Ajaran Rasulullah yang sebenarnya sederhana dan sangat penting, namun banyak diabaikan adalah meninggalkan kebohongan. Semua orang bisa menghindar dari kebohongan. Berkata dan berbuat jujur tidak perlu energy, biaya, anggaran, dan juga kepintaran. Anak kecil sekalipun bisa berkata jujur. Kemampuan berkata jujur tidak perlu diperoleh dari sekolah dan apalagi dengan membayar mahal. Siapapun tanpa sekolah bisa berbuat jujur. Jujur hanyalah ketika mampu mengatakan dan melakukan apa adanya.
Problem bangsa ini sepintas terasa pelik, rumit, dan amat sulit dipecahkan. Padahal jika dikaji secara saksama, sumber persoalan itu sebenarnya sederhana, yaitu belum bisa berkata dan berbuat jujur. Para pemimpin bangsa ini belum mampu berkata dan berbuat apa adanya. Sesuatu yang sebenarnya mudah, kecil, dan sederhana direkayasa agar seakan-akan sulit. Padahal mempersulit sesuatu yang mudah adalah bagian dari tidak jujur.
Tidak jujur selain mengganggu jiwa juga menjadi mahal. Orang yang tidak jujur akan merasakan ada ancaman, kekekhawatiran dan ketakutan kalau-kalau kebohongannya terbongkar. Siapapun tidak mau ketika rahasia pribadinya diketahui orang. Itulah sebabnya orang berbohong akan menyiksa diri sendiri. Mereka dihantui oleh rasa cemas, khawatir, dan takut. Karena itu sangat benar pesan Nabi, yakni jangan berbohong. Sebab, berbohong itu akan merugikan diri sendiri.
Kita bisa membayangkan alangkah enak dan murah hidup ini jika semua orang mampu berkata dan berbuat jujur. Keharusan adanya polisi, tentara, jaksa, hakim, satpol PP, banser, security, dan bahkan juga KPK, jika direnungkan secara mendalam, adalah oleh karena sebagian pemimpin bangsa ini belum mampu menghindar dari berbuat bohong. Manakala semua pejabat dan aparatur negara sudah benar-benar bisa dipercaya, maka berbagai instansi pemerintah, seperti Irjen, BPK, BPKP, dan auditor lainnya bisa ditiadakan.
Sebaliknya, oleh karena disadari bahwa banyak aparat pemerintah, PNS, dan juga berbagai jenis pejabat belum bisa dipercaya, maka mengharuskan dibentuk berbagai jenis lembaga pengawas keuangan. Akibatnya, anggaran pemerintah menjadi boros. Berapa anggaran pada setiap tahun yang harus dikeluarkan dari uang rakyat hanya karena banyak pejabat atau pemimpin yang tidak bisa dipercaya. Kebohongan yang merajalela ternyata mengharuskan pemerintah membiayai berbagai jenis aparat menjadi pengawas, auditor, polisi, hakim, termasuk penjara, dan lain-lain.
Umpama saja ajaran Rasulullah dimaksud ditangkap dan dijalankan, maka dapat dibayangkan, berapa jumlah anggaran pemerintah yang bisa diselamatkan. Oleh karena misalnya, sudah dijamin semua orang berperilaku jujur , maka tidak perlu diangkat polisi, auditor, pengawas, BPK, termasuk KPK. Ketika semua sudah jujur, maka di dada masing-masing pejabat atau aparat pemerintah sudah ada polisi, hakim, KPK, dan auditornya, sehingga tidak perlu lagi disediakan petugas pengawas atau pengaman eksternal yang harus digaji dan dibiayai mahal.
Persoalannya adalah bagaimana menjadikan para pemimpin bangsa dan aparat pemerintah tertanam dalam hatinya sifat jujur dan atau mampu meninggalkan kebohongan. Mengandalkan hasil pendidikan ternyata tidak mungkin. Pada kenyataannya, para pengelola lembaga pendidikan di berbagai jenjang tidak ada yang berani mengklaim atau menjamin bahwa lulusannya akan jujur dan atau tidak berbohong. Mereka sanggup berjanji bahwa lulusannya cerdas dan professional, tetapi tidak ada yang menjamin pasti akan jujur. Oleh karena itu, sikap jujur bukan lahir dari lembaga pendidikan, tetapi dari institusi lainnya.
Pertanyaannya adalah, lembaga apa yang bisa menjadikan seseorang meraih derajat atau predikat bisa dipercaya. Nabi Muhammad pesan kepada siapa saja agar tidak berbohong, dan ternyata pesan itu berhasil. Keberhasilan tersebut dipahami, oleh karena Utusan Allah itu sendiri adalah dikenal sebagai orang jujur hingga diberi gelar al Amien, atau orang yang bisa dipercaya. Oleh karena itu, persoalan bangsa ini sebenarnya adalah sedang mengalami kelangkaan contoh, tauladan, atau anutan. Umpama para pemimpinnya mampu menghindar dari berbohong, maka rakyat akan mengikuti.
Perilaku rakyat adalah cermin dari apa yang ada pada para pemimpinnya. Sayangnya, sementara para pemimpin bangsa sekarang ini sedang sibuk terlibat konflik, saling berebut, tuduh menuduh, menjatuhkan, dan sejenisnya. Maka, semoga saja, mereka segera sadar dan berusaha jujur atau tidak berbohong oleh karena sedang menjadi anutan rakyat. Wallahu a'lam



