Al Qur'an Dan Perubahan Perilaku
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 24 Januari 2016 . in Dosen . 19653 views

Selain agar memperoleh pahala, membaca al Qur'an sebenarnya dimaksudkan untuk memahami isinya dan kemudian menjadikan pedoman hidup sehari-hari. Orang yang membaca al Qur'an akan memahami tentang kehidupan, tentang dirinya sendiri, tentang manusia, tentang alam semesta, dan tentu tentang Tuhan. Orang yang mengetahui hal itu semua akan berbeda dari orang yang tidak mengetahuinya.

Berdasar pengetahuannya itu semua, maka seseorang akan menata perilakunya, yaitu menyesuaikan dengan petunjuk al Qur;an itu. Namun isi al Qur'an itu sedemikian indah, sehingga tidak semua orang mampu menangkap dan menjalankan keindahan itu. Hal itu sama halnya dengan sinar atau cahaya. Jika cahaya itu sedemikian terang, maka tidak semua mata mampu menggunakan cahaya itu.

Sebagai contoh, bahwa al Qur;an mengajarkan tentang keadilan. Ternyata tidak semua orang mampu mewujudkan keadilan itu di tengah kehidupan sehari-hari. Semua orang, melalui al Qur'an, mengetahui bahwa adil itu adalah indah, tetapi keindahan itu belum tentu bisa diwujudkan dalam kehidupannya. Juga sama, bahwa menghormat dan berbakti kepada kedua orang tua adalah hal mulia, dan menjadi kewajiban bagi siapa saja. Akan tetapi, tidak semua orang mampu menjalankannya.

Bahwa mengerjakan sesuatu yang indah dan mulia ternyata tidak selalu mudah. Sekalipun semua orang menghendaki kebaikan dan kemuliaan, namun ternyata tidak mudah menjalankannya. Itulah sebabnya, betapa sulitnya bagi siapa saja untuk menyatukan antara apa yang diketahui di dalam hati, diucapkan, dan yang dijalankannya. Banyak orang mengalami antara apa yang diucapkan dan dijalankannya berbeda-beda.

Itulah kira-kira di antara sebabnya, Tuhan tidak saja menurunkan al Qur'an sebagai pedoman hidup, tetapi juga menyempurnakan dengan utusan-Nya. Para Rasul bertugas memberikan bimbingan dan ketauladanan dalam mengimplementasikan al Qur'an di dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa bimbingan dan ketauladanan, ajaran yang mulia dimaksud tidak akan menjadi kenyataan. Maka, betapa pentingnya sosok ketauladanan dalam kehidupan, sehingga Tuhan mengutus para rasul untuk diikuti jejak kehidupannya.

Maka, agar al Qur'an berhasil mengubah perilaku, selain harus ada usaha secara sungguh-sungguh dan terus menerus dari pribadi yang bersangkutan juga diperlukan sosok pemimpin yang berperan sebagai tauladan itu. Itulah sebabnya, dalam Islam tatkala seseorang memilih pemimpin tidak boleh sembarangan. Pemimpin tidak cukup dimaknai sebatas sebagai pelayan yang terkait dengan persoalan yang bersifat teknis, melainkan juga yang bersangkutan seharusnya mampu dan pantas menjadi tauladan itu.

Usaha sungguh-sungguh dan terus menerus untuk menangkap, memahami, dan menghayati isi al Qur'an bagi kaum muslimin adalah merupakan keharusan. Tanpa usaha yang demikian itu, pesan kitab suci dimaksud tidak mudah masuk ke dalam hati. Terbukti, banyak orang yang sehari-hari mengkaji al Qur'an dan bahkan juga mengajarkannya, namun perilaku mereka sendiri belum selalu menggambarkan apa yang telah dipelajari dan atau yang diajarkannya itu. Hal demikian itu membuktikan bahwa, usaha serius memahami al Qur'an, adanya taufiq dan hidayah, semuanya adalah menjadi penentu perubahan perilaku yang dimaksudkan itu. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up