Al Qosyim
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 13 Februari 2016 . in Dosen . 948 views

Menyebut kata al Qosyim, mungkin sementara orang mengira sebagai nama seseorang. Sebab memang banyak orang menggunakan atau diberi nama itu. Tapi dalam tulisan ini, al Qosyim yang dimaksudkan adalah nama salah satu kota di Saudi Arabia. Tempatnya memang agak jauh, dari Riyad ke provinsi itu, orang biasanya naik pesawat terbang kira-kira 45 menit. Sementara itu dari Jeddah ke Riyad membutuhkan waktu penerbangan sekitar 1 jam.

Kota Qosyim cukup besar, bahkan juga terdapat universitas terkenal bernama Universitas al Qosyim. Namun demikian, tidak banyak diketahui oleh orang luar, termasuk dari Indonesia. Sekalipun pada setiap hari, selalu ada orang Indonesia pulang pergi ke Saudi Arabia untuk melaksanakan ibadah umrah, dan begitu pula berhaji pada musim haji, tetapi tidak banyak mengenal kota itu.

Jama'ah haji dan umrah biasanya hanya mendapatkan visa ke tiga kota, yaitu Jeddah, Makkah, dan Madinah. Jika mereka ingin berkunjung ke kota selainnya, harus mengajukan permohonan untuk mendapatkan visa tambahan. Perrmohonan visa dimaksud bisa diajukan di Jeddah, tetapi menurut pengalaman saya tidak gampang. Sekedar mengurus visa ke Riyad dari Jeddah, saya memerlukan waktu hingga beberapa hari.

Pembatasan kota yang boleh dikunjungi oleh jama'ah haji dan umrah menjadikan orang luar, termasuk Indonesia tidak banyak mengenal kota-kota yang ada seluruh wilayah Saudi Arabia. Akibatnya, seringkali membuahkan kesan dari orang luar yang kurang tepat terhadap orang Saudi Arabia. Banyak orang mengira bahwa di negara Saudi Arabia tidak banyak lembaga pendidikan yang maju. Padahal, di kota-kota besar, termasuk di Qosyim, banyak universitas yang maju dengan berbagai jenis fakultas, tidak saja fakultas agama, tetapi juga fakultas teknologi, pertanian, kedokteran, ekonomi, komputer, dan lain-lain.

Demikian pula, banyak orang mengira bahwa di Saudi Arabia, orang hanya mempelajari buku-buku agama, seperti ilmu tafsir, hadits, fiqh, tauhid, tarekh, dan sejenisnya. Padahal sebenarnya tidak begitu. Buku-buku berbagai jenis ilmu pengetahuan ditulis atau dihasilkan oleh para dosen dan guru besar perguruan tinggi yang ada di berbagai kota itu dengan menggunakan Bahasa Arab. Sementara ini, kebanyakan orang Indonesia misalnya, mengira bahwa di Saudi Arabia hanya bisa didapatkan buku agama. Kesan seperti itu, saya jelaskan kepada beberapa orang yang saya kenal di negara itu.

Keterbatasan informasi yang sampai pada orang Indonesia, dan juga kepada negara lain, mengenai kemajuan atau keadaan orang Saudi Arabia yang sebenarnya, sangat merugikan mereka sendiri. Dikira orang Arab hanya mengerti tentang kitab-kitab agama berbahasa Arab, padahal kenyataannya tidak begitu. Dengan maksud baik, agar Saudi Arabia tidak disalah pahami oleh orang Indonesia, terutama terkait pengembangan ilmu pengetahuan modern, saya mengusulkan kepada mereka agar mengirim buku-buku tentang ilmu pengetahuan dan teknologi ke perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sebagai hadiah, untuk dijadikan bahan koleksi.

Usul tersebut ternyata direspon baik dan disetujui. Beberapa tahun yang lalu dikirimlah berbagai jenis buku literatur ilmu pengetahuan modern, seperti kedokteran, ekonomi, komputer, teknik, fisika, kimia, matematika, dan lain-lain dalam jumlah yang cukup banyak ke perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sebagai sumbangan. Ternyata benar, ketika ada pengasuh pesantren mengunjungi perpustakaan, mereka terheran-heran ketika melihat buku tentang teknologi, ekonomi, dan lain-lain berbahasa Arab. Rupanya mereka menjadi sadar bahwa Bahasa Arab pun juga digunakan sebagai bahasa ilmu pengetahuan modern.

Al Qosyim sebagai salah satu kota provinsi di Saudi Arabia, rakyatnya cukup maju dan makmur. Fasilitas hidup masyarakat, misalnya sarana transportasi, kesehatan, pendidikan, sosial, dan lain-lain terpenuhi dengan baik. Banyak ilmuwan di negara itu berasal dari kota itu, termasuk para Imam Masjid, baik Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Daerah itu menjadi makmur, di antaranya, dari hasil tanaman kurma. Menurut informasi bahwa dari Qosyim dihasilkan kurma jenis terbaik. Selain mencukupi kebutuhan di negara itu, kurma dari Qosyim dieksport ke berbagai negara.

Sebenarnya tanah di provinsi itu tidak terlalu subur, lebih-lebih jika dibandingkan dengan di Indonesia. Akan tetapi tanah yang ada diolah dan ditanami buah makanan pokok penduduknya. Menurut informasi, penghasil kurma terbesar di Saudi Arabia adalah dari Qosyim. Beberapa kali saya berkunjung ke provinsi yang kaya hasil tanaman kurma tersebut, saya selalu bertanya pada diri sendiri, mengapa rakyat Indonesia yang tanahnya lebih subur dan luas, ternyata tidak lebih makmur. Mungkin selama ini ada sesuatu yang keliru atau kurang tepat dalam memakmurkan rakyatnya, misalnya dalam pengelolaan pendidikan, sumber alam, birokrasi, dan atau lainnya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up