Berebut Menjadi Kekuatan Dominan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 23 November 2015 . in Dosen . 2518 views

Bagaimana pun tenangnya, di dalam kehidupan selalu terdapat gejala perebutan dominasi. Bahkan kehidupan terkecil yaitu keluarga, antara suami dan isteri dan apalagi ditambah dengan anak-anak, ternyata juga selalu terjadi perebutan dominasi. Masing-masing anggota keluarga, berkeinginan menjadi pihak yang paling dominan. Tidak pernah ada, di antara mereka yang mau menyerahkan keadaannya secara total keada pihak lainnya.

Semangat agar menjadi yang paling dominan di antara yang lain itu, maka di lingkungan unit terkecil dari kehidupan masyarakat, yakni keluarga sekalipun terjadi kompetisi, perebutan, dan bahkan juga konflik. Tidak ada tempat yang dihuni oleh orang yang berjumlah lebih dari satu, tetapi bebas dari kompetisi dan atau konflik itu. Oleh karena itu, jika di suatu tempat sepi dari konflik, maka justru akan dianggap aneh.

Di dalam konflik siapapun yang kuat akan meraih kemenangan. Kekuatan itu bisa beraneka ragam jenisnya, bisa berupa kemampuan berdeplomasi, kepintaran atau kecerdasan, kekayaan, persenjataan, dan lain-lain. Tidak pernah terjadi orang yang lebih lemah memperoleh kemenangan. Dengan demikian, kemenangan selalu identik dengan kelebihan. Oleh karena itu, jika umat Islam di mana-mana masih berada pada posisi kalah, maka sebenarnya umat Islam masih lemah.

Beberapa tahun terakhir umat Islam di beberapa negara menanggung beban yang amat berat. Negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim mengalami porak poranda, harus menanggung kekalahan. Sebut saja misalnya Irak, Syuriah, Yaman, Mesir, Libia, dan lain-lain. Lebih memprihatinkan lagi, oleh karena keadaan di negerinya tidak aman, untuk menyelamatkan diri, mereka terpaksa harus mengungsi ke negara-negara yang dipandang aman, sekalipun negara yang dituju itu bukan negara yang berpenduduk muslim.

Menghadapi kenyataan itu, pasti orang akan menyalahkan negara besar yang memiliki kekuatan lebih. Mereka memandang bahwa berbagai persoalan yang terjadi di masing-masing negara tersebut adalah sebagai ulah atau scenario negara-negara besar yang memiliki kekuatan lebih tersebut. Penjelasan itu kiranya tidak bisa dibantah, sebab di berbagai negara yang sedang mengalami konflik itu pasti di belakangnya terdapat kekuatan negara besar.

Hasil analisis tersebut kiranya tidak bisa dibantah, namun umat Islam sendiri seharusnya juga menyadari, bahwa mereka memiliki andil kesalahan, yaitu membiarkan dirinya tetap lemah. Menyadari bahwa umat Islam tidak memiliki kekuatan, tetapi juga tidak ada usaha serius untuk keluar dari kelemahannya itu. Rumusnya sedemikian mudah dipahami, bahwa dalam kehidupan selalu terjadi perebutan dominasi, dan siapapun yang kuat akan menang. Maka, umat Islam seharusnya memperkokoh dirinya. Manakala suatu negara, ------tidak terkecuali negara yang mayoritas muslim, menyandang berbagai kelemahan, maka selamanya pasti akan kalah.

Islam mengajarkan bahwa derajad yang tinggi hanya akan diraih oleh orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Namun pada kenyataannya sekarang ini, ilmu pengetahuan dan teknologi dikuasai oleh orang barat, yakni negara besar dan maju dimaksud. Sementara itu, negara-negara muslim belum banyak yang menyadari atas pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi itu.

Masyarakat muslim di mana-mana masih sibuk berdebat mengenai perbedaan pemahaman tentang Islam. Sementara itu masyarakat di negara maju, sudah sibuk membuat berbagai percobaan untuk mengembangkan teknologi. Umat Islam sibuk berdebat menentukan jatuhnya awal puasa dan hari raya, sementara itu, masyarakat barat sudah berhasil mendatangi bulan. Maka, sebenarnya menjadi sangat eronis. Konsep Islam mendorong umatnya maju, tetapi kemajuan yang dimaksudkan itu belum berhasil dipahami sepenuhnya.

Maka, hal yang diperlukan adalah pemahaman bahwa di dalam kehidupan ini selalu terjadi perebutan dominasi. Perebutan itu mulai dari komunitas yang paling kecil dan sederhana, yaitu di lingkungan keluarga, hingga komunitas yang paling besar, yaitu antar negara. Beberapa negara maju, baik di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akhirnya berhasil menguasai sumber-sumber fasilitas yang diperlukan bagi kehidupan. Oleh karena memiliki keunggulan, mereka menang. Mereka juga berusaha mempertahankan keunggulannya itu atas lainnya.

Maka sebenarnya, jika umat Islam menginginkan kemenangan dan atau mendominasi atas lainnya, maka yang seharusnya dilakukan adalah mengubah dirinya sendiri, yaitu dari lemah menjadi kuat, dari tertinggal harus mengambil posisi di depan, dari menyerah menjadi merebut, dari posisi miskin pengetahuan menjadi kaya ilmu pengetahuan, dari berkomunikasi terbatas menjadi pihak yang menguasai informasi dan komunikasi, dan seterusnya. Tentu pekerjaan itu berat, akan tetapi jika umat Islam pada suatu saat ingin menang dan mendominasi, maka harus memperkukuh dirinya dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan lainnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up