Pada setiap kali datang ke Makkah ataupun juga ke Madinah, baik dalam berhaji atau umrah, sebagaimana sekarang ini sedang saya lakukan, selalu menyaksikan orang berlari-lari mengejar kesempatan shalat berjama'ah di masjid. Tidak selalu bahwa hotel atau penginapan berada di dekat masjid. Jika demikian itu yang terjadi, yakni jarak antara masjid dan hotel agak jauh, maka orang harus berburu-buru, agar tidak terlambat.
Terlewatkan dari shalat berjama'ah dirasakan sebagai kesalahan dan kerugian yang luar biasa. Datang jauh-jauh ke tanah suci, selain menjalankan umrah atau berhaji, selama berada di kedua kota itu dimaksudkan agar mereka mendapatkan kesempatan shalat berjama'ah. Hal demikian itu menggambarkan, kesadaran terhadap betapa pentingnya shalat berjama'ah, ketika orang sedang menjalankan haji dan umrah, luar biasa besarnya.
Besarnya semangat shalat berjama'ah menjadikan masjid selalu dipenuhi hingga tempat yang tersedia tidak mencukupi. Seolah-olah orang yang berada di kedua kota suci itu yang mereka pikirkan hanyalah shalat berjama'ah. Oleh karena itu, bisa saja bertanya, kapan orang menjalankan kegiatan ekonomi, pendidikan, kantor, dan lain-lain jika sehari-hari mereka disibukkan shalat berjama'ah. Sudah menjadi tradisi di kedua kota suci itu bahwa pada setiap waktu shalat, kegiatan apa saja dihentikan. Toko, pabrik, sekolah, perguruan tinggi, pelayanan di kantor, dan semuanya harus tutup. Setelah selesai, kegiatan dilanjutkan kembali.
Seharusnya shalat berjama'ah tidak saja dilakukan tatkala sedang menjalankan ibadah haji dan atau umrah, tetapi juga di tempat tinggalnya masing-masing, setelah kegiatan haji dan umrah itu dilaksanakan. Umpama saja kegiatan di tanah suci itu dimaknai sebagai pelatihan atau training, maka hasil pelatihan itu seharusnya dijadikan tradisi di luar kegiatan di tanah suci, yakni di tempat domisilinya masing-masing. Memang, mentradisikan shalat berjama'ah bukan perkara mudah. Buktinya tidak semua orang mampu menjalankannya secara istiqomah, sekalipun rumahnya berdekatan dengan masjid. Maka, pelatihan itu memang menjadi amat penting.
Umpama umat Islam terbiasa shalat berjama'ah, maka tidak saja derajat pahala yang akan diperoleh lebih tinggi, tetapi keuntungan lain akan didapat, misalnya sekaligus memperkukuh tali sillaturrakhiem antar sesama jama'ah, dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah terbangun suasana keagamaan di sekitar masjid, dan tempat ibadah menjadi maksimal penggunaannya. Namun sayangnya, tidak banyak orang yang setelah pulang dari ibadah haji dan umrah, mampu mengubah kebiasaannya, sehingga akibatnya di mana-mana masjid tetap sepi jama'ah.
Apapun yang terjadi, sebenarnya ada hal penting yang tidak boleh dilewatkan bagi siapa saja yang pernah datang ke Baitullah, yaitu bahwa pada setiap saat hatinya harus selalu tetap ingat dengan tempat yang mulia dimaksud. Lebih-lebih di dalam shalat, siapa saja harus merasa berada di Baitullah. Perasaan yang demikian itu menjadikan, shalat yang sedang dijalankannya akan terasa khusus'. Seseorang yang sedang shalat, tetapi hatinya tidak merasa berada di Baitullah, maka tidak akan khusu'. Ingatannya akan ke mana-mana. Maka, sebenarnya shalat tidak saja harus menghadap Baitullah, tetapi hati orang yang sedang shalat, seharusnya juga berada di tempat yang mulia itu.
Shalat yang dilakukan dengan khusu', atau setidaknya berusaha menjadi khusu', maka akan bisa menghindarkan diri dari perbuatan fahsya' dan mungkar. Shalat yang dilakukan secara berjama'ah dan hatinya selalu berkonsentrasi di Baitullah, akan berhasil meningkatkan kualitas pribadi para pelakunya. Namun pekerjaan itu tidak mudah, harus melalui pelatihan, dan di antaranya lewat ibadah haji dan umrah. Oleh karena itu, sepulang dari menjalankan ibadah dimaksud, seharusnya juga masih mengejar-ngejar kesempatan berjama'ah, sehingga kegiatan training di tanah suci terasa hasilnya. Wallahu a'lam



