Berorganisasi adalah cara yang ditempuh oleh siapa saja agar di dalam menjalankan sesuatu hasilnya maksimal. Jika sesuatu dikerjakan sendirian, hasilnya tidak seberapa, namun sebaliknya, jika dikerjakan bersama-sama dan apalagi dilakukan pembagian tugas secara tepat dan diserahkan kepada orang yang kompeten, maka pekerjaan itu menjadi lebih efektif dan efisien. Itulah di antara manfaat berorganisasi.
Banyak jenis organisasi yang ada dalam kehidupan sehari-hari, baik di bidang ekonomi, politik, sosial, bisnis, dan bahkan juga keagamaan. Organisasi, ada yang terbuka dan ada pula yang bersifat tertutup. Organisasi tertutup manakala hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu, yaitu orang yang memiliki keahlian atau kesamaan lainnya. Organisasi sosial keagamaan adalah contoh organisasi yang relatif terbuka. Artinya siapa saja boleh bergabung asalkan bersedia mengikuti garis idiologi, pandangan atau keyakinan organisasi yang dimaksudkan itu.
Organisasi tertutup, sebagai misal bergerak di bidang ekonomi, maka orang-orang yang bergabung di dalamnya sudah mengetahui dengan jelas manfaat yang akan diperolehnya. Hal itu berbeda dengan keterlibatan seseorang pada organisasi yang bersifat terbuka, misalnya organisasi sosial, politik, keagamaan, dan juga sejenis lainnya. Seseorang bergabung pada organisasi politik, apalagi orang awam, bisa jadi tidak mengerti apa yang sebenarnya akan diperoleh, kecuali rasa kebersamaan itu saja. Bahkan sebaliknya, secara material, yang bersangkutan bisa saja akan menanggung rugi.
Banyak orang ikut berorganisasi yang bersifat emosional, seperti misalnya organisasi sosial keagamaan. Sebagaimana sifatnya yang emosional itu, maka banyak anggotanya tidak mengerti, apa sebenarnya sesuatu yang akan diperoleh dari organisasi tempat mereka bergabung itu. Mereka bergabung pada organisasi sosial tertentu hanyalah sekedar mencari teman atau kenalan. Namun anehnya, keterlibatan yang bersifat emosional seperti itu, mereka kadang justru lebih fanatik. Mereka membela organisasi itu secara total. Kita lihat saja sebagai contoh, para pendukung tingkat akar rumput partai politik dan juga organisasi sosial keagamaan, mereka mau berbuat dan digerakkan kemana saja.
Akan tetapi, jenis organisasi apapun, seharusnya dirumuskan secara jelas tujuan dan orientasinya. Organisasi sosial keagamaan, tentu seharusnya diarahkan pada upaya memperbaiki akhlak bagi seluruh orang yang terlibat di dalamnya. Tujuan mereka berkumpul dalam komunitas keagamaan adalah agar semakin mengerti, memahami, dan mengamalkan ajaran agama yang diyakini kebenarannya itu. Oleh karena itu, semakin lama bergabung dalam organisasi keagamaan, maka semua seharusnya semakin paham dan meningkat kualitas keberagamaannya.
Demikian pula, para pemimpin organisasi sosial keagamaan dimaksud. Seharusnya, mereka mampu memberikan pemahaman, contoh atau tauladan tentang ajaran yang ingin dikembangkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dan orientasi organisasi keagamaan adalah untuk memperbaiki akhlak dan meningkatkan ketaqwaan. Oleh karena itu, organisasi sosial keagamaan disebut sukses jika kualitas akhlak dan ketaqwaan para anggotanya semakin meningkat. Peningkatan kualitas itu harus bisa dirasakamn dalam kehidupan sehari-hari
Menjadi aneh misalnya, ketika dalam organisasi sosial keagamaan terdengar ada konflik, perselisihan, perebutan pengurus, saling menjatuhkan, pecat-memecat, dan sejenisnya. Mungkin saja, hal demikian itu masih bisa dimengerti jika terjadi pada organisasi sosial politik. Sebab, berpolitik identik dengan perebutan kekuasaan. Namun sebaliknya, sangat tidak tepat hal itu terjadi pada organisasi sosial keagamaan. Konflik dan berebut pada organisasi yang bernuansa agama sangat kontra produktif. Jika terpaksa muncul, maka sebenarnya organisasi itu tidak berhasil memberikan manfaat apa-apa Sebab, orientasi organisasi sosial keagamaan adalah membangun akhlak mulia. Wallahu a'lam



