Banyak orang mengira bahwa memimpin diri sendiri itu mudah, padahal ternyata tidak gampang. Seseorang dan apalagi yang bersangkutan sedang berkuasa, bisa menyuruh bawahannya untuk melakukan sesuatu dengan mudah, tetapi tatkala harus menjalani sendiri belum tentu kuasa. Orang lain dengan diberi uang, disodori peratiran, atau dipaksa bisa mengikuti perintah. Sementara dirinya sendiri diajak melakukan sesuatu, sekalipun sesuatu itu baik dan mulia, belum tentu berhasil.
Sudah diyakini bahwa membaca al Qur'an secara istiqomah itu harus dilakukan secari-hari, tetapi pada kenyataannya tidak semua orang yang meyakini hal itu melakukannya. Banyak orang mempercayai bahwa shalat subuh berjama'ah di masjid itu harus dilakukan, akan tetapi ternyata tidak banyak orang yang mampu menjalankannya. Demikian pula menyantuni anak yatim, membantu orang miskin, berzakat, ifaq dan shadaqoh harus dilakukan, tetapi ternyata betapa berat menjalankannya.
Orang yang tidak mampu memimpin diri sendiri bukan saja dari mereka yang tidak berpendidikan, berpangkat rendah, rakyat jelata, terbatas dari kelompok tertentu, tetapi pada kenyataannya berasal dari semua kalangan. Bahkan tidak sedikit para pemimpin, guru, dosen, kalangan orang kaya, modern, dan semacamnya ternyata gagal tatkala harus memimpin dirinya sendiri. Memimpin diri sendiri tidak semudah memimpin orang lain. Memaksa diri sendiri pada kenyataannya tidak lebih mudah memaksa orang lain.
Umpama setiap orang berhasil memimpin dirinya sendiri maka kehidupan di dunia ini akan sedemikian indah. Pada hati atau diri setiap orang selalu tumbuh keinginan untuk melakukan kebaikan, kejujuran, keadilan, dan peduli sesama. Namun sayangnya, kehendak berbuat baik itu tidak selalu berhasil diwujudkan, bukan oleh karena adanya hambatan dari orang lain, melainkan justru dari dirinya sendiri. Mereka sendiri tidak mampu menjalankannya.
Selain dorongan berbuat baik, pada diri setiap orang terdapat kekuatan yang menjadikan mereka enggan atau tidak berkuasa melakukan kebaikan. Dorongan berbuat baik itu selalu berhadapan dengan dorongan untuk meninggalkannya. Sedangkan memenangkan dorongan untuk melakukan kebaikan atas keburukan itu ternyata bukan perkara mudah, tidak terkecuali bagi para pemimpin sendiri.
Menghadapi kenyataan tersebut, bagi orang yang beragama menempuh dengan cara berdo'a, memohon kepada Tuhan, agar diberi kekuatan untuk memerangi apa yang disebut dengan hawa nafsu yang mendorong pada keburukan dimaksud. Pada hakekatnya, orang menjalankan shalat lima waktu, berpuasa di bulan ramadhan, berzakat, dan bahkan haji, beramal shaleh dan lain-lain adalah agar berhasil meraih kualitas dalam menjalani kehidupannya. Orang yang berkualitas itulah disebut mampu memimpin diri sendiri.
Menyadari tugas berat memimpin diri sendiri itu, maka siapa saja seharusnya tidak perlu berintervensi terlalu jauh, ikut mengurusi orang lain. Adakalanya dirinya sendiri belum melakukan kebaikan, tetapi mereka sudah sedemikian bersemangat mengajak orang lain berbuat baik. Rasulullah berpesan, agar tatkala mengajak orang lain melakukan sesuatu kebaikan, maka supaya memulai dari dirinya sendiri. Jika seseorang telah melakukan hal yang demikian itu, maka artinya yang bersangkutan sudah berhasil memimpin dirinya sendiri. Wallahu a'lam.



