Memang agaknya aneh misalnya ada guru mata pelajaran menggambar tetapi tidak bisa menggambar. Guru menyanyi tidak sanggup menyanyi, guru olah raga tetapi tidak bisa menendang bola, bermain pimpong, dan lain-lain. Tuntutan yang sama juga ditujukan kepada para guru agama. Mereka seharusnya sanggup menjadi imam shalat, berkhutbah dan atau memimpin kegiatan keagamaan lainnya. Lebih dari itu, para guru tafsir, guru hadits, fiqh dan seterusnya dalam kehidupan sehari-hari, perilakunya juga seharusnya selalu mendasarkan pada petunjuk al Qur'an maupun hadits nabi yang diajarkan.
Belajar seharusnya kepada ahlinya, dan bukan sekedar kepada orang yang tahu materi mata pelajaran yang akan diajarkan. Pengetahuan yang dimiliki guru yang mengajar harus luas dan mendalam. Seorang yang baru saja mengenal mata pelajaran yang akan diajarkan, maka akan beresiko, yaitu penjelasan yang diberikan tidak akan jelas. Guru matematika yang baik adalah orang yang mengerti dan telah berpengalaman lama mengajar matematika. Guru Bahasa Inggris yang baik adalah orang yang telah berpengalaman lama mengajar Bahasa Inggris dan juga cakap berbahasa asing itu. Begitu pula seterusnya.
Orang yang baru saja mengenal materi pelajaran yang akan diajarkan, kemudian ditugasi mengajar, maka betapapun pintarnya, yang bersangkutan tidak akan mampu mengajar dengan baik. Pengetahuan dan ketrampilan yang bersangkutan tidak akan mencukupi untuk dijadikan bekal sebagai guru yang baik. Kemampuan mengajar mata pelajaran apa saja tidak akan maksimal jika dipersiapkan hanya dalam waktu singkat. Sekedar untuk kepentingan dirinya sendiri, pengetahuan bisa diperoleh secara mendadak. Akan tetapi, sebagai modal untuk mengajar, pengetahuan yang dimilikinya harus luas, mendalam, dan detail.
Selain itu, pada hakekatnya mengajar tidak sekedar menyampaikan materi pelajaran, melainkan juga menanamkan nilai-nilai yang ada pada mata pelajaran yang diajarkan itu. Selain itu, mengajar tidak saja berusaha menjadikan orang yang diajar tahu dan atau mengerti, melainkan harus sampai menghayati dan berlanjut hingga mencintai pelajaran yang dimaksud. Para ahli pendidikan menyebut bahwa mengajar bukan saja mentransfer pengetahuan tetapi juga membangun nilai, watak, dan karakter orang yang diajarkannya. Atau dalam bahasa lain, tugas guru bukan saja membangun kemampuan kognitif, melainkan juga afektif, dan psikomotorik.
Betapa guru harus menguasai pelajaran secara luas dan mendalam bisa dijelaskan lewat kasus berikut. Seseorang yang kembali dari desa yang didatangi hanya beberapa kali dan dalam waktu singkat, maka tidak akan mungkin mampu menjelaskan suasana desa itu secara rinci dan detail. Akan sangat berbeda umpama yang bersangkutan sudah bertempat tinggal di desa itu dalam waktu lama dan ditambah lagi, yang bersangkutan sering bertugas menjelaskan keadaan desa itu. Kesadaran akan tugas menjelaskan tentang desa itu kepada orang lain, maka pengetahuannya akan terasa mendalam. Mereka yang mendengarkannya pun akhirnya juga akan merasa puas.
Gambaran tersebut sebenarnya juga tepat digunakan untuk menjelaskan tentang betapa para guru dalam mengajar harus menguasai dan bahkan menghayati betul mata pelajaran yang diajarkan. Jika pengetahuan guru yang dimaksudkan itu baru saja diperoleh dari membaca buku yang akan diajarkan, dan atau apalagi dari mengikuti penataran, maka mengajarnya tidak akan jelas. Jangankan menjelaskan kepada orang lain, sementara itu dirinya sendiri saja belum jelas. Memberikan tugas mengajar kepada guru yang bukan ahli atau bukan bidangnya adalah sama artinya dengan mengorbankan kualitas pendidikan yang sedang dijalankan.
Guru dalam mengajar tidak cukup hanya berbekalkan pengetahuan yang diperoleh dengan cara sederhana., misalnya lewat penataran singkat. Guru harus benar-benar ahli dan menguasai bidangnya. Bahkan guru harus menghayati dan menjiwai terhadap ilmu pengetahuan yang diajarkan. Guru menggambar harus pandai menggambar, guru olah raga harus mencintai olah raga, guru Bahasa asing harus mampu berbahasa asing yang diajarkan, penampilan sehari-hari sebagai pegajar seni maka seharusnya tampak sebagai seniman. Demikian pula dosen atau guru al Qur'an dan ilmu hadits tentu juga dituntut tidak saja mampu membaca kitab dimaksud, tetapi sebisa-bisa mampu menghayati dan berperilaku sebagaimana materi yang diajarkan itu. Jika persyaratan guru sebagaimana disebutkan itu dapat dipenuhi, maka kualitas pendidikan bolehlah diharapkan. Wallahu a'lam



