Mengambil Pilihan Terbaik
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 4 Januari 2016 . in Dosen . 5160 views

Dalam menjalani hidup, semua orang dihadapkan pada berbagai pilihan. Pilihan yang dimaksudkan kadang sedemikian sederhana, sehingga mudah dilakukan. Misalnya, memilih antara dua hal, yakni hitam dan putih, bagus dan tidak bagus, manis dan pahit, gelap dan terang, dan seterusnya, semua itu adalah mudah. Tetapi tidak semua pilihan yang dihadapi sesederhana itu. Kadang kala pilihan itu serupa, mirip, dan atau terlalu banyak, sehingga tidak gampang ditentukan, mana yang harus diambil yang sekiranya paling tepat.

Selain itu, di antara berbagai pilihan juga memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing atau memiliki resiko yang berbeda-beda. Oleh karena itu tidak semua orang bisa memilih dengan mudah. Islam sebenarnya memberikan petunjuk, bahwa di dalam memilih apapun agar mengambil yang terbaik. Konsep itu disebut ikhsan, atau pilihan terbaik. Mungkin saja, semua pilihan itu baik, tetapi mendasarkan pada konsep ikhsan, maka tatkala memilih di antara yang baik-baik, agar memilih yang terbaik. Atau sebaliknya, jika di antara semua pilihan beresiko, maka agar memilih yang paling kecil resikonya.

Para pemimpin, setiap hari harus mengambil keputusan. Pekerjaan itu tidak selalu mudah, oleh karena pilihan itu tidak selalu bersifat hitam putih. Seringkali, di antara pilihan itu, selain menguntungkan atau lebih baik, juga mengandung resiko. Apapun, pemimpin harus mengambil pilihan. Bahkan kadang, keputusan itu harus diambil sesegera mungkin. Dalam suasana seperti itu, maka yang seharusnya dipedomani adalah mengambil yang terbaik di antara yang baik, atau sebaliknya mengambil yang paling kecil resikonya. Namun, apapun keputusan dalam mengambil pilihan itu tidak akan mampu memuaskan semua pihak. Sebagai pemimpin harus memilih yang dianggap paling baik, atau terkecil resikonya.

Tidak saja para pemimpin, siapapun hingga termasuk rakyat biasa, dalam kehidupan sehari-hari juga dihadapkan pada pilihan-pilihan, baik yang berhubungan dengan pekerjaan, pendidikan bagi anak-anaknya, dalam hubungan social, politik, berekonomi, dan seterusnya. Orang pada umumnya dalam mengambil keputusan, biasanya berkonsultasi pada orang yang dianggap lebih pintar atau berpengalaman. Itulah sebabnya, keberadaan pemimpin informal, seperti para ulama, kyai atau pemimpin agama pada umumnya di tengah masyarakat menjadi penting oleh karena seringkali dimintai pendapat atau nasehat untuk memilih pilihan terbaik itu.

Orang yang cerdas, berpengalaman, dan berpengetahuan luas biasanya dianggap mampu memberikan pandangan terkait dengan berbagai pilihan itu. Mereka itu tidak saja dianggap mampu melihat apa yang sudah terjadi, tetapi juga apa yang akan terjadi jauh ke depan. Kemampuannya yang demikian itu dijadikan modal untuk menentukan pilihan yang terbaik. Tidak akan mungkin seseorang memilih yang terbaik manakala yang bersangkutan tidak mengetahui berbagai jenis pilihan dan sekaligus keuntungan dan atau resiko di antara masing-masing alternative pilihan itu.

Salah satu kegunaan ilmu pengetahuan adalah menjelaskan dan juga memprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang. Itulah sebabnya, para ilmuwan biasanya mampu memberikan pertimbangan terhadap pilihan terbaik sebagaimana dimaksudkan itu. Lebih dari sekedar ilmuwan, adalah para agamawan. Seharusnya dengan penguasaan terhadap kitab suci, al Qur'an, mereka mampu memberikan alternative pilihan yang terbaik. Oleh karena itu, memahami kitab suci sebenarnya adalah keharusan bagi siapa pun yang menghendaki agar dalam mengambil keputusan sehari-hari, berhasil memilih yang terbaik, atau disebut ikhsan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up