Orang menghujat itu pertanda bahwa yang bersangkutan sedang marah dan atau sakit hati. Tidak mungkin orang yang lagi bersenang-senang mengeluarkan kalimat yang tidak menyenangkan orang lain. Jika hal itu dilakukan, mungkin saja bermaksud sekedar bercanda atau mengundang tawa. Tapi bagi orang yang bernar-benar lagi bergembira, dan apalagi saling menyayangi dan menghormati, maka tidak akan mungkin mengeluarkan kata yang tidak pantas didengar.
Orang yang sedang marah, biasanya hati dan pikirannya tidak terkontrol. Untuk melampiaskan kemarahannya, mereka akan menyampaikan apa saja yang bisa dikatakan. Tentu siapa saja yang mendengarkan ucapan orang yang tidak terkontrol, hatinya akan sakit dan juga marah. Pertengkaran akan terjadi dan bahkan juga mungkin berlanjut dengan saling menyerang secara fisik. Serang menyerang biasanya dimulai dari pertengkaran mulut.
Orang-orang yang saling serang menyerang adalah pertanda, mereka sakit semua. Tidak tanggung-tanggung bahwa yang sakit adalah hatinya. Padahal hati merupakan pusat penggerak perilaku. Jika hatinya sakit, maka orang akan melakukan apa saja yang bisa dilakukan, sekalipun pasti mengganggu dan bahkan mencelakakan orang lain.
Pada akhir-akhir ini, setelah berkembangnya media sosial sepertu facebook, twiter, scrib, dan lain-lain, banyak orang menyampaikan rasa kejengkelan atau kemarahannya melalui media sosial itu. Tentu dampaknya akan sangat luas. Siapapun bisa membacanya. Bisa dibayangkan, lewat media sosial itu, maka betapa banyak orang yang diajak bersama-sama menjadi jengkel, marah, dan atau sakit hati.
Orang marah adalah dirinya sendiri yang sedang sakit. Namun jika kemarahan itu disampaikan kepada orang lain, ---termasuk lewat media sosial, maka sangat mungkin orang yang ikut marah semakin banyak jumlahnya. Memang, orang yang berhati sehat, tidak mudah ikut-ikut marah. Mereka sadar bahwa marah dengan mengeluarkan kata yang menyakitkan hati orang lain akan merugi sendiri. Padahal orang yang menjadi sasaran kemarahan belum tentu ikut marah, dan apalagi jika yang bersangkutan tidak mengetahui bahwa dirinya sedang dimarahi atau disumpah serapah.
Norma apa saja, baik itu berupa adat istiadat, sopan santun, tata krama, dan apalagi agama, tidak ada yang membolehkan terjadinya saling olok mengolok, menyinggung perasaan, merendahkan, menghujat, dan sebagainya. Dikatakan di dalam al Qur'an bahwa orang yang mengolok atau menghujat belum tentu lebih baik dari mereka yang dihujat. Al Qur'an memberi petunjuk tentang sesuatu yang sedemikian mulia yang seharusnya menjadi pilihan.
Memang ada saja, mendasarkan pada konsep demokrasi, orang berbicara, berpendapat, dan berekspresi secara bebas. Mereka melakukan hal itu untuk menuntut hak-haknya, agar tidak diperlakukan sewenang-wenang atau aniaya, dirugikan, ditindas, dan sejenisnya. Mereka melakukan perbuatan itu hanya karena keterpaksaan. Bukankah orang yang sedang terjepit, atau dalam keadaan bahaya boleh berteriak meminta tolong. Tentu boleh saja, tetapi tentu tidak seharusnya dilakukan dengan cara menyakiti hati orang lain.
Mengharapkan orang lain melakukan dan atau tidak melakukan sesuatu, setidaknya ada dua cara. Pertama, adalah dengan kekerasan. Orang lain diolok-olok, dicaci-maki, atau dihujad agar tidak melakukan sesuatu yang dirasa merugikan atau menyusahkan. Cara ini kadang berhasil, oleh karena orang juga tidak mau diolok-olok, dihujat, dan apalagi direndahkan. Kedua, adalah sebaliknya, yaitu menyenangkan. Orang yang sedang berhati longgar dan senang, maka akan bersedia melakukan apa saja untuk menyenangkan orang lain.
Oleh karena itu, jika pada akhir-akhir ini, hingga Kapolri membuat surat edaran agar masyarakat tidak mengeluarkan kata yang menyakitkan, adalah agar tidak semakin banyak orang yang sakit hati. Menyampaikan aspirasi dan pendapat seharusnya memilih cara bijak, sebagaimana disebut di muka. Umpama siapa saja boleh menghujat, maka alangkah banyak orang sakit hati. Lebih dari itu, bangsa ini akan menjadi sakit, sehari-hari hanya berolok-olok, saling merendahkan, dan memproduk kemarahan. Tentu, seharusnya tidak begitu. Wallahu a'lam



