Musuh Itu Dekat
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 25 Oktober 2015 . in Dosen . 1795 views

Pada akhir-akhir ini, banyak orang berbicara tentang agama, tetapi sekaligus juga berbicara tentang musuh. Padahal keduanya sangat kontradiktif. Agama berbicara tentang kasih sayang, kebersamaan, tolong menolong, kedamaian, dan keselamatan. Sementara itu, berbicara musuh sama halnya dengan berbicara tentang sesuatu yang membahayakan, menakutkan, dan bahkan membinasakan.

Agama seolah-olah selalu punya musuh. Seperti tidak lengkap tatkala berbicara agama tidak sekaligus menyinggung musuh agama itu. Padahal agama selalu mengajak pada keselamatan dan kedamaian. Orang beragama dengan baik adalah bermaksud agar selamat dan bahagia. Setidak-tidaknya dengan beragama agar hati dan pikirannya menjadi tenang dan damai.

Akan tetapi anehnya, berbicara agama juga berbicara tentang kekerasan. Bahkan pads akhir-akhir ini agama dikaitkan dengan teroris. Dengan demikian, seolah-olah agama menjadi sesuatu yang menakutkan dan mengerikan. Agama dianggap akrab dengan kekerasan, perang, dan bunuh membunuh. Akibatnya, banyak orang salah paham terhadap agama. Mereka kemudian mengatakan, daripada beragama menjadi tidak tenang, maka memilih lari dari agama.

Dianggap bahwa, musuh agama adalah orang-orang sekuler atau orang yang memeluk agama yang berbeda. Padahal dalam kenyataannya, antar sesama pemeluk agama yang berbeda bisa menjalin dikomunikasi secara intensif. Dalam masyarakat tertentu, perbedaan agama tidak menghalangi untuk berkomunikasi dalam berbagai kehidupan. Dapat disaksikan di berbagai tempat, orang Islam dapat bertetangga dengan orang Kristen, Katholik, Hindu, dan lain-lain.

Oleh karena itu sebenarnya perasaan khawatir dan apalagi ketakutan yang berlebih-lebihan terhadap adanya perbeda agama sebenarnya tidak perlu. Memaknai bahwa berbeda, tidak terkecuali berbeda agama, selalu dianggapnya musuh adalah hal yang keliru. Antar pemeluk agama bisa berkomunikasi dan bisa hidup bersama-sama. Banyak wilayah dihuni oleh pemeluk agama yang berbeda-beda dan juga tidak melahirkan konflik atau permusuhan.

Berbicara asal muasal musuh dalam arti sesuatu yang mencelakakan dan bahkan menghancurkan sebenarnya bisa berasal dari diri sendiri. Tatkala pada diri seserang muncul sifat dengki, ujub, iri hati, takabbur, hasut, dan sejenisnya, maka sebenarnya semua itu adalah merupakan musuh yang jika tidak dikendalikan akan mengancam dan mennghancurkan dirinya sendiri.

Betapa berbahayanya musuh yang berasal dari diri sendiri itu hingga dalam suatu riwayat, yakni sepulang dari perang Badar, Nabi mengingatkan akan datang musuh yang lebih besar, yaitu berupa hawa nafsu. Terjadinya permusuhan, saling menghancurkan atau perang adalah bersumber dari hawa nafsu yang tidak terkendalikan. Dengan demikian, sesuatu yang berpotensi menghancurkan itu tidak saja berasal dari luar diri seseorang, melainkan justru berasal dari dalam dirinya sendiri.

Sebagai sementara orang Islam mengira bahwa musuhnya adalah orang Yahudi, Nasrani, Kristen, Hindu, Budha, dan juga orang yang tidak beragama. Padahal yang sebenarnya, musuh itu adalah berada pada dirinya sendiri yang berupa hawa nafsu itu. Oleh karena itu, musuh tidak perlu dicari dari tempat yang jauh. Pada setiap diri seseorang terdapat musuh, dan kadang musuh yang dekat itu sangat berbahaya. Orang yang memiliki penyakit dengki, hasut, ujub, sombong, fitnah, dan lain-lain, maka hatinya akan merasa tersiksa, dan bahkan penyakit itu akan merusak amal kebaikannya sendiri. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up