Sekelumit Gambaran Tentang Gerakan PKI
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 30 September 2015 . in Dosen . 8055 views

Setelah sekian lama PKI dibubarkan, seolah-olah mereka tidak salah. Pembunuhan terhadap PKI memang terjadi pada sekitar tahun 1965. Pada waktu itu keadaan masyarakat memang sangat mengerikan. Sehari-hari, para tokoh PKI hingga di pedesaan ditangkap dan dibunuh. Apa yang dilakukan oleh tentara dan juga orang-orang Islam ketika itu bukan tanpa alasan. Ada kemarahan yang luar biasa oleh karena perbuatan orang PKI yang berlebihan. Itulah yang saya rasakan ketika masih kecil hidup di pedesaan.

Pada saat terjadi gerakan 30 September 1965, saya sudah menjadi siswa di SMP, sehingga, sekalipun hanya bersifat terbatas, yaitu di tingkat kabupaten, saya sudah bisa mengikuti peristiwa itu. Berita pada tingkat nasional tentang PKI, saya dapatkan melalui radio. Koran ketika itu belum sampai bisa dibaca oleh murid SMP. Demikian pula, televisi pada waktgu itu belum ada, sekalipun yang hitam putih. Berita tentang gerakan PKI, lebih banyak saya dapatkan dari mulut ke mulut.

Sehari-hari, pada waktu itu terasa benar, bahwa ada pertentangan antara orang-orang beragama dengan orang PKI. Berita bahwa ada kyai atau pimpinan pondok pesantren diculik di suatu daerah dan kemudian yang bersangkutan tidak kembali adalah hal biasa. Permusuhan antar kelompok yang memiliki idiologi berbeda itu dengan mudah dirasakan di mana-mana.

Sekalipun bentrokan secara terbuka pada waktu itu belum terjadi, tetapi kejadian saling hina menghina menjadi hal biasa. PKI menyebut kyai atau ulama dengan sebutan setan desa. Sebutan itu diberikan oleh karena kyai pada umumnya dianggap memiliki sawah atau tanah yang luas. Sekalipun demikian sebenarnya, orang kaya bukan hanya kyai atau ulama. Demikian pula, orang miskin juga bukan hanya PKI. Umat Islam yang miskin juga banyak. Sebutan itu karena rasa kebencian saja terhadap para ulama'.

Kritik PKI secara terbuka terhadap orang Islam biasanya disampaikan melalui media kesenian. Ludruk atau kethoprak, adalah jenis kesenian di pedesaan, yang digunakan sebagai media kritik. Kadang kritik yang disampaikan dimaksud sangat berlebih-lebihan. Pada umumnya, orang PKI sangat anti terhadap para agamawan. Untuk menunjukkan kebenciannya itu, pernah di sebuah desa dipentaskan ludruk dengan cerita : ' matinya tuhan'. Tentu, menanggapi penghinaan itu, umat Islam menjadi marah dan akhirnya membakar habis panggung ludruk dimaksud.

Di sekolah guru yang berpaham PKI ada juga yang mengejek muridnya yang beragama. Misalnya, siswa disuruh memejamkan mata dan menengadahkan kedua tangankannya ke atas untuk meminta uang pada tuhan. Tentu dengan mendoa itu tidak didapat apa-apa. Setelah itu, murid yang sama disuruh agar memejamkan mata dan mengulang doanya, tetapi bukan menyebut tuhan, tetapi menyebut nama guru yang menyuruh itu. Selanjutnya oleh guru yang bersangkutan, permintaan itu dipenuhi, yaitu pada tangan murid tersebut ditaruh uang. Maka oleh guru yang bersangkutan disimpulkan bahwa, tuhan memang tidak ada, sementara itu yang jelas ada adalah dirinya atau guru itu.

Berita yang dinilai sangat menyakitkan hati tersebut segera tersebar dari mulut ke mulut hingga menjadikan kebencian antar kedua kelompok semakin mendalam. Pertentangan idiologis terbuka sedemikian rupa dengan pendukungnya masing-masing. Oleh karena itu, ketika datang berita tentang adanya penculikan terhadap para jendral dan juga diperoleh keterangan bahwa kejadian itu dilakukan oleh PKI, maka segera menyulut konflik dan menyebar hingga ke mana-mana.

Kebencian terhadap PKI juga tumbuh dari sejarah sebelumnya, bahwa kyai pesantren banyak diculik dan dibunuh oleh PKI. Demikian pula telah adanya pemberontakan oleh PKI di beberapa tempat dan tokoh Islam selalu menjadi korbannya adalah dirasakan sangat menyakitkan. Hal demikian itu melahirkan kesan yang amat jelas bahwa PKI adalah anti agama. Melalui berbagai peristiwa tersebut membuktikan bahwa memang sulit mempersatukan antara orang beragama dengan orang yang tidak beragama.

Pengalaman sejarah tersebut menjadikan trauma yang luar biasa. Mungkin bagi generasi yang lahir setelah tahun 1965, tidak bisa menghayati keadaan yang mengerikan tersebut secara utuh dan mendalam, sehingga mereka segera menyalahkan sejarah itu. Tetapi sebaliknya, jika sejarah itu dihayati sepenuhnya maka akan diperoleh pelajaran tentang betapa keganasan Partai Komunis ketika itu. Oleh karena itu kiranya ke depan, dengan Pancasila dan UUD 1945, bangsa ini tidak boleh mengulang sejarah masa lalu itu. Semua generasi harus melihat ke depan, membangun bangsa yang bhineka, saling menghargai dan menghormati untuk masa depan yang damai dan sejahtera. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up