Dalam soal membangun masjid dan mushalla, NU tidak perlu diajari. Tempat ibadah dengan berbagai ukuran, mulai dari yang paling sederhana, yaitu yang berada di pinggir-pinggir hutan, di gunung-gunung, di pinggir laut, di desa terpencil, dan yang berada di kota-kota besar, dan jumlahnya hampir tidak terhitung, banyak didirikan oleh warga NU. Dalam hal membangun masjid, surau, mushalla,langgar, atau apa saja namanya, warga NU tidak pernah meminta sumbangan kepada pemerintah. Mereka mampu berswadaya atau mandiri.
Warga NU juga dikenal sangat mudah dikumpulkan. Tanpa undangan resmi, surat menyurat, atau apa lagi namanya, mereka bisa dihadirkan dalam berbagai kegiatan, misalnya dibaan,. tahlilal, yasinan, manakiban, istighasah, dan berbagai peringatan keagamaan. Belum lagi, ketika di antara warganya terkena musibah, kematian misalnya, warga NU tanpa diundang akan datang di rumah duka. Mereka akan membaca tahlil, surat yasin, atau tadarrus al Qur'an hingga beberapa hari. Menggerakkan agar berkumpul, warga NU sangat mudah.
Selain itu, pecinta para ulama dan kyai ini juga memiliki tradisi suka bersedekah. Mereka memiliki tradisi mengundang para tetangga, berdoa, dan kemudian makan diajak bersama-sama. Tradisi demikian itu menjadikan komunikasi antar tetangga menjadi sangat lancar. Di kalangan warga NU tidak perlu dikhawatirkan antar tetangga tidak mengenal. Intensitas pertemuan di kalangan warga masyarakat yang menyukai pakaian sarung dan kopyah ini sangat tinggi. Merekja bertemu di masjid, di rumah-rumah secara rutin dalam kegiatan tadarrus al Qur;an, yasinan, tahlilan, sebagaimana disebutkan di muka.
Kelebihan warga NU tersebut kiranya bisa digunakan sebagai modal sosial untuk melakukan kegiatan yang lebih besar dan mendesak, yaitu misalnya gerakan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Tidak perlu ditutup-tutupi bahwa jumlah warga NU yang masih lemah di bidang ekonomi, masih banyak. Mereka itu bekerja sebagai petani, buruh, nelayan, dan juga pengangguran. Namun juga sebaliknya, tidak sedikit warga NU yang sudah berhasil pengembangan ekonomi. Mereka bekerja di bidang pertanian, perdagangan, nelayan, dan lain-lain.
Warga NU yang dikenal menyukai berkumpul dan berjama'ah itu bisa diorganisasi untuk melakukan kegiatan ekonomi bersama. Contoh kegiatan dalam upaya menggerakkan ekonomi ummat dimaksud pada akhir-akhir ini sudah mulai tumbuh, dan bahkan tidak sedikit yang dimotori oleh pesantren. Di beberapa tempat dibentuk koperasi atau BMT yang dikembangkan oleh pesantren dengan maksud untuk menumbuhkan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Dengan demikian, pesantren tidak saja dipercaya sebagai tempat belajar ilmu agama bagi para santri, tetapi juga sebagai kekuatan penggerak ekonomi umat dimaksud.
Sekedar sebagai contoh gerakan ekonomi rakyat itu adalah apa yang dilakukan oleh Pesantren Rakyat, diasuh oleh Ustadz Abdullah Syam di Sumber pucung, Kabupaten Malang. Tidak sebagaimana pesantren pada umumnya bahwa yang belajar adalah khusus para santri, tetapi di Pesantren Rakyat ini yang belajar adalah warga masyarakat di sekitar lembaga pendidikan tersebut, yaitu mereka yang mau belajar tanpa membatasi usia, status dan lain-lain. Para santri di Pesantren Rakyat juga tidak saja belajar tentang ilmu agama, tetapi juga tentang kehidupan yang luas, misalnya belajar bertani, berdagang, membuat kerajian, kesenian, dan lain-lain.
Para gurunya juga beraneka ragam. Mereka yang belajar tentang pertanian di pesantren Rakyat ini diajar oleh salah seorang santri yang telah sukses dalam bertani. Mereka yang ingin mengembangkan peternakan, maka akan diajar oleh guru yang berpengalaman dan sukses beternak, dan seterusnya. Para guru dimaksud tidak perlu didatangkan dari tempat lain, tetapi bisa berasal dari di antara warga di sekitar pesantren itu sendiri yang kebetulan sudah sukses. Di pesantren ini tidak diperbolehkan orang yang belum sukses atau belum berpengalaman ikut mengajar. Di pesantren Rakyat, semua orang dikelompokkan menjadi dua, yaitu mereka yang pintar atau berpengalaman dan yang tidak pintar. Mereka yang pintar atau berpengalaman mengajarkan kepintarannya kepada mereka yang belum pintar.
Kerjasama itu tidak saja dalam hal membagi pengetahuan atau pengalaman, melainkan juga dalam permodalan. Di Pesantren Rakyat itu mereka yang memiliki modal diajak membantu atau bekerjasama dengan yang tidak memiliki modal. Hubungan simbiosis mutualistik itu melahirkan gerakan ekonomi di sekitar pesantren itu. Kerjasama antara pemilik modal dan para pekerja yang sudah tampak hasilnya adalah di bidang pertanian, peternakan, dan juga wisata berupa kolam renang. Konsep Pesantren Rakyat itu sederhana, tetapi ternyata mampu dan berhasil mengerakkan ekonomi rakyat.
Sebagaimana pesantren pada umumnya, Pesantren Rakyat juga digagas oleh Kyai atau Ustadz yang berafiliasi pada NU. Maka, umpama setelah muktamar di Jombang, konsep Pesantren Rakyat itu dikembangkan di berbagai wilayah, dan dimotori oleh organisasi yang dipimpin oleh para ulama dan Kyai itu, maka akan muncul gerakan pemberdayaan ekonomi umat yang luar biasa. Implementasi konsep itu tidak banyak memerlukan anggaran dan juga cara yang berbelit-belit. Siapapun bisa menjalankan. Apalagi NU memiliki tradisi, yaitu kemampuan bekerja bersama-sama, berkumpul, dan saling berbagi, serta peduli pada orang lain, maka konsep itu tidak sulit diimplementasikan. Akhirnya, melalui Pesantren Rakyat, NU kiranya akan berhasil menjadi kekuatan penggerak ekonomi ummat. Wallahu a'lam.



