Banyak sekali orang berharap anak-anak desa yang belajar ke kota, setelah menjadi sarjana agar bersedia pulang ke kampung, tempat kelahirannya. Mereka itu diharapkan ikut bersama-sama membangun kampung halamannya. Harapan ideal seperti itu sebenarnya tidak saja datang dari para pemimpin perguruan tinggi, tokoh masyarakat, lebih-lebih adalah juga menjadi harapan pemerintah.
Harapan tersebut adalah sedemikian mulia dan sangat mungkin bisa dilaksanakan. Akan tetapi pada kenyataannya tidak banyak terwujud. Setelah lulus, para sarjana lebih suka menetap di kota. Pulang ke desa dianggapnya belum tentu bisa berperan banyak, dan atau tenaganya tidak selalu dibutuhkan. Selain itu, membangun masyarakat desa bukan pekerjaan gampang, bahkan niat baiknya itu belum tentu direspon. Berbagai alasan itulah akhirnya menjadikan sarjana tidak banyak yang pulang ke desa.
Pilihan pemuda desa yang telah lulus menjadi sarjana di antaranya adalah bertahan di kota, atau pergi ke tempat lain untuk mendapatkan pekerjaan. Apalagi, setelah menjadi sarjana, biasanya akan segera mendapatkan tantangan baru, ialah berkeluarga. Sedangkan untuk memenuhi tuntutan itu, mereka harus mencukupi kebutuhan keluarganya. Keadaan seperti digambarkan itulah yang menjadikan idealismenya yang semula berkobar-kobar, yaitu ingin membangun masyarakatnya, akhirnya menjadi surut, atau setidaknya bekurang.
Di dalam suasana sedemikian sulitnya memenuhi harapan ideal, yaitu agar sarjana mau dan mampu membangun desanya sendiri,



