Semangat Memadukan Kampus Dan Pesantren
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 1 Desember 2015 . in Dosen . 2526 views

Tentang betapa pentingnya kampus dipadukan dengan pesantren, saya memikirkannya sejak mulai memimpin STAIN Malang, yaitu pada awal tahun 1998. Mulai awal mendapatkan amanah memimpin perguruan tinggi Islam yang berada di bawah kementerian agama, saya memahami bahwa tujuan didirikan perguruan tinggi Islam dirumuskan sedemikian jelas, yaitu ingin melahirkan ulama yang intelek dan atau intelek yang sekaligus ulama. Akan tetapi, tujuan yang sedemikian mulia itu ternyata belum sepenuhnya berhasil. Beberapa menteri agama mengeluhkan kualitas yang dihasilkan perguruan tinggi Islam itu belum sesuai dengan yang diharapkan.

Prof. Dr. Mukti Ali ketika menjabat sebagai menteri agama menengarai bahwa, setidaknya ada dua kelemahan mendasar yang dialami oleh lulusan perguruan tinggi Islam, yaitu lemah dalam bahasa asing ---Arab dan Inggris, dan kedua lemah dalam penguasaan metodologi. Untuk mengatasi kelemahan yang pertama, Prof. Mukti Ali mewajibkan kepada seluruh perguruan tinggi Islam agar memberikan perkuliahan intensif Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Kebijakan itu diimplementasikan oleh seluruh Perguruan Tinggi Islam, namun dengan berhentinya Prof. Mukti Ali sebagai Menteri Agama, ternyata program yang hasilnya cukup bagus tersebut juga berhenti. Rupanya benar-benar menjadi kenyataan bahwa berganti menteri juga selalu diikuti ganti kebijakan.

Sedangkan untuk memperkuat metodologi, Prof, Dr. Mukti Ali mengajak kampus membuka diri seluas-luasnya. Jika sebelumnya, orang belajar Islam selalu ke Negara-negara Timur Tengah seperti ke Yaman, Sudan, Saudi Arabia, Mesir, Maroko, Irak, dan lain-lain, maka Menteri Agama mengirim para mahasiswa dan dosen belajar ke Negara-Negara Barat untuk belajar Islam. Sebagai bagian dari upaya melegitimasi kebijakan tersebut, dibuat jargon baru bahwa, negara-negara Islam sudah kaya buku tetapi miskin katalog, sementara barat ternyata kaya kedua-duanya. Atas pandangan itulah maka, Prof. Mukti Ali mengirim para mahasiswa ke Negara-Negara Barat.

Ketika memulai memimpin STAIN Malang, saya merasakan ada jenis kelemahan lagi, ---selain yang dikemukakan oleh Prof. Mukti Ali, yaitu bahwa pada perguruan tinggi Islam masih gagal dalam menumbuhkan kultur Islam. Belajar agama menurut hemat saya bukan sekedar dilakukan melalui kegiatan di ruang-ruang kuliah atau ruang seminar, dan juga altivitas penelitian, melainkan harus lewat pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Agama selalin diketahui seharusnya juga dirasakan. Sementara itu rasa tidak bisa dijelaskan, melainkan harus dialami. Perguruan tinggi Islam harus berhasil membangun kultur sebagaimana yang dimaksud, yaitu kultur kehidupan keagamaan. Kultur dimaksud hanya bisa dibangun melalui sejumlah pengetahuan dan sekaligus secara nyata bisa dirasakan itu.

Jika target yang dikehendaki oleh pendidikan tinggi Islam sebagaimana dijelaskan di muka, yaitu melahirkan ulama yang intelek dan atau intelek yang ulama, maka keberadaan pesantren adalah merupakan keharusan. Oleh karena itu, saat memulai menunaikan amanah memimpin STAIN Malang, yang pertama kali saya pikirkan adalah membangun pesantren kampus. Namun saya menduga bahwa konsep itu belum tentu segera diterima oleh semua pihak, atas dasar pandangan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang bernuansa tradisional dan berkonotasi pedesaan. Maka, untuk meminimalisasi kesan tradisional itu, istilah pesantren saya ganti dengan Ma'had. Lebih dari itu, agar lebih membanggakan, maka istilah Ma'had saya tambah dengan kata 'al-Aly', sehingga menjadi Ma'had al -Aly atau pesantren tinggi.

Setelah melewati waktu cukup lama, perpaduan antara Kampus dan Ma'had al Aly ternyata dipandang ada hasilnya, sehingga konsep itu banyak diadopsi oleh kampus-kampus lainnya. Konsep Rusunawa yang dikembangkan oleh Kementerian Perumahan, pada awalnya terinspirasi oleh Ma'had al-Aly UIN Malang. Program yang dikembangkan oleh Kementerian Perumahan tersebut ternyata menjadikan banyak perguruan tinggi, baik agama maupun umum, melengkapi fasilitas pendidikannya dengan asrama atau rusunawa itu. Namun, setelah dievaluasi, keberadaan rusunawa ternyata dianggap belum memberi dampak pada pengembangan akademik kampus sebagaimana yang diinginkan semula. Mendengarkan hasil evaluasi itu, saya menjelaskan bahwa konsep Pesantren atau Ma'had tidak hanya terdiri atas ruang-ruang tidur sebagaimana rusunawa itu, melainkan fasillitas tersebut harus dilengkapi dengan keberadaan pengasuh atau kyai, dan yang tidak kalah pentingnya adalah masjid yang dibangun menyatu dengan fasilitas ma'had itu. Jika beberapa unsur tersebut tidak dipenuhi, maka keberadaan rusunawa tidak lebih sekedar sebagai tempat tidur dan tidak memiliki arti apa-apa bagi upaya peningkatan kualitas akademik mahasiswa.

Akan tetapi apapun yang terjadi, konsep berupa perpaduan antara kampus dan pesantren tersebut ternyata semakin menarik hingga menjadi bahan pembicaraan dalam upaya meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi, dan lebih-lebih tatkala dikaitkan dengan isu pentingnya pembinaan mental atau akhlak mulia. Banyak pihak mempercayai bahwa pesantren menjadi salah satu instrumen untuk pembinaan karakter atau akhlak mulia itu. Saya melihat sendiri, di berbagai perguruan tinggi Islam sudah banyak yang mulai merintis pesantren kampus. Usaha itu pasti memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Namun di tengah-tengah keterbatasan itu ternyata ada beberapa pimpinan perguruan tinggi Islam yang berani mengambil terobosan, yaitu sebelum berhasil membangun pesantren atau ma'had al Jami'ah sendiri, mereka bekerjasama dengan pesantren yang ada di sekitar kampus. Sebagai contoh IAIN Padang Sidempuan, Sumatera Utara, ia bekerjasama dengan beberapa pesantren, dan ternyata usaha itu melahirkan sinergi dan masing-masing memperoleh keuntungan atau nilai lebih dalam pengembangan pendidikannya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up