Memahami Suasana Kebencian
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 2 November 2015 . in Dosen . 19023 views

Pada akhir-akhir ini kebencian antar sesama semakin mudah ditemukan di mana-mana. Mengolok-olok, merendahkan dan bahkan hingga menghina orang, kelompok, organidsasi atau madzhab lain dianggap sebagai sesuatu yang dibenarkan. Padahal al Qur'an jelas sekali, bahwa melakukan hal itu tidak dibolehkan dan bahkan dilarang.

Kebencian muncul adakalanya ada sebabnya, tetapi sebaliknya juga bisa saja dari sebab yang tidak jelas. Seseorang membenci orang lain, sekelompok, organisasi atau aliran tertentu tanpa ada sebab, atau tanpa didahului oleh komunikasi sebelumnya. Agar kebenciannya itu beralasan maka kemudian dicari-cari kesalahan dari orang yang dibencinya itu.

Membenci kepada orang yang memang benar-benar telah dirasakan merugikan terhadap dirinya adalah wajar. Akan tetapi kebencian ternyata juga bisa muncul tanpa sebab. Seseorang bisa membenci orang, kelompok, organisasi, suku, aliran atau madzhab lain, tanpa diketahui sebabnya terlebih dahulu. Demikian demikian, hanya alasan berbeda maka dianggap pantas tidak saling berkomunikasi dan bahkan membenci.

Anehnya lagi, orang yang dibenci, oleh karena tidak ada sebab yang mendahului kebencioan itu, maka tidak mengerti jika dirinya dibenci. Mereka tahu bahwa dirinya dibenci setelah mendapatkan keterangan dari pihak lain yang mengetahuinya. Padahal dengan membenci orang, maka pasti hati yang bersangkutan sendiri yang merasa sakit. Sementara itu, orang yang dibenci belum tentu mengetahui dan apalagi merasa sakit. Oleh karena itu, membenci orang, sebenarnya adalah sama dengan menyiksa dirinya sendiri.

Pada akhir-akhir ini, terdengar bahwa antar kelompok saling membenci. Jika ada sesuatu yang dianggap salah, maka segera kelompok lain yang dianggap penyebabnya. Ketika terjadi musibah Mina dalam musim haji beberapa bulan yang lalu misalnya, maka saling tuduh menuduh. Kelompok tertentu dianggap bertanggung jawab dan menjadi pembuat skenario terjadinya musibah itu. Muncul dari adanya musibah itu sebutan kelompk sunny, sy'ah, wahabi, salafy, dan sejenisnya.

Tuduh menuduh, benci membenci antar orang dan atau antar kelompok dimaksud ternyata tidak mudah dihentikan. Seolah-olah permusuhan di dalam Islam dibolehkan. Padahal kehadiran Islam itu sendiri sebenarnya adalah justru untuk menghetikan permusuhan. Suasana batin saling membenci antar sesama adalah dilarang di dalam Islam, dan menggambarkan bahwa yang bersangkutan sedang tidak sehat.

Manusia adalah berasal dari umat yang satu, diciptakan oleh Tuhan yang satu, dihidupkan pada alam yang satu, dan kelak semuanya akan dipanggil oleh Tuhan yang satu pula. Semua saja diperintahkan untuk menysukuri nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya, dianjurkan beriman, dan beramal shaleh, serta menjaga akhlak mulia.

Perintah yang sedemikian indah itu ternyata diingkari oleh banyak orang. Manusia lebih memilih saling berseteru, menganggap yang lain lebih rendah, mengolok-olok, konflik, bertengkar, dan bahkan saling bunuh membunuh. Mereka menyangka bahwa ketika berhasil mengecewakan, mengalahkan, dan bahkan membinasakan orang, organisasi atau kelompok lain dianggap beruntung. Padahal, sebagaimana diterangkan oleh Nabi, orang yang bermusuhan, baik yang kalah ataupun yang menang kelak berada pada posisi yang sama, yaitu di neraka. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up