Antara Alumni Pesantren Dan Alumni Perguruan Tinggi
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 3 Februari 2016 . in Dosen . 7546 views

Dua jenis lembaga pendidikan, yakni antara pesantren dan perguruan tinggi memang berbeda. Perbedaan itu tidak saja menyangkut identitas yang disandang, yaitu antara tradisional dan modern, tetapi juga mindset yang berhasil dibentuk oleh kedua jenis lembaga pendidikan dimaksud. Lulusan pesantren, apalagi yang berciri salaf, sehari-hari para santri diajari kitab-kitab klasik, atau disebut kitab kuning. Para santri umumnya mengenakan sarung, baju koko, dan tentu kopyah atau songkok sebagai penutup kepala.

Selain hal tersebut, para santri dibiasakan hidup sederhana, mandiri, dan kebersamaan. Mereka ditanamkan sikap agar selalu menghormati guru, pemimpin, dan orang tua. Sopan santun atau bersikap tawadhu' menjadi perhatian utama di dalam pergaulan. Kepada para santri tidak terlalu diajak berpikir tentang jenis pekerjaan atau ekonomi masa depan. Yang dimaknai sebagai ilmu yang bermanfaat dan sehari-hari harus dicari tidak selalu ada kaitannya dengan kehidupan di dunia ini.

Di dalam pendidikan pesantren, oleh ustadz atau kyainya, para santri selalu ditanamkan tentang keharusan berjuang di masa depan. Perjuangan yang dimaksud bukan terkait dengan perolehan keuntungan pribadinya sendiri, melainkan justru kepada orang lain. Kepada para santri selalu ditanamkan keutamaan dalam menjalani hidup, yaitu agar bermanfaat bagi sesama. Itulah sebabnya, para santri memiliki semangat untuk berdakwah, mendirikan pesantren, madrasah, mushalla atau masjid.

Rupanya, sekalipun tidak selalu, mindset yang ditanamkan kepada para mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi memang berbeda. Para mahasiswa didorong segera menyelesaikan sejumlah sks pada setiap semester, agar dinyatakan lulus, diwisuda, dan setelah itu memperoleh pekerjaan. Salah satu ukuran prestasi lulusan perguruan tinggi adalah cepat lulus dan segera memperoleh pekerjaan dengan gaji cukup untuk membiayai hidupnya. Berangkat dari ukuran tersebut, jika lulusan perguruan tinggi tidak segera memperoleh pekerjaan maka yang bersangkutan akan diangap gagal. Demikian pula jika lulusannya tidak segera mendapatkan pekerjaan, maka perguruan tinggi yang bersangkutan juga tidak disebut hebat.

Nyata sekali bahwa orientasi belajar di perguruan tinggi adalah agar cepat lulus, mendapatkan nilai unggul, dan segera memperoleh lapangan pekerjaan. Bahkan pilihan fakultas, jurusan dan program studi juga mempertimbangkan lapangan kerja kelak setelah lulus. Oleh karena itu, fakultas dan jurusan yang lulusannya dipandang cepat mendapatkan pekerjaan, dan apalagi bergaji tinggi, maka akan menjadi rebutan calon mahasiswa, dan begitu pula sebaliknya. Mindset yang ditanamkan adalah lulus, kerja, dan berpenghasilan tinggi.

Perbedaan lainnya, jika di pesantren ditanamkan ketaatan atau sikap tawadhu', maka di perguruan tinggi ditanamkan sikap kritis, terbuka, dan berani. Apa saja yang dianggap perlu ditanyakan atau didebat maka akan diperdebatkan. Berbeda dengan itu, di pesantren para santri dibiasakan bersikap sami'na wa atho'na. Namun demikian, dalam waktu tertentu, yakni ketika membahas sesuatu yang memang perlu diperdebatkan, maka perdebatan juga dilaksanakan. Hanya saja, perdebatan itu biasanya dilaksanakan di antara sesama santri, dan bukan antara santri dan kyainya.

Nilai-nilai yang dikembangkan di pesantren ternyata menjadikan para santri lebih dekat pada masyarakat dibanding para mahasiswa perguruan tinggi. Hal demikian itu rupanya diketahui dan disadari oleh sementara kyai. Oleh karena itu, ketika memimpin perguruan tinggi, saya pernah diajak berlomba oleh kyai terkait kecepatan beradaptasi kepada masyarakat antara santri dan mahasiswa. Dalam perlombaan itu saya diminta untuk memilih mahasiswa yang paling pintar di kampus untuk dilombakan dengan santri yang paling bodoh. Keduanya, yakni santri dan mahasiswa, ditugasi bertempat tinggal, ---dalam beberapa waktu, di pedesaan. Setelah beberapa lama, mereka dinilai mana di antara keduanya yang paling cepat beradaptasi dengan masyarakat. Kyai merasa yakin akan menang, bahwa santri akan lebih cepat beradapasi pada masyarakat dibanding mahasiswa.

Kyai juga mengajak mendata masjid atau mushalla yang ada di sekitar kampus. Pengasuh pesantren dimaksud berkeyakinan bahwa, banyak tempat ibadah dirintis dan dibangun oleh alumni pesantren, dan bukan oleh alumni perguruan tinggi. Dengan dana menyindir, alumni perguruan tinggi, menurut pengamatan kyai, lebih tertarik mendidikan kos-kosan daripada membangun masjid atau mushalla. Alumni pesantren oleh karena mindset yang terbangun adalah selalu terkait dengan pengabdian masyarakat maka yang dicita-citakan adalah membangun madrasah, pesantren dan masjid. Sementara itu, alumni perguruan tinggi lebih cenderung tertarik pada urusannya sendiri.

Membandingkan secara antagonistik antara kedua jenis lembaga pendidikan tersebut tentu menarik. Akan tetapi, kiranya akan lebih menarik lagi manakala mengkombinasikan antara keduanya. Tradisi pesantren digabungkan dengan tradisi perguruan tinggi. Maka kekurangannya masing-masing bisa ditambal dari yang lain. Kekurangan pesantren ditambal oleh perguruan tinggi dan begitu pula sebaliknya. Manakala kombinasi itu bisa diwujudkan maka kekurangan masing-masing dimaksud akan bisa dihindari. Maka, munculah konsep pesantren perguruan tinggi atau perguruan tinggi pesantren. Kelebihan lulusan perguruan tinggi di bidang intelektual bisa disempurnakan dengan kemampuan spiritual atau ketajaman hati yang biasanya dikembangkan oleh pesantren. Begitu pula sebaliknya, kekurangan pesantren bisa ditambal oleh kelebihan yang dihasilkan oleh tradisi perguruan tinggi. Dengan pendekatan seperti itu, hasil pendidikan akan menjadi semakin sempurna. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up