Persoalan pendidikan yang tidak mudah dijawab bukan saja terkait penyediaan fasilitas pendidikan, pendanaan, dan kecukupan jumlah guru, tetapi yang tidak kurang sulitnya adalah membangkitkan semangat belajar para siswa. Mencari uang untuk mencukupi kebutuhan sekolah, ---apalagi sekolah swasta, terasa sulit, tetapi menurut berbagai pengalaman, yang lebih sulit lagi adalah membangkitkan semangat belajar. Agar para siswa rajin dan tepat waktu datang ke sekolah bisa didisiplinkan dengan daftar hadir atau peraturan lainnya. Akan tetapi setelah berada di sekolah, ternyata mereka tidak mudah dipaksa agar belajar secara serius.
Mendengarkan keluhan dari berbagai kalangan, saya teringat perumpamaan seorang pengembala kuda yang sedang berusaha memaksa kudanya mendaki gunung. Menarik kuda ke atas gunung, bukan merupakan pekerjaan mudah. Kuda harus ditarik dengan tali, sementara itu penggembalanya sendiri harus memanjat tebing yang curam. Tapi dengan berbagai cara yang dilakukan, kesulitan dimaksud bisa diatasi dan akhirnya berhasil, yakni kudanya bisa dibawa hingga ke puncak gunung.
Namun setelah tugas tersebut berhasil, ada pekerjaan baru yang lebih sulit lagi dilakukan, yaitu ketika penggembala harus memaksa kudanya untuk meminum air yang telah disediakan. Penggembala tersebut menghendaki agar tetap sehat, kudanya meminum sebanyak-banyaknya. Akan tetapi, entah oleh karena kecapekan, kudanya tidak punya nafsu minum. Penggembala tersebut berkeinginan memaksanya, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara memaksa kuda dimaksud agar mau minum. Pengembala tersebut berhasil membawa kudanya menaiki gunung, tetapi ternyata tidak sanggup memaksanya untuk meminum air yang telah disediakan.
Kisah imajinatif tersebut kiranya serupa dengan tugas para guru, dosen, ustadz atau juga para kyai dalam mendidik para siswa dan santri-santrinya. Mereka berhasil menyediakan sarana dan sarana pendidikan dan juga kebutuhan lainnya. Akan tetapi menjadikan para siswa, mahasiswa dan atau santri mau belajar keras, ternyata tidak mudah. Agar para siswa dan santri giat belajar, maka sehari-hari oleh kepala sekolah dan para gurunya, mereka dimotivasi, diberi hadiah, daftar hadirnya diperketat, dan seterusnya, tetapi harapan itu tidak juga berhasil maksimal. Mereka belajar belum atas dasar kemauannya sendiri, melainkan baru sebatas memenuhi tuntutan formal, sehingga hasilnya tidak akan maksimal. Aktifitas belajar di kalangan para siswa atau santri dirasakan belum menjadi kebutuhan, tetapi baru dirasakan sebagai kewajiban.
Menjadikan para siswa atau santri bersemangat belajar atas dorongan diri mereka sendiri ternyata bukan perkara mudah. Banyak cara yang telah dilakukan, misalnya dengan peraturan yang harus diikuti, pemberian hadiah atau penghargaan, penciptaan suasana belajar, dan lain-lain. Pemberlakuan peraturan misalnya, setiap siswa diharuskan mengikuti ujian dan bahkan ujian nasional. Atas dasar peraturan dimaksudkan, mereka akan giat belajar tetapi ternyata hanya dilakukan sekedar agar lulus. Setelah tujuan dimaksud tercapai, yaitu mereka lulus ujian dan memperoleh ijazah, ternyata banyak di antara mereka yang melupakan ilmu dan juga buku-buku yang telah dikumpulkan sebelumnya. Berbagai mata pelajaran yang sekian lama dipelajari, seakan-akan belum berhasil membekas pada hati dan pikirannya. Mereka yang telah lulus biologi misalnya, tidak bisa dibedakan dengan mereka yang belum pernah mempelajari ilmu dimaksud. Munculnya ijazah palsu hingga meresahkan masyarakat pada akhir-akhir ini sebenarnya bisa diduga karena tidak ada beda antara mereka yang telah bekajar dan lulus dengan mereka yang sama sekali belum perah mengenyam pendidikan.
Untuk menyelesaikan persoalan dimaksud, maka kiranya sudah waktunya dicari pendekatan yang lebih strategis dan mengena. Mungkin perlu digali tentang kekuatan yang sebenarnya menjadi penggerak perilaku manusia. Melalui kekuatan itulah, apa yang sebenarnya diinginkan oleh kegiatan pendidikan bisa dikembangkan. Mungkin bisa dirasakan bersama bahwa, seseorang mau bergerak oleh karena ada peraturan yang memaksanya, ada keuntungan atau kesenangan yang akan diperoleh dari kegiatan dimaksud, ada resiko jika tidak melakukan kegiatan tersebut, dan atau lainnya. Selain itu, sebenarnya masih ada kemungkinan lainnya, yaitu ada kesenangan, hoby atau mencintai terhadap pelajaran yang diberikan oleh guru atau ustadznya. Motivasi yang tumbuh dari adanya peraturan, hadiah, dan sejenisnya, biasanya tidak diikuti oleh ketulusan dan keikhlasan. Kegiatan yang tidak diikuti oleh ketulusan atau keikhlasan tidak akan membawa hasil maksimal.
Berbeda jika kegiatan itu dilakukan atas dasar kesenangan, hoby atau kecintaan, maka akan melahirkan suasana senang, gembira, bersungguh-sungguh dalam menjalankannya. Kegiatan yang dilakukan atas dasar rasa senang dan apalagi didorong oleh suasana kecintaan, maka selain akan dilakukan secara tulus, dan atau ikhlas, maka juga akan muncul kesediaan berkorban demi terlaksananya kegiatan dimaksud. Manakala para siswa dan satri dalam belajarnya sudah didasarkan atas rasa senang dan mencintai berbagai pelajaran itu, maka dapat dipastikan pendidikan akan meraih hasil maksimal. Selain itu, kejujuran, kesungguhan, dan lain-lain yang diharapkan oleh semua pihak akan bisa diraih. Hanya saja persoalan yang masih seharusnya dicari jawabnya lebih lanjut adalah, bagaimana menjadikan para siswa dan satri mencintai mata pelajaran yang dimaksudkan itu. Inilah yang perlu dibahas dan didiskusikan lebih lanjut, untuk mendapatkan jawaban yang tepat. Wallahu' a'lam



