Skip to Content

UIN Malang Dorong Moderasi Beragama di Tengah Geopolitik Global

October 1, 2026 by
UIN Malang Dorong Moderasi Beragama di Tengah Geopolitik Global
Ajay
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY— Di tengah dinamika geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama Pusbangkom MBKM Kementerian Agama RI menggelar Dialog Moderasi Beragama bertajuk “Dari Lintas Agama Menuju Ketahanan Bangsa”, Kamis 1 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Rektorat Lantai 5 UIN Malang ini mempertemukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Malang, para penggerak moderasi beragama, sivitas akademika, hingga mahasiswa.

Dialog menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Staf Khusus Menteri Agama RI Dr. H. Farid F. Saenong, Ph.D., Ketua Peace Leader Indonesia Redy Saputro, S.Kom., serta Guru Besar Sosiologi Agama UIN Malang Prof. Dr. H.M. Zainuddin, M.A.
Mengawali kegiatan, Ketua LP2M UIN Malang Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag., menilai dialog moderasi beragama sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini.

Menurutnya, dinamika geopolitik global tidak hanya ditandai konflik antarnegara, tetapi juga perebutan kepentingan, pengaruh ideologi, dan kepentingan ekonomi. Kondisi tersebut membuat isu keagamaan rentan ditarik ke dalam pusaran konflik sosial maupun politik.

“Dalam situasi global yang bergejolak ini, isu keagamaan sering kali rentan ditarik dan dimanfaatkan menjadi instrumen benturan sosial maupun politik,” ujarnya.

Karena itu, Isroqunnajah menilai Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga kerukunan dan perdamaian melalui penguatan moderasi beragama. Lembaga pendidikan keagamaan seperti UIN Malang, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk terus menghadirkan ruang dialog lintas agama.

Moderasi beragama atau wasathiyah, lanjutnya, bukan sekadar bentuk kompromi dalam menjalankan keyakinan. Moderasi merupakan fondasi dalam membangun cara berpikir dan bertindak secara adil, berimbang, serta toleran di tengah arus ekstremisme dan polarisasi.

“Dialog lintas agama ini diharapkan tidak berhenti pada tataran wacana atau retorika perdamaian, tetapi dapat dikonversi menjadi kesadaran kolektif dan aksi nyata yang memperkokoh ketahanan nasional,” tegasnya.

Ia menjelaskan, ketahanan bangsa tidak hanya berkaitan dengan kekuatan militer maupun ekonomi. Ketahanan sosial dan kebudayaan juga menjadi bagian penting, terutama bagi Indonesia sebagai negara yang memiliki keberagaman agama, suku, budaya, dan latar belakang masyarakat.

“Ketahanan nasional juga dibangun dari sejauh mana masyarakat kita yang majemuk dapat berdiri kokoh, bersatu, dan tidak mudah terprovokasi oleh dinamika politik global,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Isroqunnajah juga memaparkan praktik pembelajaran keberagaman yang dikembangkan UIN Malang melalui kewajiban mahasiswa tahun pertama tinggal di Ma’had.

Menurutnya, kehidupan bersama di Ma’had menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk belajar memahami perbedaan secara langsung. Mahasiswa dari berbagai daerah dan negara hidup berdampingan dalam satu lingkungan, sehingga nilai toleransi tidak hanya dipelajari melalui teori, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Mahasiswa tinggal bersama di Ma’had untuk menyatukan visi bahwa kita diciptakan Allah dalam keadaan majemuk. Perbedaan yang ada merupakan sebuah keniscayaan yang harus dipahami dan dihormati,” tuturnya.

Keberagaman tersebut juga tercermin dari latar belakang mahasiswa UIN Malang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan puluhan negara. Saat ini, terdapat sekitar 350 mahasiswa internasional dari sekitar 42 negara yang menempuh pendidikan di UIN Malang.

UIN Malang juga menerima mahasiswa dengan latar belakang agama dan pemikiran keagamaan yang beragam. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pengalaman akademik sekaligus sosial yang memperkaya kehidupan kampus.

Isroqunnajah menegaskan, keberagaman tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila dibangun melalui dialog, saling memahami, dan sikap saling menghormati.

“Dakwah nyata dalam keberagaman adalah bagaimana kita mampu hidup bersama, memahami perbedaan, dan menjadikan perbedaan sebagai bagian dari kehidupan,” katanya.
Kegiatan dialog kemudian ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman atau MoU antara UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan Pusbangkom MBKM Kementerian Agama RI serta Peace Leader Indonesia.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi dalam pengembangan moderasi beragama, dialog lintas agama, serta penguatan ketahanan sosial di tengah dinamika global yang terus berubah.


Editor: Humas
Reporter: Ajay
Fotografer: Aj
UIN Malang Dorong Moderasi Beragama di Tengah Geopolitik Global
Ajay October 1, 2026
Share this post
Tags
Archive