Oleh: Salim Al Idrus*
Di tengah euforia bisnis dan startup yang sering diukur dari valuasi dan profit semata, pemikiran Prof. Salim Al Idrus terasa seperti rem yang menenangkan. Ia mengajak melihat wirausaha dari sudut yang lebih dalam. Bukan hanya soal keberanian mengambil risiko, tetapi juga tentang arah hidup, nilai, dan makna.
Secara sederhana, wirausaha memang berangkat dari kata “wira” yang berarti berani, dan “usaha” sebagai tindakan untuk mencapai tujuan. Namun bagi Prof. Salim, keberanian itu bukan nekat tanpa arah. Ia tumbuh dari impian tentang kebebasan. Kebebasan dalam bekerja, sekaligus kebebasan dalam mengelola kehidupan finansial. Ini yang sering luput dipahami. Banyak orang ingin bebas, tetapi tidak siap dengan tanggung jawab yang ikut datang bersamanya.
Menariknya, ia menekankan bahwa wirausaha sejati selalu dekat dengan kreativitas dan inovasi. Mereka bukan sekadar ikut arus pasar. Mereka membaca peluang bahkan sebelum orang lain menyadarinya. Di titik ini, wirausaha menjadi aktivitas intelektual sekaligus spiritual. Ada proses berpikir, ada intuisi, dan ada keberanian untuk melangkah lebih dulu.
Dalam perspektif Islam, fondasi itu menjadi lebih kuat. Bekerja keras bukan pilihan, tetapi perintah. Konsep azam dalam Al-Qur’an memberi penekanan pada tekad yang tidak setengah hati. Jika dipadukan dengan semangat kaizen atau perbaikan tanpa henti, lahirlah etos kerja yang tidak cepat puas. Setiap hari adalah ruang untuk menjadi lebih baik.
Namun yang membuat gagasan ini berbeda adalah penekanan pada dimensi ibadah. Berwirausaha bukan hanya soal menghasilkan uang, tetapi juga membuka peluang kebaikan. Pelayanan yang ramah, kemudahan bagi pelanggan, hingga kejujuran dalam transaksi menjadi bagian dari amal. Bahkan hal sederhana seperti senyum kepada konsumen memiliki nilai yang melampaui angka di laporan keuangan.
Karena itu, karakter menjadi kunci. Kejujuran, niat yang lurus, disiplin bangun pagi, hingga kepedulian sosial melalui zakat dan infak bukan sekadar pelengkap. Itu inti dari keberhasilan yang utuh. Tanpa itu, bisnis mungkin tumbuh, tetapi kehilangan ruhnya.
Pernyataan penutupnya justru paling menampar: sukses adalah guru yang jelek. Kalimat ini terdengar provokatif, tetapi masuk akal. Sukses sering membuat orang cepat puas dan berhenti belajar. Sebaliknya, kegagalan memaksa kita bercermin. Ia mengajarkan kerendahan hati, ketahanan, dan pemahaman diri yang lebih jujur.
Di sini, kegagalan bukan musuh. Ia bagian dari proses. Tidak ada kesuksesan tanpa jejak jatuh bangun. Jadi, jika hari ini usaha terasa belum berhasil, mungkin itu bukan tanda untuk berhenti. Bisa jadi itu sedang membentuk fondasi yang lebih kuat.
Akhirnya, wirausaha dalam pandangan Prof. Salim bukan sekadar profesi. Ia adalah jalan hidup. Jalan yang menggabungkan keberanian, akal, dan iman dalam satu tarikan napas. Dan di tengah dunia yang serba cepat ini, perspektif seperti ini terasa semakin relevan.
*Guru Besar Bidang Ilmu Pengantar Bisnis Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang