Untuk memenuhan kebutuhan ekonomi dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sebenarnya banyak pilihan. Misalnya, menjadi pegawai negeri atau PNS, petani, nelayan, berdagang, buruh, dan lain-lain. Khusus bekerja secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain biasanya disebut berwirausaha atau entrepreneur. Apapun yang dipilih, semuanya bagus, namun yang penting adalah hasilnya halal. Dalam soal mencari rizki yang tidak dibolehkan, ---apapaun alasannya, adalah mendapatkan kekayaan yang tidak halal.
Tatkala memilih jenis pekerjaan, ada banyak pertimbangkan. Bagi mereka yang tidak berani beresiko, biasanya menyukai untuk menjadi pegawai negeri atau bekerja pada orang lain. Alasannya sederhana, yaitu gaji PNS atau buruh kepada orang lain, sekalipun jumlahnya tidak berlebihan, tetapi ada kepastian. Pada setiap bulan pasti ada pendapatan yang diterima. Itulah di antara pertimbangan seseorang berharap menjadi PNS atau buruh kepada orang lain.
Hal tersebut berbeda dengan ketika seseorang menjadi entrepreneur atau wirausahawan. Penghasilannya bersifat tidak tentu, kadang-kadang, atau tidak pasti. Kadang-kadang beruntung besar, kadang-kadang untungnya kecil, dan bahkan bisa jadi suatu saat juga merugi. Selain itu, sehari-hari para entrepreneur, hidupnya penuh resiko yang harus ditanggung. Itulah sebabnya, tidak semua orang berani menjalaninya.
Namun ternyata tidak semua orang menyukai berada pada zone aman. Orang yang selalu berada di wilayah aman dianggapnya tidak ada tantangan, hidupnya menjadi monoton, dan membosankan. Aman dirasakan kurang nikmat. Rasa puas atau nikmat justru dirasakan tatkala berhasil menghadapi tantangan, mampu menyelesaikan masalah, hambatan, atau kesulitan. Orang yang memiliki jiwa seperti itu, tidak cocok menjadi PNS atau buruh. Mereka akan lebih memilih menjadi entrepreneur atau berwirausaha, agar hidunya selalu tertantang.
Diharapkan bahwa, orang yang selalu menempatkan diri pada kehidupan yang penuh tantangan akan menjadi semakin cerdas, dinamis, dan sehari-hari berusaha menjadi yang terbaik. Selain itu, sebagai wirausahawan tidak terlalu banyak berhadapan dengan aturan, tata tertib, atau jadwal yang kaku. Sehari-hari yang dirasakan membentuk dirinya bukan peraturan, tradisi, atau tata tertib, tetapi adalah tuntutan kebutuhan orang lain yang selalu memilih yang terbaik dan berkualitas.
Sebagai entrepreneur, maka dalam bekerja bukan mendasarkan atas pengawasan oleh atasannya, memenuhi aturan, dan atau apalagi bermental seadanya, tetapi harus berpacu dengan para persaing yang lebih lihai, cerdas, dan unggul. Keadaan itulah yang juga menjadikan seseorang semakin cerdas, dinamis, dan hidupnya dirasakan tidak membosankan. Tentu, tantangan itu sendiri juga akan bersifat dinamis, yaitu semakin lama semakin beragam dan bahkan tidak bisa diprediksi, dan atau diperkirakan sebelumnya.
Keberanian menjalani hidup dengan penuh tantangan sebagaimana dimaksudkan itu hanya dimiliki oleh orang yang percaya diri, mau belajar terus menerus, sanggup menghadapi resiko, dan tidak pernah takut dengan makhluk manapun. Maka, jiwa seperti itulah yang seharusnya dikembangkan di berbagai jenis lembaga pendidikan tatkala bangsa ini sedang menghadapi persaingan yang semakin luas dan beragam, sulit diprediksi, dan tidak pernah mau diajak kompromi. Sebaliknya, jika institusi pendidikan hanya sekedar memenuhi target dan atau syarat formal, maka tinggal menunggu datangnya kekecewaan secara bersama-sama. Wallau a'lam



