Saya tidak menyangka sebelumnya bahwa mata kuliah yang saya berikan puluhan tahun yang lalu ternyata masih saja diingat, sekalipun mereka sudah mejadi guru, kepala sekolah, dan bahkan pejabat di beberapa daerah. Ketika ketemu, mereka tersenyum, lantas segera mengenalkan diri, bahwasanya ia pernah mengikuti mata kuliah yang saya berikan, yaitu statistik pendidikan. Mereka mengaku, tidak pernah melupakan mata kuliah itu.
Sewaktu awal menjadi dosen dulu, saya diberi tugas memberi mata kuliah statistik pendidikan. Mata kuliah itu sebenarnya tidak sulit, tetapi dikesankan oleh kebanyakan mahasiswa IAIN sebagai mata kuliah yang tidak mudah dipahami. Mungkin saja, perasaan itu muncul oleh karena pada umumnya banyak mahasiswa berlatar belakang pendidikan agama, dan apalagi pesantren, sehingga mereka merasa sulit jika dihadapkan pada mata kuliah yang terkait dengan hitung menghitung. Atau bisa jadi, oleh karena mereka sebelumnya mendapatkan informasi bahwa mata kuliah statistik itu sulit, dan segera dipercaya begitu saja.
Menghadapi kenyataan itu, di setiap awal kuliah, saya berusaha menyakinkan bahwa mata kuliah statistik adalah mata kuliah yang paling mudah di antara sekian banyak mata kuliah yang mudah-mudah. Saya menegaskan bahwa tidak benar, statistik disebut sebagai mata kuliah yang sulit. Banyak orang beranggapan salah terhadap mata kuliah itu. Pada setiap awal kuliah, mahasiswa saya persilahkan membuktikan, bahwa statistik pendidikan adalah mata kuliah yang paling mudah dipahami.
Agar apa yang saya sampaikan segera dipercaya, saya menyatakan sanggup membisakan mahasiswa memahami dengan mudah mata kuliah itu. Bahkan untuk meyakinkan lagi bahwa mata kuliah statistik pendidikan adalah benar-benar mudah, saya tidak mewajibkan mahasiswa membeli buku statistik. Selain itu, saya juga tidak mewajibkan mereka mengerjakan tugas-tugas di rumah. Belajar statistik, saya katakan, cukup pada saat ada mata kuliah itu saja. Waktu yang disediakan sebagaimana dalam jadwal sudah cukup untuk memahami mata kuliah itu. Hanya saja, saya memberikan syarat yang harus dipenuhi, yaitu tidak boleh mahasiswa tidak masuk kuliah . Jika sekali saja ada yang tidak masuk, yang bersangkutan harus mengundurkan diri dari peserta mata kuliah itu, atau dianggap tidak lulus. Syarat lainnya, setiap mahasiswa harus membawa kalkulator.
Demikian pula, pada pelaksanaan ujian akhir, juga saya buat suasana berbeda dibanding ujian mata kuliah lainnya. Untuk mengerjakan soal ujian, mereka saya beri waktu sehari penuh, mulai dari jam delapan pagi hingga jam lima sore, tentu mereka boleh istirahat untuk mengerjakan shalat dhuhur dan shalat ashar. Untuk mengetahui sejauh mana mereka memahami dan menghayati mata kuliah itu, jenis soal saya tentukan, tetapi data yang harus diolah dan dianalisis oleh peserta ujian, saya anjurkan agar dibuat sendiri, atau dengan menggunakan data fiktif. Dengan demikian, masing-masing mahasiswa tidak akan menyelesaikan soal ujian dengan menggunakan data yang sama.
Hasil yang terasakan dari menggunakan pendekatan belajar tersebut, yakni mahasiswa diyakinkan bahwa mata kuliah itu mudah, menyenangkan, dan dibangun kepercayaan diri bahwa mereka akan sanggup mempelajari mata kuliah itu, maka mahasiswa justru bersemangat belajar dan menyenangi terhadap apa yang diajarkan itu. Sekalipun tidak diwajibkan membeli buku, ternyata mereka juga membeli, dan demikian pula juga berlatih di luar jam perkuliahan. Lebih dari itu, mata kuliah tersebut menjadi mengesankan hingga dalam waktu lama. Para mahasiswa yang sudah lama lulus dan telah bekerja ternyata banyak yang mengaku betapa pentingnya mata kuliah itu harus dipelajari.
Mendasarkan pada pengalaman tersebut, menurut hemat saya, agar hasil pembelajaran maksimal, maka dosen dan juga para guru, seharusnya tidak perlu terlalu dituntun-tuntun. Justru terlalu banyak tuntunan itu, menjadikan kualitas hasil mengajarnya tidak maksimal. Mereka seharusnya diberi kepercayaan penuh untuk berkreasi dalam mencari cara atau pendekatan mengajar yang tepat. Tuntunan hingga detail sebenarnya justru akan memperlemah kreatifitas yang justru seharusnya ditumbuh-kembangkan. Guru seharusnya dipercaya oleh karena untuk menduduki jabatan itu sudah melalui tahap dan prosedur yang tidak sederhana. Terlalu banyak peraturan hanya akan melahirkan kerja untuk sekedar memenuhi aturan. Jika demikian itu yang terjadi, maka hasilnya bersifat formalitas saja. Mereka dinyatakan lulus dan mendapatkan ijazah, tetapi kemampuannya belum tergambar pada ijazah yang dimaksudkan itu. Wallahu a'lam



