Tanpa merendahkan ayah.
Peran ibu luar biasa.
Sungguh aku tak bisa.
Gambarkan dengan kata-kata.
Peran ibu yang sudah.
Jika sedikit saja.
Aku dibilang bisa.
Pasti karena sebait do'a bunda,
TUHAN JADIKAN ANAKKU ORANG YANG BERFAIDAH.
Ibuku selalu memuja.
Tanpa tahu apa yang aku bisa.
Tiada ragu dengan kemampuanku.
Lee....koe...engko dadi wong.
Ee...aku gak eroh opo maksude.
Tapi itu sudah lebih.
Dari apa yang aku peroleh.
Jangan lupa.
Ibuku taat beragama.
Patuh pada suaminya.
Tiap pagi buat kopi untuk ayah.
Setrika baju anak dan suaminya.
Selalu berdo'a.
Tanpa tergoda dunia.
Selalu terima yang ada.
Ucapkan kata-kata Hasanah.
Oh...ibu!
Baru saja aku bisa.
Ziarah di makamnya.
Aku menangis di kuburannya.
Aku bawa cucu-cucunya.
Biar dia bangga.
Meski belum semua.
Aku bisa buktikan do'anya.
AKU JADI ORANG BERFAIDAH.
Aku panggil dia di Makah.
Ucapkan salam padanya.
Dia balas dengan do'a.
Sejahtera dan sentosa.
Untuk keluarga.
Teman dan tetangga.
Ibu!
Aku sangat rindu.
Serindu pada Tuhanku.
Kapan aku bisa bertemu.
Manja di pangkuanmu.
Kau usap kepalaku.
Kau tiup ubun-ubunku.
Kau pandang aku.
Dengan harap penuh.
Ibu!
Meski aku sudah usaha.
Sekuat tenaga.
Untuk wujudkan cita.
Jadi manusia berfaidah.
Tapi belum sepenuhnya bisa.
Hanya sedikit saja.
Mungkin hari ini atau lusa.
Aku mulai melangkah.
BISMILLAH.
Bungurasih, 22 Des 2015
'Abd Al Haris Al MuhasibiIBU, AKU DATANG,
Refleksi Hari Ibu Lagi
Ibu!
Maafkan anakmu.
Lama tidak menziarahimu.
Serasa sewindu.
Sungguh aku rindu.
Sangat ingin bertemu.
Seperti waktu dulu.
Ibu!
Aku datang di kuburmu.
Mohon restu.
Do'a dan spiritmu.
Agar aku bisa penuh.
Jalankan tugasku.
Meski dengan segala peluh.
Tanpa mengeluh.
Ibu!
Aku teringat nasihatmu.
Aku tetap teguh.
Memegang prinsip selalu.
Tanpa takut terganggu.
Jabatan atau penghulu.
Tidak juga pada nasibku.
Aku pasrah sepertimu.
Ibu!
Sungguh aku rindu.
Perempuan sepertimu.
Bijaksana tanpa mengadu.
Beban berat menimpamu.
Sepanjang hidupmu.
Ibu!
Maafkan aku.
Sampai ketemu.
Kalanganyar, 9 Des 2015
'Abd Al Haris Al Muhasibi



