Menunggu Lebih dari 3000 Perguruan Tinggi Menyelesaikan Persoalan Bangsa
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 14 Februari 2016 . in Dosen . 1042 views

Bangsa Indonesia tidak saja kaya sumber daya alam, tanah yang luas dan subur, lautan, hutan, berbagai jenis tambang, dan lain-lain, tetapi juga kaya perguruan tinggi. Bisa dibayangkan betapa banyaknya perguruan tinggi simaksud, ternyata jumlah itu lebih dari 3000 buah, baik negeri maupun swasta. Jumlah itu belum termasuk yang berbasis agama, yaitu UIN, IAIN, STAIN, IHDN, STAKN, STAHN, dan STABN. Perguruan tinggi berbasis agama juga ada yang berstatus swasta. Jumlahnya juga lebih banyak.

Umpama jumlah perguruan tinggi itu tidak saja dipahami sebagai institusi pendidikan dan pengajaran, tetapi juga tempat berkumpulnya orang-orang cerdik pandai, orang pintar, orang yang mampu menyelesaikan masalah, disebut sebagai pakar, dan semacamnya, maka sebenarnya betapa bangsa ini telah banyak memiliki orang pintar dan atau pakar itu. Umpama saja setiap perguruan tinggi itu memiliki 200 pakar, maka tidak kurang dari 600.000 pemikir yang sehari-hari berada di perguriuan tinggi. Jumlah tersebut, pasti lebih banyak lagi, karena banyak perguruan tinggi yang memiliki dosen hingga ribuan.

Selain perguruan tinggi umum yang dikelola oleh Menristekdikti, masih ada lagi yang dikelola oleh beberapa kementerian lainnya. Di Kementerian Agama misalnya, jumlah perguruan tinggi yang dikelolanya lebih dari 600 buah, tersebar di seluruh Indonesia. Masing-masing agama telah memiliki perguruan tinggo, baik negeri maupun swasta. Perguruan tinggi yang berstatus negeri di lingkungan kementerian agama, Islam memiliki 55 buah, Hindu 3 buah, Kristen, 8 buah, dan Budha 2 buah. Bisa dibayangkan, berapa jumlah para cerdik pandai dan orang pintar di lingkungan perguruan tinggi yang berbasis agama di maksud, banyak sekali.

Para dosen dan guru besar di kampus-kampus dimaksud sebenarnya tidak saja diharapkan memberi kuliah dan mendidik para mahasiswa, tetapi melalui berbagai kegiatannya juga memberi sumbangan pemikiran untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Para cerdik pandai, pakar, dan para ahli tersebut memiliki keahlian yang bermacam-macam, yaitu ahli pertanian, peternakan, teknik, ekonomi, politik, hukum, adminstrasi, pendidikan, seni, kemasyarakatan, kesehatan, lingkungan, kelautan, dan berbagai macam lainnya. Semua bidang keahlian sudah dimiliki oleh bangsa ini. Mereka sehari-hari berada di kampusnya masing-masing.

Dalam hal mendidik moral, atau apa yang disebut oleh Presiden Joko Widodo sebagai Revolusi Mental, perguruan tinggi berbasis agama yang berjumlah ratusan itu juga merupakan poteansi untuk mengimplementasikannya. Jumlah tersebut belum ditambah dengan pondok pesantren, sekolah minggu, pasraman, seminari, dan lain-lain. Oleh karena itu, sebenarnya, bangsa ini sudah tidak lagi pantas disebut kekurangan pemikir. Para pejabat pemerintah, baik di kalangan eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, bisa saja memanfaatkan tenaga-tenaga cerdik dan ahli yang sudah dimilikinya tersebut. Kiranya tidak perlu, para anggota legislatif atau siapapun, sekedar untuk mengetahui hal-hal sederhana harus pergi ke luar negeri berstudi banding, sebelum mencoba bertanya kepada perguruan tinggi yang sudah dimilikinya sendiri.

Mengingat dan merenungkan terhadap betapa besar jumlah para ahli atau pakar yang bergelar Doktor, Profesor, Master, yang ada di negeri ini, sebenarnya sulit dirasionalkan ketika bangsa ini masih import kedelai, beras, daging, gula dan bahkan garam. Juga terasa aneh jika di negeri ini seolah-olah tidak memiliki ahli ekonomi, politik, hukum, sosial, dan bahkan agama, sehingga keadaan berbagai bidang tersebut tidak segera semakin membaik. Umpama saja bangsa ini tidak memiliki ahli di bidang manajemen, ekonomi, politik, keuangan, dan sejenisnya maka wajar ketika masyarakatnya masih mengalami kesenjangan, kemiskinan, keterbelakangan, dan seterusnya. Sebaliknya, menjadi aneh, di tengah-tengah orang pintar, tetapi berbagai persoalan sosial semakin rumit dan pelik, sehingga sulit diselesaikan.

Umpama saja kita berani mengatakan bahwa persoalan kehidupan ini tidak akan berhasil diselesaikan oleh orang-orang pintar, cerdik pandai, para pakar yang berada di kampus-kampus, lalu sebenarnya siapa yang akan mampu menyelesaikannya. Lebih jauh lagi, jika semakin banyaknya perguruan tinggi, tetapi ternyata persoalan kehidupan ini juga semakin banyak, komplek, dan tidak terselesaikan, maka pertanyaan mendasar yang boleh dikemukakan adalah untuk apa sebenarnya lembaga pendidikan tinggi yang selama ini dipercaya dan dibanggakan itu. Jawaban sederhana yang mungkin bisa diberikan, adalah bahwa orang-orang yang disebut pakar, ahli, dan cerdik pandai itu sebenarnya belum diberi peluang memberikan karya-karyanya secara maksimal. Hal yang sama sekali tidak dibolehkan adalah, apabila kepintaran yang dimilikinya oleh mereka itu hanya bersifat semu, seolah-olah, atau seakan-akan. Tentu, tidak begitu. Namun kita semua perlu memikirkan secara sungguh-sungguh, agar cita-cita bangsa yang agung dan mulia, yaitu adil, makmur, dan sejahtera tidak sekedar harapan dan atau kayalan, tetapi benar-benar bisa diraih.

Namun hal yang perlu direnungkan adalah, umpama kita mau mempelajari sejarah kemanusiaan, maka akan memperoleh kesimpulan bahwa untuk menyelesaikan persoalan kehidupan secara sempurna, dan utuh, tidak cukup mengandalkan pada orang cerdik dan pandai. Dalam sejarahnya, untuk memperbaiki masyarakat, Tuhan mengutus para Nabi dan Rasul. Sementara itu, menurut keyakinan Islam, Nabi dan Rasul sudah sampai pada yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad. Tidak akan ada lagi nabi baru, sekalipun akhlak, budi pekerti, dan perilaku manusia semakin merosot. Setelah ditinggal oleh Nabi Muhammad, umat manusia, ======khususnya yang mempercayai Islam, diberi dua pusaka yang seharusnya dijadikan sebagai pegangan hidup, yaitu al Qur'an dan Sunnah Nabi. Manakala, dua pusaka itu benar-benar dipedomani, maka keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, dan kualitas manusia akan berhasil diraih. Persoalannya, dua pusaka dimaksud terasa justru semakin ditinggalkan. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up