Pelajaran Agama Di Sekolah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 13 November 2015 . in Dosen . 11216 views

Sudah menjadi pandangan umum bahwa pelajaran agama itu adalah penting dan harus diberikan kepada semua siswa. Bahkan, keharusan belajar agama itu juga telah ditetapkan di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Oleh karena itu maka pelajaran agama wajib diberikan dan diikuti oleh semua siswa, sehingga seharusnya semua anak yang pernah sekolah mengerti tentang agamanya dan sekaligus seharusnya juga menjalankannya.

Terkait pendidikan agama, yang selama ini masih dikeluhkan adalah tentang keterbatasan waktu yang disediakan untuk mata pelajaran itu. Persoalannya bukan menyangkut perlu atau tidak perlu, penting atau tidak penting pelajaran agama diberikan, melainkan tentang jumlah jam pelajaran yang terlalu sedikit. Waktu yang disediakan dianggap tidak cukup. Jumlah jam pelajaran agama, menurut para guru agama, perlu ditambah, agar para siswa setelah dinyatakan lulus benar-benar mengerti agamanya dan terbiasa menjalankannya.

Dalam suatu kesempatan, saya mencoba untuk membuka buku-buku pelajaran, termasuk pelajaran agama yang dimiliki oleh cucu saya yang berada di kelas 6 Sekolah Dasar di Jakarta. Dalam buku itu sudah tergambar materi apa saja yang dipelajari dalam waktu tertentu. Berbagai topik bahasan dikemukakan dalam buku dimaksud, dan juga dilengkapi demikian pula dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh para siswa untuk mengetahui sejauh mana isi buku pelajaran itu dipahami.

Tentang bagaimana buku itu diajarkan pada setiap jam pelajaran, kiranya para guru agama sudah ditatar sehingga mereka bisa menjalankan dengan tepat. Hanya yang perlu direnungkan adalah tentang isi buku yang disebut sebagai pelajaran agama Islam itu. Melalui buku dimaksud, para siswa diajak memahami beberapa surat pendek dalam al Qur'an, tentu atas pilihan pengarangnya. Selanjutnya, masih di dalam isi buku tersebut, para siswa diajak memahami sejarah Islam, dan kemudian penjelasan tentang cara-cara menjalankan kegiatan ritual dalam Islam.

Membaca buku tersebut, siapapun kiranya akan sulit membayangkan, perilaku apa yang ingin ditumbuhkan dari materi pelajaran agama tersebut. Surat-surat pendek dalam al Qur'an yang dipilih di dalam buku tersebut terasa kurang nyambung. Pemilihan itu rupanya dilakukan sekedarnya. Mungkin pertimbangannya sederhana saja, yaitu agar para siswa mengerti kandungan surat-surat pendek itu. Tetapi tidak terbayangkan, betapa sulitnya bagi guru dan juga murid memenuhi tuntutan itu, oleh karena keterbatasan para siswa dalam mengenal Bahasa Arab. Maka akibatnya, perilaku keagamaan belum tentu terbentuk, tetapi yang terjadi adalah kesan 'sulit' mempelajari agama.

Hal selanjutnya yang tidak mudah dimengerti dari pelajaran agama yang selalu disebut jumlah jamnya sangat terbatas itu adalah tentang materi sejarah yang diberikan. Lebih dari sepertiga isi buku tersebut, berisi tentang kisah-kisah orang jahat di zaman Rasulullah. Nama-nama Abu jahal, Abu Lahab, dan lain-lain diterangkan di dalam buku itu. Selain itu, juga berbagai peperangan diterangkan, hingga belajar agama seolah-olah adalah belajar tentang perang. Sayangnya, sejarah para sahabat nabi yang tulus, shaleh, dan berakhlak mulia justru tidak dimasukkan di dalam buku pelajaran agama dimaksud.

Akhirnya, dari membaca buku tersebut, saya memperoleh kesan bahwa belajar agama Islam terasa sulit dan dilakukan hanya sekedar sebagai kewajiban yang harus ditunaikan. Demikian pula para siswa mengikuti pelajaran itu agar lulus. Jika demikian itu yang terjadi, maka dari pelajaran agama itu belum banyak yang diperoleh. Pelajaran agama seharusnya diarahkan agar para siswa mengenal Tuhan dengan sifat-sifat-Nya yang mulia, utusan atau Rasul-Nya yang akhlaknya sedemikian indah, dan seterusnya. Dengan pelajaran itu maka diharapkan perilaku siswa setelah lulus menjadi semakin baik dan terpuji.

Pelajaran agama berisi konsep dan contoh-contoh perilaku yang seharusnya dijalankan sebagai seorang muslim setiap hari. Menyebut jumlah jam pelajaran agama yang masih kurang, tetapi waktu yang terbatas itu ternyata hanya diisi dengan sesuatu yang terasa kurang ada relevansinya dengan kehidupan sehari-hari, maka akan semakin jauh dari maksud diberikannya pelajaran agama itu sendiri. Melalui pelajaran agama seharusnya pada masing-masing siswa tumbuh kesadaran tentang keberadaan dirinya, tanggung jawab, dan perilaku indah yang seharusnya ditampakkan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Selain itu, agama seharusnya selalu ditampakkan di dalam kehidupan sehari-hari, tidak terkecuali dalam kehidupan di seolah. Misalnya, mulai dari bagaimana berkomunikasi dengan kepala sekolah, para guru, sesama siswa, menjaga lingkungan, dan bahkan juga dalam menjalankan kegiatan ritual. Jika demikian itu yang dilakukan, maka pelajaran agama tidak akan sulit dan membebani para siswa. Jumlah pelajaran agama yang disebut terbatas itu akan menghasilkan sesuatu yang bermakna dan terasa banyak. Sebaliknya, pelajaran agama bukan lagi dirasakan sebagai hal yang membebani dan membosankan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up