Setiap hari antar orang saling bertemu, membangun berbagai jenis hubungan, baik yang bersifat pribadi, organisasi, maupun kedinasan. Hubungan yang bersifat pribadi adakalanya terkait kekelurgaan, ekonomi atau berbisnis, politik, keagamaan, sosial, dan lain-lain. Demikian pula hubungan organisasi dan kedinasan. Semua jenis hubungan itu akan dirasakan nikmat, sejuk, dan menggembirakan jika dibangun dari hati ke hati.
Hubungan dari hati ke hati biasanya mengedepankan kejujuran, keadilan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian. Namun hubungan dimaksud bisa terlaksana jika hati kedua belah pihak sehat. Melalui hubungan dari hati ke hati akan terbangun suasana kasih sayang, saling percaya, sama-sama berusaha menghormati satu dengan yang lain, tidak ada yang berusaha untuk memperoleh kemenangan, pengaruh, atau keuntungan sepihak. Itulah hubungan yang dijalankan dari hati ke hati.
Menyadari betapa ketinggian suara hati itu, antar orang untuk mendapatkan kesepakatan dari sesuatu yang dianggap penting, mereka mengajak membangun komunikasi dari hati-ke hati. Berbagai problem besar dan berat, setelah diselesaikan melalui perdebatan, dialog, dan perbantahan tidak berhasil, maka ditempuh melalui pembicaraan dari hati ke hati, dan akhirnya ternyata berhasil terselesaikan.
Namun pada akhir-akhir ini, hubungan yang sebenarnya lebih manusiawi, dan leib' berpeluang membawa hasil itu, ternya sudah semakin banyak ditinggalkan orang. Untuk mendapatkan kesepakatan, dukungan, atau lainnya, tidak jarang orang membangun hubungan dari saku ke saku, dari otak ke otak, dan bahkan melalui pintu-pintu yang bersifat formal atau hukum yang sebenarnya juga belum tentu menyelesaikan masalah secara tuntas.
Membangun hubungan dengan menggunakan pendekatan dari saku ke saku, atau maksudnya dengan uang atau bersifat transaksional, ternyata pada akhir-akhir ini, semakin banyak ditemui. Tidak jarang terdengar, untuk memenangkan pemilihan pejabat politik misalnya, ditempuh dengan cara transaksional itu. Siapa saja yang memberi uang dan jumlahnya paling banyak, maka mereka itu yang dipilih. Transaksi yang demikian itu biasanya tidak menghasilkan kebaikan. Banyaknya pejabat pemerintah yang menyimpang atau korup, sebenarnya berawal dari hubungan antar saku ini.
Selain dengan uang, hubungan juga bisa dilakukan dengan dialog, berdebat, berbantah, dan semacamnya. Hubungan semacam ini, mengedepankan logika atau akal, sehingga bisa disebut hubungan antara kepala dengan kepala. Masing-masing pihak untuk meraih kemenangan, mereka mengajukan alasan, argumentasi atau logika, serta data pendukungnya. Melalui cara semacam itu, persoalan bisa terselesaikan. Akan tetapi, lewat pendekatan itu, pihak yang kalah belum tentu ikhlas menerima kekalahannya. Sekalipun mengakui kalah, yang bersangkutan masih bersemangat agar pada suatu ketika menjadi menang.
Pilihan lainnya, hubungan diselesaikan dengan pendekatan formal, misalnya melalui aturan, undang-undang, atau semacamnya. Sebagaimana menyelesaikan persoalan dengan otak, atau dengan saku, maka pendekatan formal biasanya menghasilkan sesuatu yang bersifat formal pula. Sebagaimana yang sifatnya formal itu, maka yang terpenting adalah sesuai dengan aturan. Hubungan semacam ini bisa menyelesaikan masalah, tetapi tidak jarang menyisakan persoalan baru yang tidak mudah diselesaikan. Rendahnya kualitas pendidikan dan bahkan munculnya ijazah palsu yang diramaikan pada akhir-akhir ini misalnya, sebenarnya disebabkan oleh karena dalam menyelesaikan persoalan tersebut lebih mengedepankan peraturan atau undang-undang itu.
Pendekatan hati sebenarnya lebih tepat digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah. Hati yang bersih dan sehat akan selalu mengajak kepada siapa saja untuk berbuat jujur, adil, benar, dan berprikemanusiaan. Sayangnya di dunia modern seperti sekarang ini, banyak orang justru meninggalkan pendekatan hati itu. Banyak persoalan diselesaikan dengan saku, dengan kepala, dan dengan pendekatan formal yang belum tentu memuaskan semua pihak. Padahal, pada zaman apapun, suara hati, atau hubungan dari hati ke hati, seharusnya lebih dikedepankan dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidup, baik yang bersifat pribadi maupun sosial kemasyarakatan. Wallahu a'lam.



