Setiap orang seharusnya berusaha membangun sejarah masa depan, apalagi sebagai seorang pemimpin. Berbicara sejarah, umumnya tertuju pada pembicaraan masa lalu. Pembicaraan masa lalu sebenarnya juga penting, sebagai modal untuk menghadapi masa depan yang kaya tantangan, baik jenis dan bentuknya yang beraneka ragam. Akan tetapi berbicara masa lalu tanpa dilanjutkan untuk membuat sejarah masa depan tidak terlalu banyak gunanya. Hidup ini tidak akan kembali atau mengulang masa lalu, melainkan menatap masa depan yang penuh tantangan.
Orang yang selalu melihat masa depan dan kemudian memahaminya dengan baik, akan bisa menjalani hidup dengan baik pula. Berbagai hal yang akan terjadi, sekalipun tidak persis, sudah diketahui terlebih dahulu. Orang yang demikian itu tidak akan gelagapan menghadapi hidupnya. Segala sesuatu yang mungkin terjadi sudah diperhitungkan dan bahkan dipersiapkan. Orang terbiasa melihat masa depan, akan mampu berpikir di depan zamannya. Seseorang yang memiliki kemampuan seperti itu, tidak akan tertinggal oleh perubahan zaman, tetapi justru akan berhasil mengendalikan apa yang akan terjadi.
Sebaliknya, orang yang tidak memperhatikan dan bahkan tidak peduli pada masa depan, akan selalu mengalami keterkejutan. Perubahan yang selalu terjadi tidak dipahami dan diperhitungkan. Mereka mengira bahwa dunia ini berjalan secara tetap, padahal yang terjadi adalah berubah-ubah. Perubahan itu, pada akhir-akhir ini semakin cepat geraknya. Mengerti akan perubahan itu, maka membeli apa saja tidak perlu memilih yang awet, sebab yang tahan lama itu akan merugi. Selain harganya mahal akan segera dianggap usang dan harus berganti yang baru. Membeli HP misalnya, tidak perlu mencari yang awet. Sebab sebentar saja, model HP akan berubah, dan begitu pula perangkat asesorisnya. Hal demikian itu sebagai pertanda bahwa perubahan semakin cepat.
Para pemimpin, menyangkut pemimpin apa saja, membutuhkan kemampuan dan kecakapan untuk melihat kecenderungan perubahan masa depan. Pemimpin yang hanya mampu melihat sejarah masa lalu, atau apa yang terjadi pada hari ini, mereka tidak akan berhasil membawa masyarakat yang dipimpinnya menjadi maju dan berkembang. Sebaliknya, mereka akan selalu tertinggal. Resiko ketertinggalan itu tidak saja dialami oleh dirinya sendiri, tetapi juga olrh institusi dan semua orang yang dipimpinnya. Untuk mengetahui pemimpin yang mampu melihat masa depan sebenarnya tidak sulit, yaitu melalui cara kerjanya dan wacana yang dikembangkan sehari-hari. Pemimpin yang orientasi kerjanya hanya bersifat rutin dan wacana yang dikembangkan hanya tentang masa lalu, maka jelas bahwa yang bersangkutan tidak mampu melihat dan menyusun sejarah masa depan.
Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, apa saja harus dirancang, dan bahkan direkayasa. Kehidupan apa saja yang hanya bersifat alami, mengikuti gerak zaman, banyak menyerah pada keadaan, maka akibatnya pasti akan kalah dari yang lain. Nasip mereka dan juga instirtusi yang dipimpinnya hanya akan ditentukan, dan bukan menentukan. Hal itu berbeda manakala seseorang, dan apalagi sebagai pemimpin mampu memahami masa depan dan berhasil menyusun sejarah yang dianggap ideal. Mereka itu akan memenangkan pertarungan dalam berbagai jenis berkompetisi. Kemampuan menyusun sejarah masa depan, artinya adalah sanggup menyusun berbagai strategi dan memenuhi berbagai hal yang diperlukan untuk mewujudkan sejarah yang dimaksudkan itu.
Pemimpin yang mampu menyusun sejarah masa depan adalah orang-orang cerdas, memiliki keyakinan yang kokoh, kemampuan berkhayal, dan integritas yang tinggi. Sebaliknya, adalah bukan hanya orang yang mampu mengerjakan pekerjaan rutin, selalu menunggu, ingin dilayani, dan tidak mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi. Bangsa yang hebat, institusi yang hebat, tidak terkecuali institusi perguruan tinggi yang hebat, seharusnya memiliki pemimpin yang mampu menyusun sejarah masa depan itu. Manakala sosok manusia seperti itu gagal diperoleh, maka akibatnya menjadi amat luas, yaitu tidak ada dinamika atau kemajuan, dan akhirnya tidak ada sesuatu yang dibanggakan. Wallahu a'lam



