MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY – Dinamika pergerakan mahasiswa terus bertransformasi seiring dengan pesatnya arus informasi. Merespons tantangan tersebut, sebuah forum diskusi kemahasiswaan bertajuk Nalar Mahasiswa Kritis, Aksi Strategis sukses digelar. Berlangsung dengan suasana yang santai namun berbobot, acara ini menjadi wadah strategis bagi para aktivis mahasiswa untuk membedah pergeseran paradigma gerakan perlawanan dan arah kebijakan publik di era modern. Forum diskusi ini menghadirkan Yusup Rahman Hakim, M.Ipol., dari lembaga kajian keamanan Indonesia National Security Study (INSS), yang hadir mewakili perwakilan Kemenko Polhukam. Dalam pemaparannya, Yusup mengupas tuntas isu evolusi peperangan di era digital. Rabu, 6 Mei 2026.

Ia menjelaskan bahwa konsep peperangan modern telah bergeser dari sekadar penguasaan wilayah fisik seperti kekuatan darat, laut, dan udara menuju peperangan ruang kognitif (cognitive warfare). Medan pertempuran utama saat ini adalah ruang digital. Tujuannya bukan lagi merebut wilayah fisik, melainkan merebut opini dan mengendalikan pemikiran kolektif masyarakat," papar Yusup. Lebih lanjut, Yusup menyoroti pergeseran sumber kebijakan publik. Jika dahulu kebijakan murni lahir dari institusi formal negara, saat ini kebijakan sering kali dipengaruhi oleh opini publik dan mobilisasi emosi massa di media sosial. Ia mencontohkan viralnya isu lingkungan terkait ikan sapu-sapu di sungai Jakarta, di mana kemarahan publik di ranah maya sukses mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan nyata. Namun, Yusup juga mengingatkan ancaman serius dari disinformasi, fitnah, dan kebohongan (DFK), termasuk manipulasi informasi menggunakan kecerdasan buatan (AI). Ia secara tegas mengimbau para mahasiswa untuk cerdas memilah fakta, serta mengedepankan penyampaian aspirasi melalui aksi strategis yang berbasis nalar kritis, bukan sekadar aksi anarkis.

Diskusi akademis ini semakin hidup saat dipandu oleh Gus Ahmad Bayhaqi Kadmi selaku moderator. Melalui gaya komunikasinya yang interaktif dan diselingi humor satir, Gus Bayhaqi mempertegas konsep manipulasi informasi. Ia menjelaskan bahwa "hoaks" berakar dari istilah *hocus* yang berarti mengelabui sebuah upaya sistematis untuk merekayasa sesuatu yang salah agar diyakini sebagai kebenaran. Mengambil contoh gejolak politik yang menimpa Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Gus Bayhaqi menggarisbawahi bahwa menciptakan kebingungan massa sering kali menjadi tujuan utama dari para pembuat disinformasi untuk merusak nalar publik. Ia juga membenarkan bahwa ruang media sosial kini memiliki intervensi yang kuat terhadap perumusan kebijakan.
Secara keseluruhan, forum ini memberikan konklusi yang krusial bagi sivitas akademika kampus. Di era digitalisasi ini, kekuatan terbesar bukan lagi diukur dari senjata atau kekuatan fisik, melainkan melalui penguasaan informasi dan manajemen opini publik. Melalui forum ini, para aktivis mahasiswa diharapkan mampu memperkuat nalar kritisnya, menolak hoaks, dan memanfaatkan instrumen digital secara bijak untuk mendorong perubahan kebijakan publik yang positif.