Suatu ketika saya mendapatkan pertanyaan dari seseorang mahasiswa, yaitu apakah kita ini harus selalu konsisten dalam semua hal. Apakah konsisten itu selalu baik ? Sebaliknya, apakah berubah sikap itu selalu buruk. Sebenarnya saya ketika itu tidak terlalu mengerti, mengapa pertanyaan itu muncul. Tetapi rupanya, penanya tersebut memang tampak gelisah. Ia menyebut-nyebut ungkapan yang sedemikkian populer, bahwa kita ini jangan mencla mencle, pagi masih berupa kedelai sore sudah menjadi tempe.
Memiliki pendirian yang teguh adalah amat penting. Orang yang telah memiliki pendirian secara kokoh maka tidak akan terombang-ambing oleh pendapat yang tidak selalu menentu. Pendirian itu disebut kokoh manakala telah mendasarkan pada logika yang jelas dan kuat serta telah didukung oleh data yang cukup. Akan tetapi jika pandangannya itu sudah tidak didukung lagi oleh logika, dalil, atau data yang kuat, maka memeganginya secara konsisten juga tidak tepat. Berpegang pada sesuatu yang lemah dan rapuh merupakan kekeliruan.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, perubahan pandangan sebenarnya tidak dianggap hal buruk. Disebut sebagai kebenaran ilmiah adalah sepanjang keberan dimaksud masih didukung oleh logika yang kuat dan data yang cukup. Manakala terdapat data lain yang mampu mengungguli kekuatannya, maka kebenaran itu harus ditinggalkan. Seorang ilmuwan tidak perlu rikuh meninggalkan pandangan lama dan berubah pada pandangan baru yang dianggap lebih saheh atau kuat.
Mengikuti cara berpikir di muka, maka sikap tidak konsisten terhadap pandangan yang telah lama dipegangi adalah bukan hal aneh atau keliru. Dalam dunia ilmu, justru menjadi aneh manakala seorang ilmuwan tidak berani mengubah sikapnya hanya karena takut atau merasa harga dirinya terganggu tatkala pandangannya berubah-ubah atau dianggap tidak konsisten. Mungkin saja perubahan sikap dianggap buruk, atau disebut mencla mencle oleh karena yang bersangkutan sejak awal hanya sebatas meniru atau taklid terhadap pendapat orang lain.
Bukan sebatas mencari pembenar dengan cara mengada-ada, bahwa dalam al Qur'an sendiri umat Islam sebenarnya diperintahkan untuk selalu memohon petunjuk atau hidayah tanpa henti. Pada setiap menjalankan shalat harus selalu membaca doa, agar ditunjukkan jalan yang lurus dan benar. Lewat doa itu kiranya bisa dimaknai, bahwa seseorang seharusnya tidak merasa sudah paling benar. Sebab, tatkala sikap yang demikian itu terbangun, yakni telah merasa benar, maka kiranya tidak diperlukan lagi petunjuk.
Dengan demikian, Islam sebenarnya mengajarkan agar suasana batin atau sikap selalu terbuka. Keterbukaan itu akan memungkinkan tumbuh semangat untuk memperoleh informasi, pandangan, dan ilmu baru yang sebelumnya tidak dikenal. Sikap terbuka itu juga harus selalu dikembangkan oleh karena kesadaran bahwa ilmu yang berhasil dimiliki selalu terbatas. Disebutkan di dalam al Qur'an bahwa 'wama uthiitum minal ilmi illa qolila' , sehingga keterbukaan itu seharusnya selalu dikembangkan. Konsekuensinya, dengan bertambahnya ilmu, maka pandangan seseorang bisa jadi juga berubah.
Namun demikian konsisten menjadi sesuatu yang seharusnya dipelihara dalam hal melakukan kebaikan. Misalnya, orang harus konsisten selalu mengucapkan salam terlebih dahulu ketika bertemu orang lain. Tatkala berlebih selalu memberikan kepada orang lain yang berkekurangan. Tidak pernah berhenti dari mencari ilmu. Selalu bangun pagi tepat waktu untuk selanjutnya mendatangi suara adzan subuh di masjid untuk sholat berjama'ah, dan seterusnya. Contoh-contoh berkonsistensi dalam melakukan kebaikan seperti disebutkan terakhir adalah merupakan keharusan. Akan tetapi dalam hal memandang sesuatu, dan apalagi terkait pencaharian kebenaran, sebagaimana dijelaskan di muka, adalah justru menjadi tuntutan yang seharusnya dipenuhi. Wallahu a'lam.



