Pemilik Karakter Terpuji
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 28 Desember 2013 . in Dosen . 2374 views

Akhir-akhir ini banyak orang berbicara tentang karakter. Bangsa ini harus memiliki karakter yang baik, mulia, dan atau terpuji. Boleh saja seseorang tidak memiliki harta, jabatan, atau apa saja yang dianggap penting, tetapi jangan sampai tidak memiliki karakter. Orang yang tidak memiliki karakter sama halnya tidak memiliki segalanya.

Atas anggapan betapa pentingnya karakter terpuji itu, maka pendidikan harus diarahkan untuk mempertinggi sifat mulia itu. Pendidikan karakter akhirnya menjadi isu penting di mana-mana. Karakter harus dibangun melalui pendidikan di semua jenjang. Ilmu dan pengalaman tanpa diikuti oleh karakter terpuji maka keduanya tidak akan ada gunanya, bahkan sebaliknya, akan membahayakan terhadap diri sendiri dan orang lain.

Anggapan terhadap pentingnya karakter itu, maka banyak orang menulis buku tentang pendidikan karakter. Ciri-ciri karakter yang baik dijelaskan dan juga bagaimana mengajarkannya di lembaga pendidikan. Tentu semua yang ditulis itu mendasarkan pada pikiran, pandangan, hasil diskusi, dan mungkin juga buku-buku yang pernah dibacanya.

Terkait dengan pendidikan karakter itu, ada pertanyaan cukup mendasar, yaitu apakah benar bahwa karakter itu bisa ditanamkan melalui proses belajar mengajar di kelas dengan mendasarkan pada kurikulum formal sebagaimana yang dibayangkan oleh banyak orang selama ini. Tentu, untuk menjawab pertanyaan sederhana itu tidak gampang.

Terbuti banyak orang yang berpendidikan hingga jenjang tertinggi, tetapi ternyata belum mampu menunjukkan sebagai penyandang karakter terpuji. Kita melihat banyak orang dalam kehidupan sehari-hari tidak mampu menjaga karakter mulia seperti jujur, adil, peduli kepada orang lain, mencintai kebenaran, dan lain-lain. Banyaknya kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat di berbagai level adalah membuktikan bahwa pendidikan yang diselenggarakan selama ini belum mampu membangun karakter terpuji bagi bangsa ini.

Pertanyaan sederhana lainnya lagi yang perlu dikemukakan adalah apakah orang yang tidak berkarakter mampu membangun karakter mulia bagi orang lain. Manakala demikian itu halnya, kemudian siapa sesungguhnya yang berkompeten untuk membangun karakter itu. Jawaban atas pertanyaan sederhana itu, tentu juga tidak mudah. Pengarang buku karakter belum tentu mampu mendidik orang lain berkarakter terpuji. Menulis buku tentang karakter terpuji jauh lebih mudah dibanding mengimplementasikan niai-nilai yang dipandang mulia itu.

Terkait dengan persoalan karakter ini, saya pernah menemukan kasus menarik. Karakter mulia ternyata justru dimiliki oleh seorang yang berpendidikan rendah dan sehari-hari hanya menjadi pegawai rendahan. Orang dimaksud hanyalah sebagai cleaning service di sebuah kantor. Tatkala menunaikan tugasnya, yaitu sedang bersih-bersih, ia menemukan bungkusan cukup besar, dan ternyata setelah dilihat berisi uang. Tanpa berpikir panjang, bungkusan dimaksud swegera disimpan, dan esuk harinya diserahkan kepada pejabat yang sehari-hari berada di tempat itu. Pejabat dimaksud diduga kelupaan tidak menyimpan uang itu di tempat yang semestinya.

Tidak kebayangkan, umpama seorang cleaning service dimaksud tidak menyandang karakter mulia maka uang tersebut akan dibawanya pulang. Bahkan, para koruptor yang membawa pulang uang negara, oleh karena miskin berkarakter itu, tatkala ditangkap dan diperiksa oleh pihak berwajib, mereka tidak segera mengakui kesalahannya. Kasus kecil ini menggambarkan bahwa karakter mulia bisa saja dimiliki oleh orang yang tidak berpendidikan tinggi dan berstatus pegawai kecil. Sebaliknya, penyandang ijazah, pangkat, dan status sosial yang tinggi ternyata tidak menjamin bahwa yang bersangkutan selalu berkarakter terpuji.

Memang usaha-usaha untuk memperbaiki akhlak, moral, atau karakter terpuji harus dilakukan dengan berbagai cara. Sebagian ulama atau kyai, dalam memperbaiki karakter atau akhlak, selain menempuh cara sederhana, yaitu lewat seruan, juga mengajak untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan banyak berdzikir, baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan. Kita sering melihat pada jama'ah dzikir, dengan mengucapkan kalimat-kalimat mulia, seseorang sampai menangis, menyadari tentang kesalahannya dan atau membayangkan kehidupannya kelak di akherat nanti.

Sebaliknya, banyak orang tatkala mendapatkan ceramah tentang karakter mulia, tidak ada yang menangis, malah justru tertawa. Apa makna tertawa itu, tentu jawabnya bermacam-macam. Bisa jadi, mereka tahu, bahwa yang mengajaknya juga belum menjalankan apa yang diajarkannya itu. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh para ulama atau kyai di banyak tempat, yaitu mengajak berdzikir bersama-sama, menggambarkan bahwa karakter mulia seharusnya dibangun secara bersama-sama. Selain itu, memahami karakter atau akhlak mulia, sebenarnya begitu mudah, tetapi menjalankannya yang amat sulit.

Dalam membangun karekter, antara guru dan murid sama-sama menjalankannya, sama persis dengan cara yang dilakukan oleh para kyai dimaksud. Kebersamaan itu penting, oleh karena, tidak ada orang yang benar-benar bisa dijamin bahwa seseorang telah berhasil memiliki karakter mulia. Cleaning servis pun, sebagaimana contoh di muka, ternyata berhasil memilikinya. Padahal, belum tentu, pimpinannya sendiri, yang lebih pintar, kaya, dan terhormat, telah berhasil menyandangnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up