Siapapun kiranya dalam menjalani hidup menghendaki kedamaian. Hidup damai menjadi dambaan setiap orang. Namun pada kenyataannya, kedamaian itu ternyata tidak mudah didapat. Sehari-hari orang selalu bersinggungan dan atau berkomunikasi dengan orang lain. Dalam berkomunikasi, maka terjadi persaingan, perebutan, konflik, dan bahkan juga perang. Kerjasama, kolaborasi, berorganisasi juga terjadi. Akan tetapi, justru dengan bekerjasama dan berorganisasi juga terjadi salah paham hingga melahirkan konflik dan perpecahan.
Oleh karena itu, dalam kehidupan ini selalu terdapat musuh, baik berskala kecil, menengah atau besar. Agama datang ke muka bumi sebenarnya adalah agar permusuhan itu berhenti. Akan tetapi ternyata justru dengan agama itu pula, banyak orang bermusuh-musuhan. Penganut agama yang satu merasa harus bersaing dengan penganut agama lainnya. Tidak ada di antara penganut agama yang berbeda saling bertemu, mencari solusi terhadap adanya perbedaan. Sebaliknya, justru yang terjadi adalah saling menjauh dan berebut kemenangan.
Kompetisi dan bahkan konflik tidak saja antar agama, tetapi juga antara aliran, madzhab, dan organisai intern agama yang berbeda-beda. Perkembangan agama ternyata juga diikuti semakin banyaknya jumlah aliran, sekte, madzhab dan organisasi keagamaan. Rupanya tidak pernah ada agama yang ditinggalkan oleh pemeluknya, dan begitu pula aliran madzhab, dan sekte agama yang berbeda-beda itu. Akibatnya, semakin lama jumlah agama dan aliran-alkirannya , di mana-mana, semakin banyak . Sebagai konsekuensi dari kenyataan itu maka konflik terkait dengan agama juga sulit sekali dibayangkan akan berkurang.
Sebagai misal di Indonesia, jumlah organisasi dan aliran keagamaan tidak pernah berkurang. Dahulu hanya ada beberapa organisasi Islam, tetapi sekarang ini aliran dan organisasi baru bermunculan. Antar organisasi Islam sendiri juga saling bersaing, berkompetisi, dan bahkan juga bergesekan. Pada hakekatnya, di antara mereka ingin mengenalkan Islam, tetapi rupanya gambaran ideal Islam yang dimaksudkan juga berbeda-beda. Perbedaan di antara mereka itu telah disadari hanya menyangkut hal kecil, yaitu mengenal persoalan furu' atau canbang, tetapi ternyata juga tidak mudah dicari titik temu dan disatukan.
Akhirnya di antara mereka saling berkompetisi dan atau bahkan juga secara diam-diam juga saling bermusuhan. Terasa menjadi aneh. Pada zaman Nabi, Islam datang untuk menyelesaikan pertikaian, menghilangkan diskriminasi, penindasan, jarak sosial yang terlalu jauh. Selain itu dahulu, Nabi mengajarkan tentang tauhid, hendaknya di antara manusia saling mengenal, saling mencintai, dan bertolong menolong. Hendaknya semua manusia mengembangkan akhlak mulia, menjauhkan diri dari konflik, permusuhan, saling curiga mencurigai, mengadu domba, saling memfitnah, dan semacamnya. Namun pada perkembangan selanjutnya, permusuhan intern agama terjadi hanya disebabkan oleh hal kecil, sederhana atau sepele.
Maka, harus ada kesadaran baru, bahwa agama, ---tidak terkeciuali Islam, sebenarnya mengemban misi kedamaian. Bermusuhan dalam beragama itu sebenarnya tidak harus ada. Kehadiran agama seharusnya bukan untuk bermusuhan, melainkan untuk mendamaian orang-orang yang sedang bermusuhan dengan berbagai macam sebab, sebagaimana disebutkan di muka. Oleh karena itu, musuh seharusnya didekati, dan bukan dihadapi. Berhadap-hadapan dengan musuh sama artinya dengan membangun permusuhan atau peperangan. Oleh karena itu, setiap musuh seharusnya didekati. Musuh juga bukan dihancurkan, melainkan dengan berbagai cara yang memungkinkan, mereka disadarkan bahwa hidup ini seharusnya dijalani bersama-sama dan saling membangun kedamaian.
Mendasarkan pada misi agama, yakni membangun kedamaian, maka musuh harus didatangi, didekati, dan dibangun sillaturrahmi. Musuh pun harus disayangi. Mereka harus dicegah melakukan kerusakan, bertikai, dan apalagi membunuh. Nabi Muhammad ketika menghadapi suku Quraiys, Bangsa Arab Jahiliyah yang sangat membencinya, juga tidak serta merta dilawan dan dihancurkan. Utusan Allah itu dengan berbagai cara berusaha membangun kesadaran tentang pentingnya kedamaian. Hal itu tidak mudah dilakukan, oleh karena kerasnya tantangan yang dihadapi pada waktu itu, yakni Bangsa Arab Jahiliyah. Musuh oleh Muhammad didekati dengan kasih sayang, perilaku adil, jujur, dan sifat-sifat mulia lainnya. Intinya, musuh oleh Rasul ternyata justrui didekati, dan selanjutnya diubah watak dan perangainya. Misi terpenting Islam adalah memperbaiki akhlak, sehingga musuh harus diubah menjadi teman atau sahabat. Permusuhan harus dihindari, apalagi menyangkut soal sepele, misalnya hanya terkait tentang boleh tidaknya kenduri memperingati mauludan dan sejenisnya. Wallahu a'lam



