Menjadi Dosen Yang Dicari-Cari Mahasiswa
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 17 November 2015 . in Dosen . 2758 views

Pada kenyataannya tidak semua dosen selalu dicari mahasiswanya. Ada saja dosen yang diikuti oleh mahasiswanya oleh karena sekedar namanya terpampang pada jadwal kuliah yang harus diikuti. Mungkin saja mata kuliah yang dimaksudkan itu sebenarnya menarik dan dibutuhkan, tetapi oleh karena dosen yang bersangkutan dianggap tidak mampu menunaikan tugasnya dengan baik, maka mahasiswa mengikuti kuliah hanya dalam keadaan terpaksa.

Memang tidak semua perguruan tinggi berhasil menyediakan dosen yang berkualitas. Ukuran kualitas itu biasanya hanya dilihat dari latar belakang pendidikan, misalnya bergelar Doktor (S3), banyaknya pengalaman memberi kuliah, dan sejenisnya. Namun di dalam ruang kuliah, ternyata dosen yang bergelar Doktor tidak selalu menggambarkan kualitas yang diharapkan itu. Ada saja dosen yang belum Doktor dan masih baru tetapi justru diminati oleh mahasiswa oleh karena mampu menjelaskan materi kuliah dengan baik, menginspirasi, dan lainnya.

Perguruan tinggi tidak gampang mencari dosen yang menarik sebagaimana harapan mahasiswanya. Mengetahui bahwa seseorang pantas menjadi dosen atau tidak, biasanya hanya dilihat dari latar belakang pendidikannya, misalnya ijazah dan transkripnya, status akreditasi perguruan tinggi yang mengeluarkan ijazah itu, dan sejenisnya. Calon dosen yang memenuhi kriteria itu dianggapnya mampu, tetapi pada kenyataannya tidak sebagaimana digambarkan itu.

Mahasiswa belajar ke perguruan tinggi adalah untuk mencari ilmu. Oleh karena itu kehadiran dosennya untuk memberi kuliah di kampus seharusnya ditunggu-tunggu. Akan tetapi lagi-lagi kenyataannya tidak selalu demikian. Ada saja mahasiswa yang ketika dosennya tidak masuk justru bergembira. Hal demikian itu menandakan, bahwa perkulihannya kurang menarik, setidaknya bagi mahasiswa yang merasa gembira itu. Mereka mengikuti kuliah hanya sekedar memenuhi daftar hadir agar pada akhir semester berhak mengikuti ujian.

Kenyataan tersebut sebenarnya merupakan problem mendasar yang harus diselesaikan oleh banyak perguruan tinggi. Mencari dosen berkualitas hingga selalu dicari-cari oleh para mahasiswanya ternyata tidak mudah. Akibatnya, perguruan tinggi yang bersangkutan menggunakan dosen yang hanya memenuhi syarat formal. Sementara itu, meningkatkan kemampuan dan kualitas dosen juga tidak mudah. Cara yang bisa ditempuh hanyalah mengirim mereka untuk studi lanjut. Namun strategi itu ternyata juga tidak menjamin bahwa setelah lulus yang bersangkutan memenuhi harapan, yakni menjadi dosen yang dicari-cari oleh mahasiswanya.

Menilai bahwa mahasiswa di suatu kampus tidak memiliki minat yang kuat terhadap ilmu, sebenarnya tidak selalu tepat. Buktinya, jika di suatu saat hadir seorang dosen tamu yang dikenal memiliki ilmu dan pengalaman yang luas, ternyata mahasiswa berbondong-bondong ikut mendengarkan kuliahnya. Keadaan itu menggambarkan bahwa, sebenarnya mahasiswa masih memiliki semangat untuk mendapatkan ilmu. Tetapi ternyata, mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa untuk mendapatkan guru atau dosen yang benar-benar berilmu tidak mudah. Orang yang secara formal dianggap kaya ilmu, tetapi gambaran itu tidak selalu terbukti.

Sebenarnya, seseorang yang berhasil meraih gelar akademik tertentu, apalagi lulus Doktor misalnya, telah memiliki kemampuan untuk mengembangkan ilmu yang ada pada dirinya. Namun potensi dan kemampuan itu pada kenyataannya tidak selalu dikembangkan. Setelah lulus menjadi Doktor, yang bersangkutan tidak pernah meneliti, tidak pernah menulis, dan tidak mengikuti perkembangan ilmu yang begitu cepat. Akibatnya, seorang bergelar Doktor pun bisa ketinggalan, dan ketika memberi kuliah tidak menarih, tidak memberi tambahan ilmu, dan juga tidak mengisnpirasi kepada mahasiswanya.

Padahal, sebagai seorang ilmuwan di kampus, pekerjaan meneliti, menulis, berdiskusi dengan teman sejawat, mengikuti seminar dan berbagai pertemuan ilmiah seharusnya adalah menjadi kegiatan rutin. Jika tugas-tugas itu selalu dilakukan atau bahkan menjadi bagian hidupnya, maka yang bersangkutan akan menjadi dosen yang dicari-cari mahasiswanya, dan bukan justru sebaliknya, yaitu diharapkan tidak hadir. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up