Gerakan Memperbaiki Bangsa
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 22 Januari 2016 . in Dosen . 2116 views

Seringkali kita mendengarkan suara yang menggambarkan keprihatinan terhadap keadaan bangsa ini. Negara yang memiliki tanah luas dan subur, kaya sumber daya alam dan bahkan melimpah, namun rakyatnya masih banyak yang miskin dan tertinggal. Selain persoalan tersebut itu, juga selalu muncul berbagai problem, baik terkait politik, hukum, sosial, dan bahkan juga moral. Menghadapi keadaan seperti itu, banyak orang bertanya, bagaimana jalan keluar yang sekiranya bisa ditempuh untuk mengatasi berbagai problem dimaksud.

Sementara orang meyakini bahwa berbagai problem dimaksud bisa diatasi dengan pendekatan ekonomi dan pendidikan. Dianggap oleh mereka bahwa ketika ekonomi sudah membaik dan masyarakatnya sudah pintar maka problem kehidupan dimaksud akan hilang dengan sendirinya. Mungkin saja pandangan tersebut benar, namun persoalan yang harus dijawab terlebih dahulu adalah bahwa membangun ekonomi dan pendidikan yang dimaksudkan itu sendiri ternyata juga bukan perkara mudah.

Selain itu, ada lagi pertanyaan yang perlu dicari jawabnya, ialah keadaan yang menggelisahkan banyak orang itu sebenarnya sebagai akibat atau keadaan yang begitu saja muncul. Umpama hal dimaksud merupakan akibat, maka seharusnya yang diselesaikan adalah menghilangkan perkara yang menjadi sebab itu. Jika keadaan masyarakat sekarang ini adalah merupakan produk atau buah dari pendidikan, sistem politik, sosial, dan bahkan juga idiologi yang dianutnya, maka seharusnya yang menjadi sebab itu dipahami dan kemudian diubah.

Akan tetapi mengubah sesuatu yang memiliki sejarah panjang dan bahkan telah mengakar secara kokoh hingga masuk pada relung kehidupan, maka bukanlah perkara mudah. Selain itu, suatu yang dianggap sebagai persoalan besar oleh sementara orang, belum tentu bagi pihak lainnya, oleh karena dirasakan telah menguntungkan, dan bahkan dianggap sebagai buah perjuangannya. Menghadapi kenyataan tersebut, menyelesaikan sesuatu yang dianggap sebagai masalah menjadi tidak mudah. Sebab, bagi mereka yang telah mendapatkan keuntungan dari sistem yang ada, sekiranya akan ada perubahan yang merugikan dirinya, mereka akan bertahan dan bahkan melawan

Oleh karena itu, salah satu cara yang mungkin bisa dilakukani adalah membuat gerakan untuk membangun kesadaran bersama di semua lapisan. Gerakan itu bisa saja bersifat moral, sebagaimana ditawarkan oleh Presiden, yaitu melakukan Revolusi Mental. Gerakan itu sebenarnya bisa dimulai dari siapa saja dan tidak harus berbentuk formal dan apalagi menunggu ketika anggaran telah tersedia. Oleh karena perubahan itu menyangkut mental, maka harus dimulai dari atas. Para pemimpin, di bidang apapun dan mereka yang berada pada level manapun secara bersama-sama memberikan ketauladanan.

Sebagai gerakan moral, sekalipun kegiatan dimaksud berada pada wilayah politik, seharusnya sama sekali tidak boleh dipolitisasi. Kegiatan yang berbau politis biasanya bersifat transaksional. Tatkala berbau transaksional maka gerakan itu tidajk tahan lama, karena tidak tulus. Sudah menjadi kebiasaan, bahwa apa saja yang dilakukan dengan tidak tulus, ---bukan merupakan panggilan nurani, maka tidak akan ada hasilnya. Maka sebenarnya, kunci dalam membangun bangsa ini adalah harus dimulai secara bersama-sama, dari diri masing-masing orang, dan dilakukan secara tulus dan sabar. Jika hal itu tidak bisa ditempuh, maka hingga kapan pun bangsa ini akan tetap berada di kubangan masalah yang tidak pernah akan berhasil dselesaikan. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up