang diniatkan untuk tim dan membaca Huwal Habib dalam hitungan ganjil. Bagi mereka, amalan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar yang menyertai proses perjuangan.
“Alhamdulillah, berkat amalan dan kerja keras, kami mendapatkan hasil yang sesuai,” ujar mereka.
Bagi ketiganya, pengalaman mengikuti kompetisi tersebut tidak berhenti pada pencapaian Juara 2. Proses menghadapi peserta dari berbagai perguruan tinggi, mempelajari bahasa isyarat, hingga mempertahankan semangat selama kompetisi menjadi ruang pembelajaran tersendiri.
“Alhamdulillah, sangat menantang sekali. Semoga event ini menjadi ruang belajar untuk tim kami ke depannya," ungkap mereka.
Capaian tersebut akhirnya menjadi salah satu pengalaman yang tidak hanya menambah daftar prestasi, tetapi juga mempertemukan mereka dengan proses belajar yang sebelumnya belum pernah dijalani. Dari sebuah gagasan tentang pembelajaran bahasa isyarat, mereka belajar bahwa sebuah kompetisi juga dapat menjadi ruang untuk mengenal hal baru, menguji kemampuan, dan terus memperbaiki diri.