Setiap pemimpin pasti menghendaki kepemimpinannya sukses. Namun untuk memenuhi harapannya itu ternyata tidak mudah. Salah satu di antara kendalanya adalah menggerakkan mereka yang dipimpinnya itu, ternyata tidak mudah. Banyak orang juga banyak karakter. Masing-masing orang memiliki watak, perilaku, dan atau sifat yang berbeda-beda. Menggerakkan banyak orang yang beraneka karakter itulah menjadikan pekerjaan tersebut tidak sederhana.
Banyak buku membahas tentang kepemimpinan, termasuk di dalamnya adalah tentang cara memotivasi orang lain. Demikian juga banyak hasil penelitian yang dipublikasikan, tentang bagaimana memotivasi orang agar mereka memiliki integritas, produktif, dan mau bekerja melebihi yang diinginkan. Sudah barang tentu buku-buku dimaksud penting dibaca, tetapi persoalan memimpin orang ternyata tidak pernah bisa diselesaikan secara tuntas.
Banyak kuci keberhasilan memotovasi orang yang ditawarkan oleh para ahli dan juga oleh orang yang berpengalaman. Akan tetapi kuci-kunci sukses yang dimaksudkan itu tidak selalu bisa diimplementasikan oleh orang yang berbeda. Kunci sukses memimpin orang berikut sebenarnya tidak pernah disebut-sebut, tetapi sebenarnya mudah dan bisa dijalankan oleh siapapun. Kunci yang dimaksud sederhana itu adalah menjadikan para orang yang dipimpin merasa senang atau mencintai pemimpinnya.
Manakala seorang pemimpin sudah benar-benar dicintai oleh semua anak buahnya, maka sesungguhnya pemimpin yang dimaksud sudah sukses. Tugas pemimpin adalah menggerakkan dan mengarahkan orang lain. Sedangkan siapa saja akan bersedia digerakkan dan diarahkan oleh orang yang dicintai. Cinta memiliki kekuatan yang amat dahsyat. Seorang laki-laki oleh karena mencintai wanita pilihannya, maka apapun dilakukan sekalipun harus berjuang dan berkorban melebihi kapasitas dan kemampuannya.
Demikian pula seorang ayah dan atau ibu, sanggup bekerja dan melakukan apapun demi memenuhi kebutuhan anak yang dicintainya. Didorong oleh rasa cinta itu, orang tua sanggup bejuang dan berkorban. Mereka tidak berpikir bahwa apa yang dilakukannya adalah berat, mengakibatkan kelelahan, dan bahkan harus membayar mahal. Tetapi apapun tetap dilakukan untuk kepentingan anaknya yang dicintai. Rasa cinta mendorong seseorang untuk melakukan apapun.
Persoalannya adalah bagaimana melahirkan rasa cinta dari orang-orang yang dipimpinnya itu. Tentu tidak mudah. Jika usaha itu dilakukan melalui peraturan, tata tertib, dan semacamnya, maka tidak akan tumbuh. Siapapun tatkala dihadapkan pada peraturan atau tata tertib, maka tidak akan menyukai. Oleh karena itu, banyak orang ketika menghadapi peraturan atau tata tertib, akan segera mencari celah untuk menghindar. Maka, kemudian yang terjadi adalah sikap-sikap semu, kepura-puraan, transaksional, dan atau dalam bahasa kasarnya adalah terjadi kemunafikan. Itulah sebabnya, banyak birokrat yang menjalankan peraturan atau tata tertib terlalu ketat, setelah tidak menjabat, yang bersangkutan segera ditinggalkan oleh anak buahnya.
Sesorang pemimpin agar dicintai oleh anak buahnya, maka pemimpin yang bersangkutan terlebih dahulu harus sanggup mencintai semua anak buahnya, apapun sifat, watak, perilaku mereka yang sedang dipimpinnya. Pemimpin tidak sama dengan seorang mandor, pengawas, atau juragan. Sebaliknya, pemimpin adalah orang yang mampu menjadikan orang-orang yang dipimpinnya bertambah pengetahuannya, menjadi semakin pintar dan trampil, mampu mengayomi, mengakui aku orang lain, menghargai, memberi harapan, memikirkan nasipnya, sanggup mencari jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi, dan tugas-tugas sejenis itu lainnya.
Jika kemampuan tersebut berhasil dipenuhi dan diimplementasikan, maka pemimpin dimaksud akan disukai oleh mereka yang dipimpinnya. Atas apa yang dilakukan oleh pemimpin tersebut, maka dari mereka yang dipimpin itu akan tumbuh rasa simpatik, mengakui, menghormati, membela, dan akhirnya akan berusaha melakukan apa saja yang dikehendaki oleh pemimpinnya. Manakala suasana yang digambarkan tersebut sudah terbangun, maka tugas pemimpin telah berhasil. Menjadi pemimpin akan dirasakan ringan dan enak. Wallahu a'lam



