Al Qur'an Menjawab Pertanyaan Mendasar Tentang Tuhan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 4 September 2015 . in Dosen . 44171 views

Adalah hal yang bersifat naluriah, alami atau sebagai sunnatullah, tatkala manusia selalu menanyakan tentang eksistensi dirinya, apa yang seharusnya diperbuat, dan siapa sebenarnya pencipta semua yang ada ini. Pertanyaan semacam itu selalu muncul dan tentu menuntut jawaban hingga memuaskan. Namun hal yang diinginkan itu tidak akan mudah diperoleh, atau juga bahkan tidak tahu seharusnya diberikan oleh siapa. Seseorang yang lahir ke dunia, kecuali melalui kitab suci, tidak akan mengetahui tentang keberadaan dirinya maupun juga tentang lingkungannya.

Pertanyaan tentang asal muasal manusia tersebut juga menjadi kajian antropologis. Disebutkan bahwa manusia selalu merasakan adanya sesuatu yang menguasai dirinya, dan kemudian sesuatu itu disebut sebagai tuhannya. Apa yang dipandang atau dipercayai sebagai tuhan adalah beraneka ragam konsepnya. Sementara orang, menyebut tuhan adalah sesuatu yang dianggap besar dan serba menentukan, hingga akhirnya digambarkan bahwa pencipta itu adalah hal-hal yang berukuran besar, misalnya berupa bulan, bintang, dan atau matahari. Sementara lainya menganggap tuhan adalah apa saja yang dirasakan memiliki kekuatan luar biasa, sehingga akhirnya menganggap batu, gunung, pepohonan, dan sejenisnya adalah sebagai tuhan.

Sebagai contoh sederhana tentang adanya naluri keberagamaan itu tampak dari apa yang dilakukan oleh orang desa. Mereka misalnya membuat sesajian berupa bunga jenis tertentu, kemenyan, dan lain-lain yang kemudian diletakkan di atas batu atau di bawah pohon besar yang dipercayai bahwa di temat itu terdapat kekuatan ghaib. Selain itu, pada saat tertentu, misalnya ketika terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan, orang desa memukul kentongan atau apa saja yang ada agar bulan dan matahari itu selamat dari gangguan makhluk lainnya. Melalui peristiwa yang tidak selalu dipahami itu maka tampak bahwa adanya kesadaran terhadap keberadaan tuhan.

Kepercayaan dan juga apa yang dilakukan oleh orang desa sebagaimana contoh tersebut adalah terkait dengan konsep ketuhanan dan ternyata juga bersifat universal. Ada saja dalam sejarah kemanusiaan dan bahkan hal itu juga dijelaskan oleh al Qur'an tentang kepercayaan yang terkait dengan konsep ketuhanan itu. Oleh karena tidak mendapatkan penjelasan dari kitab suci, orang atau sekelompok orang, menganggap bahwa tuhan bisa diciptakan. Sebagai caranya menemukan tuhan itu, maka manusia menciptakan apa saja, gambar manusia misalnya, yang dibuatnya sendiri dan kemudian disebut sebagai tuhannya. Bahkan, ada juga yang mengklaim bahwsa dirinya sebagai tuhan.

Al Qur'an diturunkan untuk memberikan jawaban tentang pertanyaan mendasar menyangkut ketuhanan dimaksud. Dijelaskan oleh Al Qur'an bahwa Tuhan itu adalah Maha Esa, tempat meminta, tidak beranak dan juga tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Melalui al Qur'an, diperkenalkan bahwa Tuhan memiliki nama-nama atau sebutan dan sifat-sifat yang Mulia. Oleh karena ilmu yang diberikan kepada manusia amat terbatas, maka manusia tidak akan mampu memahami Tuhan secara sempurna. Bahkan manusia dilarang terlalu jauh memikirkan dan merenungkan tentang Tuhan, dan hanya dianjurkan untuk memikirkan dan merenungkan tentang ciptaan-Nya.

Membuktikan terhadap adanya Tuhan tidak akan berhasil jika hanya dilakukan melalui kekuatan nalar atau pikirannya. Keberadaan dan semua hal tentang Tuhan adalah berada di luar jangkauan pikiran manusia. Oleh karena itu, sekuat apapun pikiran seseorang maka tidak akan mampu menjangkau tentang Dzat Tuhan. Segala upaya untuk mengetahui tentang Tuhan tidak akan berhasil, dan hanya dalam batas-batas tertentu, hal dimaksud bisa diperoleh melalui pemahaman terhadap ciptaan-Nya. Baik melalui al Qur'an maupun hadits nabi, manusia disebutkan tidak akan mampu mengetahui hakekat yang sebenarnya tentang Tuhan.

Namun manusia, sebagaimana nalurinya, selalu berusaha untuk memperoleh pengetahuan itu dan bahkan juga kasih sayang-Nya. Melalui petunjuk al Qur'an pula, manusia diberi penjelasan tentang cara mendekatkan diri pada-Nya, dan bagaimana memperoleh kesih sayang, ridha, dan kebahagiaan yang ingin diraih. Penjelasan dari al Qur'an itu dipahami oleh sementara orang yang pada dirinya menyandang keimanan, dan tidak demikian bagi mereka yang tidak dibuka hatinya. Al Qur'an menjadikan hati seseorang meraih ketenangan oleh karena pertanyaan mendasar tentang Tuhan telah terjawab olehnya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up