Untuk meraih dan atau menuju suatu tujuan, pasti melalui jalan. Jalan itu kadang jelas, kadang tidak jelas, dan kadangkala pilihannya cukup banyak. Umpama saja jalan itu hanya satu dan tidak ada pilihan, maka jalan satu-satunya itu harus dilalui. Akan tetapi menjadi tidak mudah, jika jalan itu jumlahnya banyak, dan oleh karena itu harus memilih. Umpama masing-masing pilihan itu diketahui kelebihan dan kekurangannya, maka siapapun pasti memilih yang terbaik.
Seseorang yang berkeinginan menjadi kaya, maka jalannya adalah harus bekerja agar mendapatkan rizki. Banyak cara mencari rizki, tetapi tidak semua cara mendatangkan rizki yang banyak. Hanya jenis pekerjaan tertentu saja yang kemungkinan mendatangkan rizki banyak, misalnya menjadi pedagang atau pengusaha besar, petani atau nelayan dengan modal besar, dan sejenisnya. Menjadi pedagang kecil atau buruh dengan upah rendah tidak akan menjadi kaya.
Begitu pula seorang mahasiswa yang berkeinginan berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu dan berprestasi tinggi, maka harus melalui jalan yang terbaik. Mahasiswa yang bersangkutan harus fokus pada kuliahnya, rajin membaca buku, melakukan penelitian, bergaul dengan para dosen dan guru besar yang berprestasi, dan semacamnya. Bekeinginan berprestasi tetapi tidak pernah fukus pada kuliahnya, sehari-hari hanya mengurus organisasi yang tidak jelas orientasinya, maka belajarnya tidak akan berhasil. Pilihan jalannya keliru, tidak jelas mana yang dianggap pokok dan mana yang sambilan, akhirnya kegagalan yang didapat.
Dalam kontek yang lebih besar, adalah tujuan yang akan diraih oleh bangsa ini, yaitu untuk menjadikan seluruh warga negaranya makmur, sejahtera, dan berkeadilan. Rumusan tujuan berbangsa dan berbegara itu sudah benar, tepat, dan indah sekali. Apalagi hal itu telah disusun bersama dengan melibatkan para tokoh yang diakui bersama oleh komunitas yang diwakilnya. Rumusan yang menyangkut tentang bangsa Indonesia ke depan ada pada Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. Semua pihak telah menyepakati dan bahkan telah berhasil menjadi kebanggannya.
Rumusan yang sudah jelas tersebut, pada tingkat implementasi, di tengah perjalanan sejarahnya, terjadi interpretasi oleh mereka yang sedang berkuasa. Hal demikian itu bisa saja terjadi sebagai bagian dari dinamika, mengikuti kepentingan para pemimpinnya yang memang memiliki otoritas untuk menafsirkan. Pada zaman Pak Harto, orientasi politik diarahkan pada pembangunan. Sedangkan pembangunan memerlukan kestabilan. Oleh karena itu, politik dikemas sedemikian rupa, dengan maksud agar stabil itu. Logika yang digunakan, manakala rakyat dibiarkan terlalu jauh fokus pada politik, maka dikhawatirkan tidak akan berkesempatan membangun.
Akhirnya setelah rezim berganti, justru berbalik. Rakyat dianggap sebagai pemilik negara ini, maka mereka harus diajak ikut serta. Di antara perwujudannya, pemimpin politik harus dipilih langsung, baik pada tingkat daerah, wilayah, hingga tingkat pusat. Jumlah partai politik tidak perlu dibatasi, asalkan berbagai syaratnya dipenuhi, sehingga bagi siapapun diberi peluang seluas-luasnya untuk ikut serta dan atau berpartisipasi. Rakyat benar-benar diberi keleluasaan untuk ikut di dalam kegiatan politik. Pandangan itu tentu bagus, namun di dalam praktek, ada saja permainan untuk mendapatkan keuntungan, baik pribadi atau golongan.
Sebenarnya, semua yang digambarkan tersebut adalah cara, pendekatan, atau jalan yang dipilih untuk meraih tujuan yang diinginkan. Pertanyaannya adalah, apakah pilihan jalan menuju kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan tersebut dipastikan benar dan atau tepat. Tentu, tidak ada yang tahu. Banyak orang berbicara demokrasi, tetapi pada kenyataannya, demokrasi yang dikembangkan penuh rekayasa, transaksi, dan bahkan manipulasi. Buktinya, masih saja terdengar sindirian politik hingga memerahkan telinga, misalnya muncul istilah : ' wani piro', memilih saja siapa yang membayar, dan semacamnya.
Pilihan jalan yang jelek tentu akan mengantarkan pada hasil yang tidak baik. Jalan yang tidak bersih, tidak jujur, dan penuh manipulasi akan merusak sendi-sendi kehidupan, termasuk moral dan mental para pemimpin, juga sekaligus rakyatnya. Bangsa ini dibangun atas dasar niat, tekat, dan cara-cara terpuji, yaitu dengan pengorbanan para pejuang dan pahlawannya dengan ikhlas, terhadap apa saja yang dimiliki, baik, jiwa, raga, harta, dan bahkan nyawa. Jalan yang dipilih untuk meraih kemerdekaan, tampak sedemian tepat, maka akhirnya, tujuan mulia itu berhasil diraih.
Sementara itu, pada akhir-akhir ini, dalam rangka mengisi kemerdekaan untuk meraih kehidupan yang sejahtera, adil, dan makmur, ternyata bukannya pengorbanan yang diberikan, melainkan sementara mereka sibuk bertransaksi untuk meraih kemenangan dan keuntungannya sendiri-sendiri. Akhirnya yang tampak adalah berebut, saling menjatuhkan, membidik, dan saling geser-menggeser adalah menjadi hal biasa. Akibatnya, konflik, permusuhan, dendam, saling menghasut dan sejenisnya tidak bisa dihindarkan. Padahal tujuan mulia, bagi siapapun dan kapanpun, harus ditempuh melalui jalan terbaik. Jika hal itu tidak menjadi perhatian bersama, maka tujuan mulia tersebut jangan berharap dapat segera tercapai, mungkin sebaliknya, justru semakin jauh. Wallahu a'lam



