Semua orang memandang bahwa pendidikan adalah penting. Tanpa pendidikan, bangsa ini ke depan akan tertinggal dari bangsa lain. Bahkan tidak saja ditinggal, tetapi juga diperlakukan semaunya oleh orang pintar. Bangsa yang lemah, bodoh, kekurangan informasi, dan miskin ilmu pengetahuan hanya akan dibodohi oleh bangsa lain. Orang bodoh ketika memiliki sesuatu yang berharga akan direbut oleh orang-orang pintar, dan demikian pula akan terjadi dalam komunitas yang lebih besar. Sebab, tidak semua orang, organisasi, bahkan negara yang tergolong pintar memiliki etika, sopan santun, dan juga mampu menghargai orang lain. Terhadap orang bodoh, orang pintar berpura-pura membantu, padahal mereka justru mengambil keuntungan.
Perilaku orang nakal terhadap anak kecil yang masih bodoh sebenarnya juga dilakukan oleh orang dewasa pintar kepada orang bodoh. Bahkan, kelakuan membodohi orang lain itu bukan saja dilakukan antar individu melainkan juga antar kelompok dan bahkan juga antar negara. Sebagai contoh sederhana, mengetahui anak kecil yang sedang punya uang, orang dewasa yang nakal membujuk agar uangnya boleh ditukar dengan sejumlah lembaran yang lebih banyak dan baru. Padahal nilai uang yang ditawarkan itu lebih sedikkit dibanding milik anak kecil yang bodoh itu.
Apa yang dlakukan oleh orang dewasa nakal terhadap anak kecil tersebut sebenarnya juga dilakukan oleh negara kaya terhadap negara miskin dan tidak pintar. Berdalih membantu, negara kecil dipinjami dana untuk membangun proyek yang dibutuhkan. Akan tetapi dana pinjaman itu diberikan dengan syarat, misalnya semua tenaga ahli dan bahan yang diperlukan untuk proyek dimaksud harus diambil dari negara yang memberikan pinjaman itu. Akhirnya, biaya proyek itu menjadi sangat mahal dan pihak yang dipinjami harus mengembalikan berapapun jumlahnya.
Fenomena pembodohan antar orang, antar golongan, dan bahkan negara selalu terjadi di mana-mana. Oleh karena itu pendidikan di dalam menyelesaikan problem kemanusiaan tidak cukup hanya sebatas menjadikan seseorang semakin pintar. Orang pintar tanpa disempurnakan dengan hati yang baik, justru akan mencelakakan orang lain. Setelah pintar, mereka membodohi orang yang sudah miskin dan bodoh. Orang pintar yang hatinya buruk akan memiliki kekuatan perusak yang semakin dahsyat. Korbannya akan semakin banyak. Itulah sebabnya, pendidikan tidak cukup menjadikan orang semakin pintar, tetapi juga harus benar-benar utuh sehingga mampu menyelesaikan problem kemanusiaan.
Selama ini orang yakin bahwa agar menjadi pintar maka siswa atau mahasiswa harus diajari ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka harus diajari fisika, kimia, biologi, matematika, sosiologi, sejarah, filsafat, bahasa, seni, dan lain-lain. Berbagai jenis ilmu dasar itu diharapkan dapat dikembangkan dalam jenis ilmu yang lebih bersifat terapan, misalnya ilmu pendidikan, ilmu ekonomi, ilmu hukum, teknologi, dan seterusnya. Berbekalkan pengetahuan itu, orang akan menjadi cerdas, terampil, dan atau memiliki sikap professional. Akan tetapi bekal tersebut ternyata belum mampu menyelesaikan problem kehidupan secara mendasar. Buktinya, banyak orang yang cerdas, tetapi juga masih berbuat curang, merugikan orang lain termasuk orang yang bodoh dan lemah.
Hasil pendidikan yang hanya mengedepankan kekuatan akal, setelah mereka menjadi penguasa ternyata tidak sedikit yang korup, tatkala menjadi orang kaya ternyata tidak peduli sesama bahkan juga terhadap orang lemah dan miskin, tatkala menjadi politkus lupa tanggung jawabnya menyampaikan aspirasi rakyat, dan seterusnya. Memang tidak semua demikian, tetapi yang tampak sehari-hari adalah seperti digambarkan itu. Berbekalkan kepintaran yang semula diharapkan agar berhasil menolong orang lemah dan miskin, ternyata tidak sedikit yang justru menambah kesengsaraan mereka. Itulah sebabnya, tidak semua pendidikan mampu menyelesaikan persoalan kemanusiaan.
Memang pendidikan harus menyentuh berbagai aspek secara menyeluruh dan utuh. Ilmu dan teknologi yang dianggap bisa menjadikan orang cerdas, tetapi pada kenyataannya tidak selalu berhasil menyelesaikan persoalan mendasar, yakni memuliakan manusia itu sendiri. Manusia menjadi mulia dan mampu memuliakan orang lain manakala hati, ruh, atau akhlaknya berhasil diperbaiki. Manakala hati atau akhlak manusia berhasil diperbaiki, maka semuanya akan menjadi baik. Seseorang yang korup, perusak, tidak pernah peduli terhadap orang lain, dan selalu membuat rugi dan celaka lingkungannya adalah disebabkan karena hati dan akhlaknya tidak baik.
Memperbaiki hati dan akhlak tidak cukup lewat proses belajar mengajar atas dasar kuriukulum atau pelajaran di sekolah yang tidak memperhatikan petunjuk dari siapa yang menciptakan manusia itu sendiri. Bagian penting dan mendasar dari manusia adalah ruh. Sedangkan urusan ruh dan perbaikan akhlak bukan berada pada wilayah manusia yang bisa dikarang-karang. Memperbaiki akhlak harus meniru dan mengikuti apa yang dicontohkan Rasul-Nya. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan yang tidak mengikuti petunjuk dan tauladan dimaksud, maka hingga kapan pun hasilnya tidak akan mampu menyelesaikan persoalan kemanusiaan. Sudah sekian lama pendidikan dijalankan, tetapi keadaan bukan semakin membaik, tetapi sebaliknya justru melahirkan problem kemanusian yang semakin rumit, pelik, dan sulit diselesaikan. Wallahu a'lam



