Pendidikan kadangkala dimaknai sederhana, yaitu agar siswanya lulus ujian akhir. baik dari ujian yang dilaksanakan oleh sekolah maupun pemerintah. Sementara itu yang dimaksudkan dengan ujian akhir juga sederhana saja, yaitu kegiatan menjawab soal-soal yang telah disusun oleh tim atau perorangan yang ditunjuk atau diberi kewenangan. Siapa saja yang berhasil menjawab sebagian besar pertanyaan dimaksud dianggap lulus. Seakan-akan ujian tidak ada kaitannya dengan ketinggian moral, perilaku atau akhlak seseorang.
Mata pelajaran yang diujikan biasanya juga disesuaikan dengan kurikulum dan mata pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya, misalnya biologi, matematika, sosiologi, psikologi, ekonomi, dan seterusnya. Ujian sama artinya dengan melihat seberapa banyak mata pelajaran yang telah diberikan sebelumnya dikuasai oleh para siswa yang bersangkutan. Dengan demikian, ujian bagaikan sekedar melihat isi otak para siswa setelah sekian lama, mereka diisi oleh para gurunya. Diumpamakan mengirisi air ke dalam gelas, maka ujian sama dengan melihat berapa bagian gelas itu yang telah terisi.
Jika pendidikan hanya dimaknai seperti itu, maka kegiatan yang dianggap sedemikian penting itu hanya dijalankan secara sederhana. Pendidikan hanya diumpamakan mengisi gelas dengan air, atau mengisi otak manusia dengan informasi, rumus-rumus, konsep, dan juga doktrin yang dianggap penting. Padahal sebenarnya semua pelajaran di sekolah, yaitu misalnya biologi, fisika, matematika, kimia, sosiologi dan seterunnya itu diajarkan agar terbangun watak, karakter atau akhlak mulia. Pelajaran itu seharusnya dipahami sebatas sebagai alat atau instrumen untuk membangun hal yang lebih penting dan mendasar sebagaimana yang dikemukakan tersebut.
Selain itu seharusnya dipahami bahwa karakter, perilaku, watak atau akhlak mulia tidak saja terbangun dari pengetahuan yang ada pada diri seseorang, melainkan masih banyak faktor lainnya yang mempengaruhinya. Jumlah pengetahuan yang dikuasai oleh seseorang tidak selalu sejalan dengan perilakunya. Seseorang mengetahui atau mengerti tentang sesuatu tetapi perilakunya tidak selalu sejalan dengan pengertian yang dimilikinya. Seseorang mengerti bahwa korupsi, mencuri, berbuat jahat adalah perbuatan buruk tetapi ternyata tidak semua orang yang mengerti hal itu pasti meninggalkannya. Para pelaku kejahatan sangat tahu bahwa apa yang dilakukan adalah salah, tetapi dilakukannya. Oleh karena itu membangun karakter, watak, perilaku dan akhlak mulia tidak cukup hanya ditempuh dengan cara memberi pengertian atau pemahaman, melainkan harus disempurnakan dengan pelatihan, pembiasaan, dan juga diberi tauladan.
Pada akhir-alhir ini, banyak orang merasa prihatin terhadap hasil pendidikan yang selama ini diraih. Lembaga pendidikan sudah semakin merata hingga di daerah-daerah terpencil atau pedalaman. Demikian pula jumlah perguruan tinggi sudah semakin banyak dan juga sudah ada di mana-mana. Banyak orang bergelar sarjana. Lulusan S2 dan bahkan S3 sudah semakin mudah di temui hingga ke daerah-daerah. Akan tetapi, di tengah-tengah pendidikan yang semakin maju, ternyata watak, perilaku, dan akhlak justru semakin dirasakan memprihatinkan. Padahal sudah menjadi keyakinan banyak orang bahwa ilmu pengetahuan tidak memberi arti apa-apa bagi kehidupan ini jika tidak dibarengi oleh karakter, perilaku dan akhlak mulia.
Pendidikan seharusnya melahirkan akhlak mulia. Berbagai jenis ilmu pengetahuan yang diberikan di lembaga pendidikan seharusnya dipahami sebagai alat atau instrumen, yaitu untuk membangun karakter dan akhlak mulia itu. Namun seringkali kegiatan orang berhenti pada alat, dan tidak sampai pada tujuan yang sebenarnya dikehendaki. Berhasil mendapatkan dan memahami pengetahuan sebenarnya baru setahap untuk membangun perilaku atau akhlak. Belum tentu orang yang berhasil memperoleh alat atau instrumen itu juga sekaligus menggunakannya. Itulah sebabnya, institusi pendidikan seharusnya tidak cukup menjalankan fungsi-fungsi pengajaran, tetapi juga harus mendidik melalui pembiasaan dan memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari, agar tujuan mulia pendidikan, yaitu membangun akhlak mulia berhasil diraihnya. Wallahu a'lam .



