Beragama Bukan Untuk Mengalahkan Tetapi Menyelamatkan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 11 November 2015 . in Dosen . 3235 views

Misi agama apapun adalah untuk meraih keselamatan, baik keselamatan di dunia maupun keselamatan di akherat. Namun pada kenyataannya, misi keselamatan itu berubah menjadi mengalahkan. Seseorang merasa senang dan puas jika berhasil mengalahkan orang lain. Tatkala menang maka, dirinya merasa lebih kuat, benar, dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, ada saja orang beragama berusaha agar meraih kemenangan dan bukan sekedar keselamatan.

Ketika suatu tempat ibadah jama'ahnya lebih banyak dari tempat jama'ah lain maka disebut menang. Dianggap bahwa, tempat ibadah itu pengaruhnya lebih besar dan lebih kuat. Prestasi yang demikian itu dirasakan membanggakan. Padahal jumlah besar bukan ukuran bahwa kelompok itu berada pada pihak yang benar dan juga selamat. Dalam Islam, jumlah yang sedikit pun bisa disebut berada pada pihak yang menang.

Di banyak tempat di dalam al Qur'an disebut bahwa jumlah orang yang bersyukur, ikhlas, dan shaleh itu ternyata justru sedikit. Disebutkan dengan jelas 'qolillum min ibadi as syakuur. Ditegaskan bahwa hanya sedekit sekali hamba Allah yang mampu bersyukur. Nikmat Allah selalu melimpah, tetapi pada kenyataannya sangat sedikit orang yang mampu mennsyukuri nikmat itu. Maka artinya, jumlah orang yang benar, baik, dan shaleh itu selalu sedikit, atau selalu minoriotas.

Selain itu, jika saja beragama itu disebut mengalahkan terhadap yang lain, maka bukan kalah dalam arti yang lain itu menjadi menderita, dan atau apalagi mati, melainkan adalah justru sebaliknya. Mereka yang dikalahkan itu menjadi selamat, semakin hidup, dan bahkan mengalami maju dan sejehtera. Beragama tidak boleh atas dasar paksaan. Memaksa orang lain mengikuti agamanya adalah tidak dibolehkan. Dipersilahkan seseorang memilih agama sebagaimana yang diyakininya. Ditegaskan di dalam al Qur'an : 'la iqraha fi dien' atau tidak ada paksaan dalam beragama.

Sekalipun tidak boleh memaksa, seseorang beragama dianjurkan untuk menyampaikan keterangan tentang ajaran agamanya kepada orang lain. Ajaran agama tentang siapa sebenarnya Tuhan itu, siapa utusan-Nya, ajaran kasih sayang, keadilan, kejujuran, keharusan peduli kepada orang yang sedang memerlukan bantuan, dan lain-lain, agar disampaikan kepada sesama, baik kepada mereka yang sudah mendapatkan keterangan maupun yang belum. Namun demikian, ajakan itu juga harus disampaikan dengan cara bijak atau arif, agar tidak terjadi salah paham dan menyinggung perasaan orang lain.

Manakala agama dimaknai seperti tersebut itu, maka sebenarnya tidak perlu ada pembakaran atau pengrusakan tempat ibadah, seperti masjid, mushalla, gereja, vihara dan lain-lain. Merusak tempat ibadah agama apapun tidak dibolehkan. Demikian pula sebaliknya, membangun tempat ibadah juga tidak ada larangan. Islam tidak melarang terhadap pemeluk agama apapun membangun tempat ibadah. Hal itu sama, yaitu boleh merusaknya.

Bergama bukan untuk bermusuhan, melainkan agar justru agar saling mengenal, memahami, menghargai, menjalin kasih sayang, dan bertolong menolong. Merusak fasilitas dan atau mengganggu agama lain tidak boleh diartikan sebagai telah membela agama dan apalagi membela Tuhannya. Justru sebaliknya, Tuhan tidak membolehkan untuk mengganggu orang atau agama lain. Tuhan menuntun umatnya agar selamat, dan bukan saling merusak. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up