Kunci Keberhasilan Pesantren Rakyat
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 23 Januari 2016 . in Dosen . 2252 views

Kiranya wajar saja manakala sebutan pesantren rakyat belum dikenal oleh banyak orang, karena konsep itu memang baru muncul beberapa tahun terakhir, dan belum banyak orang mengembangkan hal serupa itu. Penggagas konsep itu adalah Ustadz Abdullah Syam, seorang sarjana Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Usaha itu disebut berhasil oleh karena pesantren rakyat terbukti mampu melakukan perubahan masyarakat dalam berbagai aspek, sehingga mengundang simpatik banyak orang.

Yang menyebut atau memberi nama sebagai pesantren rakyat adalah juga penggasnya sendiri, yaitu Ustadz Abdullah Syam. Disebut sebagai pesantren rakyat oleh karena para santrinya adalah rakyat setempat, untuk semua umur, baik tua atau muda, laki-laki dan atau perempuan, berstatus apa saja, misalnya petani, pedagang, buruh, pegawai, pekerja asongan, pengangguran, dan bahkan juga orang-orang yang semula dianggap sebagai preman.

Demikian pula para guru yang ditugasi untuk mengajar oleh Ustdaz Abdullah Syam, juga berasal dari masyarakat setempat. Di kalangan masyarakat itu dikategorikan menjadi dua, yaitu orang sukses dan orang yang belum sukses, orang yang bisa dan orang yang belum bisa. Maka, siapa saja yang dianggap dan atau merasa bisa dan nyata-nyata usahanya telah berhasil, mereka diminta menjadi guru. Sebaliknya, mereka yang belum bisa dan berkemauan, maka diajak menjadi murid. Atas dasar penglihatan seperti itu, maka di kampung itu hanya ada dua kategori, yaitu guru dan murid.

Mungkin banyak teori tentang pembangunan atau perubahan masyarakat, tetapi rupanya Ustadz Abdullah Syam tidak terlalu peduli pada berbagai teori, atau mungkin juga tidak berkemauan membacanya. Apa yang dilakukan hanya sebatas reka-rekanya sendiri, didorong oleh semangat dan kemauan keras, rasa bertanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat yang seharusnya dibantu, dan mendasarkan nilai-nilai ideal yang ditangkap dari ajaran agamanya.

Ustadz Abdullah Syam sendiri lahir dari daerah itu, sehingga ia telah memahami betul persoalan masyarakatnya. Selain itu, hidupnya di waktu kecil serba berkekurangan, tetapi berhasil meraih jenjang pendidikan hingga sarjana, juga menjadi bukti bagi dirinya, bahwa siapa saja yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil. Selain itu, perkenalannya dengan dunia pesantren dan juga perguruan tinggi berhasil membuahkan semangat dan rasa tanggung jawab yang amat tinggi terhadap kehidupan masyarakatnya.

Mungkin saja dia tidak pernah mendapatkan kuliah atau pelajaran tentang bagaimana mengembangkan masyarakat, tetapi dari ketajaman pikiran dan hatinya yang digunakan selama bertahun-tahun untuk melihat, memperhatikan, merasakan, dan menghayati kehidupan masyarakatnya itu, ternyata menjadi modal melakukan sesuatu untuk menolong dan atau mengentaskan masyarakatnya dari berbagai macam problem yang dialami sepanjang sejarah hidupnya.

Masyarakat Sumber Pucung, Kabupaten Malang, di mana Pesantren Rakyat itu dirintis, tumbuh, dan kemudian berkembang, adalah tergolong memprihatinkan. Kampung itu sejak lama atau sudah bertahun-tahun merupakan daerah hitam, oleh karena digunakan sebagai tempat Lokasi Wanita Tuna Susila. Oleh karena kegiatan itu sudah menjadi kebiasaan dan bahkan menjadi bagian kehidupan mereka, maka jual beli pemuasan sek sudah bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang seharusnya dicegah atau dihindari. Pekerjaan tercela itu dianggap sebagai cara yang wajar untuk mendapatkan rizki.

Oleh karena itu para pelakunya, yakni germo dan juga para wanita pekerja seks, juga tidak dianggap hina. Bahkan, kegiatan itu juga dipandang sebagai hal yang menguntungkan bagi banyak pihak, misalnya para makelar, petugas keamanan, hingga para pekerja parkir mobil-mobil para tamu yang sedang datang ke tempat yang oleh pandangan umum dianggap nista itu. Keuntungan lokalisasi WTS juga dirasakan oleh para pedagang barang-barang yang diperlukan oleh masyarakat di tempat itu. Banyak pihak yang diuntungkan, sehingga akhirnya pekerjaan yang dianggap hina itu bertahan dari tahun ke tahun.

Di tengah-tengah masyarakat tersebut, Ustadz Abdullah Syam merintis lembaga pendidikan yang disebut dengan istilah 'pesantren rakyat". Usaha dimaksud ternyata berhasil. Warga masyarakat yang semula dekat dengan kegiatan terlarang, dengan hadirsnya pesantren rakyat, menjadi menyadari bahwa perbuatannya selama ini tidak selayaknya dilanjutkan, dan akhirnya secara bertahap, mereka meninggalkannya. Kesadaran itu muncul oleh karena, mereka sudah dianggap sebagai santri pondok pesantren. Kegiatan pesantren rakyat bukan sebatas sebagaimana pesantren pada umumnya, yakni mengaji kitab kuning, melainkan juga mengajari pada masyarakat tentang kegiatan bertani, beternak, membuat kerajinan, berdagang, berkooperasi, masak-memasak, dan berbagai macam lainnya.

Keberhasilan pesantren rakyat ini memang rupanya tidak mudah ditiru, oleh karena tidak menggunakan teori yang mudah dipelajari. Keberhasilan itu, saya perhatikan adalah dari pribadi pengasuhnya sendiri, yaitu Ustdaz Abdullah Syam. Dia tampak sekali, memiliki cita-cita mulia, yaitu bisa berbuat untuk kebaikan masyarakatnya yang juga diniatkan sebagai bagian dari ibadahnya. Ustadz Abdullah Syam memiliki pengetahuan tentang masyarakatnya itu secara mendalam oleh karena ia sejak kecil berada di tempat itu dan bahkan lahir dari tempat itu pula. Selain itu, ia berasal dari keluarga yang secara ekonomi tidak beruntung. Keadaan yang dirasakan menyedihkan itu mendorong dirinya untuk berjuang keluar dari kubangan masalah itu dan setelah berhasil, ia berusaha mengentaskan masyarakat lingkungannya dari problem yang ia sendiri seumur-umur merasakannya.

Kekuatan pribadi Ustadz Abdullah Syam yang kemudian ia beruntung mendapatkan uluran tangan dari beberapa pihak yang bersedia membantu dalam berbagai bentuk, baik modal usaha bagi pesantrennya, jaringan kerjasama, dan lain-lain, akhirnya pesantren rakyat menjadi tumbuh dan berkembang. Saya sendiri, pada setiap mengingat pesantren rakyat tersebut, selalu membayangkan, umpama apa yang dilakukan oleh Ustadz Abdullah Syam dimaksud dijadikan model pendekatan dalam membangun masyarakat, terutama pada masyarakat tingkat bawah, di berbagai daerah, maka hasilnya tidak saja sebatas akan menyelesaikan persoalan ekonomi, tetapi juga akan diperoleh berbagai keutungan lain, seperti pengembangan pendidikan, sosial, budaya, dan bahkan juga agama. Selain itu, mengembangkan dan atau mengimplementasikan konsep pesantren rakyat sebenarnya tidak terlalu sulit dan juga tidak mahal. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up