Memperlakukan Orang Lalai
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 21 Januari 2016 . in Dosen . 10580 views

Sebenarnya orang lalai itu adalah hal biasa atau bersifat manusiawi. Setiap orang pernah melakukan kelalaian, baik besar ataupun kecil. Sebaliknya justru aneh jika terdapat orang yang merasa tidak pernah melakukan kelalaian atau bahkan kesalahan. Dikatakan di dalam hadits nabi, bahwa manusia itu termpatnya salah dan lupa atau lalai itu.

Di dalam ajaran Islam dianjurkan agar antar sesama selalu saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Juga disebutkan bahwa setiap orang selalu dalam keadaan merugi, kecuali orang yang beriman, beramal shaleh, dan mereka yang saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran.

Sifat dasar manusia tersebut seharusnya dijadikan pijakan di dalam membangun kehidupan bersama, dan bahkan juga di dalam membangun negara dan bangsa. Di dalam membangun kehidupan bersama, manusia seharusnya diposisikan pada tempat terhormat, dihargai, dan bahkan dimuliakan. Tidak selayaknya, dalam menyelesaikan masalah, manusia justru dikalahkan sekedar oleh uang, harta, dan atau barang.

Manakala terdapat dua pilihan, yaitu antara menyelamatkan manusia dan uang atau harta kekayaan, maka orang harus menjadi pilihan utama. Menyelamatkan barang atau uang dengan mengorbankan orang adalah tidak tepat. Tatkala ada orang sakit, maka harus segera dicarikan obat sekalipun harus mengeluarkan uang, berapapun jumlahnya. Bahkan untuk menyelamatkan jiwa orang, tidak perlu berhitung, berapapun harus dibayar dan bahkan jika perlu berhutang pun harus ditempuh.

Pada akhir-akhir ini, terasa sekali bahwa, banyak kalangan lebih menghargai harta dan atau kekayaan dibanding harkat dan martabat orang. Seseorang mengejar harta hingga mengorbankan dirinya sendiri. Mereka bersedia mengeluarkan apa saja untuk memperoleh keuntungan material, berupa uang atau harta. Dikiranya, harta lebih tinggi nilainya dibanding harkat dan martabat dirinya sendiri.

Bahkan juga terjadi, seseorang yang semula dianggap baik, jujur, memiliki semangat juang dan akhirnya ditunjuk menjadi pemimpin, ternyata hanya oleh karena dianggap salah mengelola harta atau uang, maka yang bersangkutan harus diadili dan dihukum. Anehnya, sementara orang merasa senang tatkala mendengar ada pemimpinnya dihukum. Maka artinya, rasa kemanusiaan telah terkalahkan oleh rasa kecintaan terhadap harta.

Padahal, ajaran agama memberikan tuntunan bahwa, antar sesama harus saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Manakala ajaran yang indah itu dihayati dan dipedomani, maka orang lalai bisa diperkecil jumahnya dan apalagi juga tidak harus dihukum. Hasilnya, kehidupan menjadi damai, tidak terjadi saling membidik, menjatuhkan, dan mencari-cari kesalahan orang lain. Jika demikian itu yang dijadikan pedoman, maka harkat dan martabat manusia menjadi selalu terjaga Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up