Umur Manusia Itu Memang Pendek
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 11 Desember 2015 . in Dosen . 1635 views

Duka mendalam atas wafatnya Prof. Muhamin, MA, mengingatkan semua bahwa umur manusia itu memang tidak panjang. Terasa sangat sebentar. Tidak terbayang sebelumnya bahwa Guru besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang baru berumur sektar 60 tahun dan sangat dicintai serta dikagumi oleh banyak mahasiswanya itu kini telah tiada. Pada tanggal 6 Desember 2015 yang lalu, beliau wafat, menghadap kepada Tuhan Yang Maha Kuasa., mendahului teman-temannya yang lain.

Kepergian beliau untuk selama-lamanya itu tidak seorang pun yang membayangkan sebelumnya. Bahkan Prof. Muhaimin sendiri juga tidak mengetahuinya, bahwa pada tanggal tersebut adalah merupakan hari terakhir sebagai penghuni dunia ini. Keberanian mengatakan bahwa tidak seorang pun yang menyangka bahwa Prof. Muhaimin MA akan wafat, oleh karena pada watu itu beliau tidak tampak sakit, sehari-hari kelihatan sehat sebagaimana biasa, dan juga tidak mengeluhkan apa-apa.

Siapapun koleganya tidak membayangkan bahwa Prof. Muhamin, MA akan segera meninggalkannya untuk selama-lamanya, bahkan pada besuk harinya, beliau bersama beberapa staf dosen akan berkunjung ke Singapura dan berlanjut ke Malaysia untuk melakukan kerjasama. Semua perbekalan dan berbagai hal yang perlu dibawa sudah disiapkan matang, tinggal besuk paginya akan berangkat. Semua stafnya tidak ada yang mengerti bahwa, rencana kunjungan itu akan batal.

Prof. Muhaimin, MA adalah alumni IAIN Malang yang kampus itu kini telah berubah menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Lulus sarjana, beliau diangkat menjadi asisten dosen dan juga merangkap sebagai pegawai harian di almamaternya. Setelah sekian lama bersatatus sebagai pegawai honorarium dengan gaji, tentu jumlahnya tidak seberapa, beliau diangkat menjadi dosen tetap. Peluang menjadi dosen di almamaternya sendiri bagi Muhaimin cukup terbuka dibanding teman-teman lainnya, ---sekalipun pengangkatan pegawai amat terbatas, oleh karena prestasinya selama menjadi mahasiswa dikenal menonjol. Selain cerdas, rajin, dan ulet, Muhaimin mampu berbahasa Arab dan juga Bahasa Inggris.

Setelah diangkat menjadi dosen tetap, Muhaimin selalu mendapatkan perhatian para pimpinannya karena kelebihannya tersebut. Beliau tidak saja ditugasi sebagai dosen, tetapi juga diberi tanggung jawab tambahan sebagai petugas administrasi. Kesadarannya terhadap tuntutan kualitas sebagai seorang dosen, tampak cukup tinggi. Buktinya, sekalipun dalam keadaan terbatas, ia berusaha menempuh studi lanjut S2 dan kemudian meneruskan S3 hingga lulus. Atas prestasinya itu, Muhaimin menjadi sedikit di antara banyak dosen yang berhasil meraih gelar Doktor di STAIN Malang ketika itu. Atas kesadarannya sebagai seorang akademisi itu pula, Dr. Muhaimin menulis banyak buku, jurnal, dan karangan ilmiah lainnya.

Sebagai bukti atas tingginya rasa tanggung jawab, integritas, dan keuletannya dalam bekerja bersama-sama untuk pengembangan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Muhaimin, MA bersedia diberi tugas apa saja yang sekiranya bermanfaat untuk memajukan kampus. Beliau tidak pernah memilih jenis tugas tertentu yang gampang, ringan dikerjakan, dan bergengsi. Pekerjaan kecil dan sederhana yang seharusnya tidak ditangani oleh seorang dosen, beliau bersedia mengerjakannya. Sebagai contoh, pada suatu saat, sebagai persyaratan perubahan STAIN menjadi UIN, harus mengirim bertumpuk-tumpuk berkas usulan dimaksud ke Kementerian Agama di Jakarta. Prof. Muhaimin, MA ikut memimpin dan sekaligus bersama-sama mengerjakannya.

Oleh karena berkas dimaksud tidak mungkin dikirim melalui pos, Prof. Muhaimin, MA., bersama beberapa temannya mengantarkan sendiri dengan membawa mobil yang sudah tua ke Jakarta. Dikabari, bahwa mobil tua yang digunakan membawa setumpuk berkas dimaksud ternyata mogok di tengah jalan, dalam keadaan hujan, dan berada di tengah hutan, saya merasa haru. Prof. Muhamin bersama teman-temannya, di antaranya Prof. Baharuddin, Prof. Mudji Rahardja, Dr. Irfan, (alm), Dr. Muhtadi, dan lain-lain, menunjukkan sedemikian tinggi keinginan dan tanggung jawabnya di dalam mengembangkan perguruan tinggi Islam.

Perjuangan keras memajukan dan mengubah STAIN menjadi UIN Malang sedemikian berat. Akan tetapi, oleh karena ditunaikan dengan penuh keikhlasan, bertanggung jawab, dan didorong oleh semangat dan cita-cita yang tinggi, maka kerja keras tersebut dapat ditunaikan, dan akhirnya berhasil. Saya merasakan bahwa, kebersamaan terjalin sedemikian kokoh. Ketika itu tidak ada di antara mereka yang mempertanyakan tentang asal muasal seseorang, misalnya dari PMII, HMI, NU, Muhammadiyah atau lainnya. Mereka lebih suka bertanya tentang akan ke mana dari pada bertanya dari mana. Susana kebersamaan dan kerukunan tersebut terasa sedemikian indah.

Perjuangan yang dilakukan bersama-sama untuk membesarkan kampus tersebut terasa belum lama. Hingga kini apa yang mereka lakukan itu masih terbayang dengan jelas. Mereka bekerja siang dan malam di kampus, tanpa menghitung akan memperoleh imbalan apa-apa. Mereka tahu dan sadar bahwa pada waktu itu kampus memang tidak memiliki uang yang cukup. Semangat kerja tersebut tumbuh dari cita-citanya yang mulia, yakni ingin membesarkan dan memajukan perguruan tinggi Islam, dan bukan sekedar khawatir namanya tidak terekam oleh fingerprint. Kiranya semua merasakan bahwa, peristiwa tersebut berlangsung belum lama, sehingga semuanya masih bisa diingat. Namun, karya-karya itu telah ditinggalkan oleh sebagian pelakunya. Memang, umur manusia itu pendek, tetapi tidak selalu disadari oleh banyak orang. Prof. Muhaimin, MA menjadi salah seorang yang beruntung, sekalipun umurnya tidak terlalu panjang, beliau memiliki banyak amal shaleh yang pasti menjadi tapak-tapak indah dari bagian perjalanan kehidupannya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up