KAMPUS I | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY – Persiapan pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memasuki tahap krusial. Hanya menyisakan waktu tujuh hari, seluruh tim panitia diminta memperkuat koordinasi, mempercepat persiapan, serta memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan matang dan terukur.

Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Triyo Supriyatno, saat memimpin koordinasi bersama seluruh panitia PBAK 2026 di Ruang Pertemuan Gedung Rektorat Lantai 3, Senin (10/8/2026).
Pertemuan tersebut turut dihadiri Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (AAKK), Ita Hidayatus Sholiah, bersama jajaran panitia dari unsur mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
Dalam arahannya, Prof. Triyo menekankan pentingnya soliditas seluruh panitia. Menurutnya, PBAK tahun ini digelar di tengah padatnya agenda universitas sepanjang Agustus sehingga membutuhkan kerja sama yang kuat antarpihak.
“Seluruh tim harus bisa berkolaborasi dan berkoordinasi dengan solid. Bulan Agustus ini kegiatan kita sangat padat, mulai dari proses validasi mahasiswa baru, temu wali, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kick off Dies Natalis UIN Malang ke-65, hingga pelaksanaan PBAK 2026,” tegasnya.
Padatnya agenda tersebut, lanjut Prof. Triyo, tidak boleh menjadi alasan berkurangnya kualitas persiapan PBAK. Sebaliknya, seluruh rangkaian kegiatan harus disiapkan secara cermat agar pelaksanaannya dapat berlangsung tertib, aman, dan memberikan pengalaman akademik yang baik bagi mahasiswa baru.
“Tentu ini membutuhkan persiapan yang matang dari tim panitia,” ujarnya.
Prof. Triyo juga memberikan perhatian khusus terhadap sinergi antara tim universitas dengan organisasi mahasiswa, khususnya Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa (SEMA).
Ia menilai gagasan dan konsep PBAK yang telah disusun mahasiswa merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter kegiatan. Karena itu, gagasan tersebut perlu dikolaborasikan dengan kebijakan dan arahan universitas.
“Saya yakin konsep PBAK yang sudah dikonsep oleh para mahasiswa perlu disiapkan dengan apik,” pesannya.
Menurutnya, PBAK bukan sekadar agenda penyambutan mahasiswa baru. Kegiatan tersebut menjadi pintu awal bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik, budaya kampus, nilai-nilai keislaman, serta kehidupan kemahasiswaan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Karena itu, keterlibatan mahasiswa dalam proses perencanaan dan pelaksanaan PBAK harus dibangun melalui komunikasi yang terbuka dan koordinasi yang intensif.
Senada dengan Prof. Triyo, Kepala Biro AAKK Ita Hidayatus Sholiah mengingatkan seluruh panitia untuk tidak menganggap PBAK sebagai kegiatan rutin tahunan yang dapat dipersiapkan secara biasa-biasa saja.
Ia meminta panitia dari unsur mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan untuk terus membangun komunikasi dan berkolaborasi dengan tim SEMA dan DEMA.
“Meskipun ini kegiatan tahunan, segala persiapannya harus dilakukan dengan matang dan terukur,” tegas Ita.
Ia mengingatkan bahwa waktu persiapan yang tersisa sudah sangat terbatas. Dengan waktu sekitar tujuh hari menuju pelaksanaan, seluruh kekurangan harus segera dipetakan dan diselesaikan.
“Ini waktunya sudah tidak banyak. Namun, segala sesuatunya harus dilaporkan progres persiapannya,” ujarnya.
Koordinasi tersebut menjadi momentum penting untuk memastikan setiap bidang kepanitiaan mengetahui tugas, target, serta progres yang harus dituntaskan. Evaluasi dan pelaporan juga diperlukan agar persoalan yang masih muncul dapat segera dicarikan solusi.
Dengan semangat kolaborasi antara pimpinan universitas, panitia, dosen, tenaga kependidikan, serta organisasi mahasiswa, UIN Malang menargetkan PBAK 2026 dapat berlangsung sukses dan memberikan kesan positif bagi seluruh mahasiswa baru.
Tujuh hari bukan waktu yang panjang. Namun, dengan koordinasi yang solid, komunikasi yang cepat, dan kerja tim yang terukur, persiapan PBAK 2026 diharapkan dapat dimaksimalkan hingga hari pelaksanaan.