Terlalu sering terdengar pernyataan bahwa kehadiran Muhammad sebagai seorang rasul adalah menjadi pengubah masyarakat. Perubahan itu menyangkut hal yang amat mendasar, yaitu perubahan dari masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang beradab. Atau juga sementara orang menyebut, perubahan dari zaman kegelapan menjadi masyarakat yang disinari oleh petunjuk langsung dari Allah, berupa kitab suci al Qur'an dan tauladan nabi-Nya.
Dalam berbagai sejarah digambarkan bahwa masyarakat Arab, yang kemudian disebut sebagai kaum jahiliyah itu, telah kehilangan nilai-nilai kemanusiaan, baik menyangkut hubungannya dengan ketuhanan, kemanusiaan, social, dan lain sebagainya. Disebutkan bahwa bangsa Arab ketika itu mengakui adanya tuhan, tetapi yang mereka sebut sebagai tuhan, tidak lain adalah hasil karyanya sendiri, berupa berbagai jenis patung.
Pada aspek kemanusiaan, disebut sebagai zaman jahiliyah, oleh karena tidak ada penghargaan terhadap harkat martabat pada semua orang. Masyaraktnya terdiri atas berbagai suku, dan masing-masing saling berebt pengaruh untuk memperoleh kemenangan. Keadilan di antara sesama manusia diabaikan atau sama sekali tidak menjadi perhatian. Mereka yang kuat, maka itulah yang menang. Penindasan terhadap sesame dianggap sebagai hal biasa.
Sebagai gambaran tentang penindasan itu, di antaranya bahwa perbudakan dianggap sesuatu yang lazim. Seseorang dianggap sebagai harta kekayaan oleh mereka yang memilikinya. Para budak itu dipekerjakan di luar batas-batas kemanusiaan dan bahkan dijual belikan, baik budak laki-laki maupun perempuan. Kemerdekaan pribadi yang saharusnya dimiliki oleh semua orang, sama sekali tidak bisa dirasakan. Penindasan manusia atas manusia menjadi gambaran sehari-hari.
Pada zaman jahiliyah itu, kaum wanita pada umumnya diperlakukan sebagai harta atau barang yang bisa diperjual belikan, dan bahkan diwariskan. Oleh karena posisi dan atau harkat dan martabat wanita yang sedemikian rendah itu, maka orang menjadi malu ketika melahirkan seorang bayi perempuan. Penderitaan itu dirasakan menjadi lebih mendalam jika kelahiran bayi perempuan itu dialami oleh isteri penguasa. Melahirkan bayi perempuan dianggap sebagai keadaan yang rendah dan hina.
Gambaran singkat tersebut itulah akhirnya dikenal sebagai zaman jahiliyah. Nabi Muhammad hadir sebagai seorang Rasul diutus untuk melakukan perubahan total terhadap masyaarakat yang digambarkan itu. Dalam sejarahnya tugas itu juga tidak mudah dilakukan, namun ternyata berhasil. Masyarakat Arab, khususnya masyarakat Madinah, setelah kehadiran Nabi hijrah dari Makkah, dalam waktu yang tidak terlalu lama, ternyata berubah. Mereka berhasil membangun kebersamaan, persatuan di antara orang yang memiliki adat istiadat dan budaya berbeda -----antara Muhajirin dan anshar, menghargai harkat dan martabat manusia, dan memuliakan kaum wanita. Selain itu keadilan ditegakkan, ilmu pengetahuan dijadikan dasar untuk memajukan masyarakat, menghargai siapapun yang berprestasi, termasuk pada batas-batas tertentu dikembangkan sikap dan atau jiwa profesionalisme, dan lain-lain.
Nabi Muhammad mengubah masyarakat, di antaranya dan bahkan yang utama adalah dengan cara memperbaiki akhlaq masyarakatnya. Melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari, Nabi menyapa, menginspirasi, dan bahkan memberdayakan semua kalangan, mulai dari orang yang memiliki kelebihan hingga masyarakat yang paling terbelakang. Orang miskin, anak yatim, dan siapa saja yang memerlukan uluran tangan maka segera dipenuhi.
Sudah cukup lama, bangsa Indonesia menginginkan perubahan, yaitu agar menjadi bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera. Namun keinginan itu, sejak diperoleh kemerdekaan hingga puluhan tahun sampai sekarang ini, ternyata belum sepenuhnya berhasil. Pada akhir-akhir ini, Presiden pilihan rakyat, yaitu Ir.H.Joko Widodo melontarkan gagasan yang sedemikian menyentuh dan tepat, yaitu akan melakukan apa yang disebut dengan istilah gerakan revolusi mental.
Gagasan tersebut di tengah keadaan bangsa seperti sekarang ini, tentu amat tepat. Bangsa ini belum meraih prestasi gemilang, di antara sebabnya yang mendasar adalah belum berhasil membangun mental yang dibutuhkan oleh tatanan social yang diinginkan itu. Mental mementingkan diri sendiri atau kelompoknya, merasa rendah di hadapan bangsa lain, mental menyerah, kurang mau berusaha, suka mempertahankan yang ada, dan masih banyak lagi ciri mental yang kurang produktif lainnya ternyata selalu dipelihara.
Gagasan yang dilontarkan oleh presiden pilihan rakyat yang sedemikian menyentuh dan tepat itu seharusnya segera ditindak-lanjuti oleh semua kalangan tanpa terkecuali. Di bidang pendidikan misalnya, jika selama ini kebijakannya hanya mementingkan aspek formalitas, terlalu birokratis, dan terlalu takut berubah, dan ternyata dampaknya tidak mampu menjawab persoalan bangsa secara nyata, maka seharusnya kebijakan yang mendasarkan pada mental tidak produktif itu segera diubah.
Sebagai gambaran lainnya, dalam kehidupan social misalnya, bermental lebih mencintai diri sendiri dan golongan atau partai, maka harus diubah menjadi lebih mencintai bangsa dan negaranya dengan berbagai implikasinya. Umpama revolusi mental yang dimaksudkan itu disambut serentak, maka gambaran tentang perubahan masyarakat jahiliyah ke masyarakat beradab, sebagaimana dalam sejarah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad, insya Allah dalam batas-batas tertentu, akan terjadi di negeri yang kita cintai ini. Wallahu a'lam.



